•°°°°°•
Pagi sabtu yang kembali tenang, terdengar suara gemericik air dari balik jendela. Hujan ringan turun menghiasi langit pagi ini. Menciptakan udara yang semakin dingin menusuk ke tulang.
Hal lumrah yang dilakukan orang lain ketika merasa dingin adalah mengeratkan selimutnya kembali, memilih untuk menggulung dirinya dengan selimut tebal dan kembali merajut kisah indah di alam mimpi.
Apalagi ini hari sabtu, hari weekend yang pas untuk terus melanjutkan tidur hingga matahari menyongsong di atas nanti.
Inginnya memang begitu, tapi Jungkook sepertinya malah tengah berusaha sekuat tenaganya untuk bisa membuka mata. Tercipta bulir keringat sebesar biji jagung yang tak lazim di seluruh kening hingga lehernya. Keningnya tampak berkerut dan seluruh tubuhnya bergerak tak nyaman.
Benar-benar tersiksa akan tidurnya dan ingin segera membuka mata.
"Bunda disini..."
"... Tolong Bunda dulu, Koo."
"Tolong Bunda, Koo!"
"KOO!!"
"BUNDA?!!"
Jungkook terbangun bersamaan dengan suaranya yang menggema mengisi ruang kamarnya sendiri. Terengah-engah dan segera mendudukkan tubuhnya.
Mencoba kembali menetralkan deru napasnya sebelum melirik pada jam digital di atas nakas.
Mengusap dadanya sendiri beberapa kali dan memastikan bahwa dirinya sudah kembali tenang. Melihat bajunya yang berwarna biru laut itu basah akan keringat membuatnya berdecak sebal. Lantas bangun dan mengganti pakaian yang berasal dari lemarinya.
Memilih kaos polos dengan warna hitam. Selanjutnya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, menyelesaikan urusan paginya.
Alasan mengapa Jungkook terkadang benci akan malam dan harus melakukan kewajiban tidurnya adalah karena mimpi buruk yang selalu saja berkunjung. Mengusik harinya yang sudah penat dan berniat untuk mengistirahatkan tubuh.
Mungkin Jungkook memang ditakdirkan tidak boleh merasa tenang. Sampai kapanpun.
Sampai jam tidurnya saja harus diusik dan membuat semuanya berantakan.
Jungkook keluar dari kamar mandi dengan poninya yang basah dibagian ujung. Mengibasnya ke belakang dan menyisir rambutnya dengan tangannya sendiri.
Sekali lagi mematuk pada cermin dan melihat sosok dirinya yang sama di dalam sana. Tampak menyedihkan, seperti biasanya.
Mengabaikan beberapa tetes air yang enggan untuk diseka dari wajahnya, Jungkookpun memilih keluar dari kamar. Turun menuju lantai satu dan berniat mengisi perutnya yang lapar. Setidaknya sereal dengan susu cukup untuk pagi ini.
Dari kejauhan dapat Jungkook dengar suara tawa Jimin yang menggelegar, disusul suara Taehyung yang tengah membuat sebuah candaan.
Jungkook mengulas senyum tipis sembari melewati meja makan dimana mereka tengah berada.
Hanya ada Taehyung, Jimin dan Namjoon. Tapi ruang makan hingga dapur bisa berisik sekali hanya dengan mereka.
Jungkook mengambil mangkuk dan gelas kosong, setelahnya duduk di antara ketiga pria yang masih asik tertawa entah karena lelucon yang seperti apa.
"Tumben tuan pangeran jam segini udah bangun?" ucap Namjoon dengan nada menyindirnya sembari menyenggol pelan lengan Jungkook.
"Hari sabtu lagi." Jimin ikut berbicara, lalu disusul Taehyung, "Ini kejadian serem, lebih serem daripada harus ulangan MTK dadakan."

KAMU SEDANG MEMBACA
Distress.
Teen FictionJungkook Asandra Pradana, pria tengil yang gemar sekali cari masalah. Katanya, masalah dan hidupnya adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Tapi, tak ada satupun manusia yang memang diciptakan sempurna. Begitupun dengan pria yang bernama...