•°°°°°•
Ruangan luas dengan pendingin ruangan yang terlihat sebanyak 3 itu membuat siapa saja yang masuk ke dalamnya seakan mendapatkan sihir untuk segera bergidik dan membangunkan bulu kuduknya. Terlalu dingin, entah itu ruangan maupun hawanya.
Ditambah dengan tatapan para guru setiap kali ada murid yang masuk, membuat siapa saja rasa-rasanya ogah untuk masuk dan datang ke sana.
Tapi bak sudah langganan, Jungkook yang masih lemas dan berada di rengkuhan Sunwoo itu malah berjalan cukup santai ke salah satu sofa yang memang disediakan bagi murid yang bermasalah. Dirinya sudah lemas dan ingin segera duduk. Masa bodo dengan kata permisi atau harus menunggu titah terlebih dahulu untuk duduk.
Jika beberapa murid merasa malas untuk datang ke ruangan yang disebut ruang bimbingan konseling tersebut, maka ada pula gerutuan hati guru yang selalu malas jika harus melihat wajah-wajah murid yang dirasa bosan karena terlalu sering untuk datang kesana.
Jungkook dan Sunwoo yang sudah duduk di sofa itu lantas melirik Mingyu dan Jaehyun yang masih berdiri di sebrang meja yang berada di hadapannya.
Kedua teman Mingyu berhasil lari setelah mendengar suara guru yang datang, membuat hanya tersisa mereka berdua saat aksi pencidukan.
"Kalian, duduk."
Setelah mendengar titah dari guru yang barusan membawa mereka ke tempat menyebalkan ini, barulah Mingyu dan Jaehyun duduk, berhadap-hadapan dengan Jungkook dan Sunwoo.
Wanita berjilbab dengan pakaian dinasnya yang dirasa Jungkook belum terlalu tua itu beranjak mengambil sebuah map berwarna merah dari mejanya. Lantas kembali duduk pada kursi lipas yang dirinya sendiri bawa karena melihat sofa yang sudah tidak muat.
Beliau menghela napas sebelum membuka map merah yang berada di pangkuannya.
"Kasus pertama setelah satu bulan tidak berulah, Jungkook, saya harus sebut ini progres baik atau buruk?"
Bu Mela, guru BK itu berkata sembari melirik Jungkook yang duduk santai dengan punggungnya yang ia sandarkan pada sofa. Merasa dilirik dengan tatapan yang begitu tajam, lantas Jungkook berdehem, menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan duduk dengan sedikit lebih tegap.
Bu Mela kembali menghela napasnya, "Kamu Sunwoo, anak kelas 10, tercatat sudah 5 kali kamu mendapat peringatan. Bahkan satu semester baru selesai beberapa minggu yang lalu dan kamu sudah berulah sebegini banyak?"
Gantian Sunwoo yang ditegur. Tapi bocah berbibir dower dengan nama Sunwoo itu memang tidak tahu malu, bukannya menunduk atau merasa bersalah, dia malah mengembangkan senyum anehnya dan menampilkan giginya, "Hehe, gak apa-apa atuh, bu. 'kan ibu jadi gak usah kangen sama saya."
Sialan, Jungkook ingin menggebug kepala Sunwoo saat ini juga.
"Jangan bercanda, Sunwoo. Kamu bisa mendapat skros kalau terus seperti ini."
"Yahh.. Jangan dong bu, nanti kalau saya di skros cara bisa ketemu ibunya gimana?" ucapnya dengan wajah yang ia buat seimut mungkin, mata yang dikedip-kedipkan dengan bibir yang dimanyunkan serta kedua jari telunjuknya yang bertaut di depan dada.
"Terserah. Cape saya sama kamu." Bu Mela memutus pandang pada anak didiknya yang aneh itu, lantas melihat Mingyu dan Jaehyun yang duduk dengan tegap namun pandangan yang mereka buang ke arah sepatu. Bertingkah sopan.
"Mingyu, Jaehyun catatan kalian tentang memalak adik kelas minggu lalu saja masih belum selesai masa hukumannya, dan sekarang malah membuat masalah baru?"
Bu Mela melempar map merah pada meja. Beberapa data siswa yang bermasalah tercatat dengan rapih disana.
"Jadi, apa masalahnya?" tanya Bu Mela dengan menyilangkan kaki dan melirik satu persatu keempat siswa kesayangannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Distress.
Teen FictionJungkook Asandra Pradana, pria tengil yang gemar sekali cari masalah. Katanya, masalah dan hidupnya adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Tapi, tak ada satupun manusia yang memang diciptakan sempurna. Begitupun dengan pria yang bernama...