Well keesokan harinya Minji yang ganteng telah berubah menjadi Minji yang cupu dan jelek.
Ia melangkah dan memasang wajah bodoh serta memberikan senyuman konyol membuat para murid menatapnya geli dan jijik.
Ah tidak juga karena Bu Jihyo memandangnya berbinar dan membalas senyumannya, dia orang pertama yang tau akan kegantengan Minji lalu Lucy orang kedua.
"Selamat pagi bu Jihyo."
"Pagi Minji!" Teriaknya senang membuat para murid geleng-geleng kepala dengan kerutan dahi yang dalam.
Mereka merasa heran saja karena guru itu entah kenapa sangat senang melihat kehadiran Minji.
"Hehehe semangat sekali bu."
"Semangat dong ka- ups." Sadar kalau dia hampir kelepasan, Bu Jihyo langsung membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan dan memandang keseluruh lorong, Minji terkekeh kecil melihatnya.
Namun ia tiba-tiba mendekat membuat mata Bu Jihyo melotot terkejut dan melangkah mundur, kepalanya mendongak memandang mata coklat Minji dari balik kacamata.
Wajah itu mendekat membuat ia salah tingkah, kedua tangannya jatuh terkulai di kedua sisi tubuh.
"Woi woi si cupu mau cipok Bu Jihyo!"
Pletak!
"Omonganlu anjir." Minji tersenyum tipis mendengar ucapan tadi, wajahnya terus maju sehingga melewati wajah dan berhenti ditelinga Bu Jihyo.
"Anu.. ibu tau dimana keberadaan Lucy?" Bu Jihyo langsung tersenyum kecut mendengar pertanyaan Minji dan menoleh bertemu pandang lagi dengan mata coklat Minji.
"Ada dirumah pohon belakang sekolah." Dengan begitu Minji menarik wajahnya dan tersenyum lebar, ia langsung berlari ke belakang sekolah dan meninggalkan Bu Jihyo yang menghela nafas melihatnya.
Ia tersenyum dan berbalik namun..
Senyumannya pudar, matanya melotot seketika dan berbalik cepat menatap kemana perginya Minji.
"Tadi saya bilang rumah pohon kan? Astaga.. saya begitu bodoh."
Minji terus berlari menuju belakang sekolah diiringi senyuman dan senyuman itu sama sekali tidak enak dipandang karena gigi tonggos palsu tersebut membuatnya jadi konyol.
Berbelok dan akhirnya dia sampai belakang sekolah, berhenti sejenak untuk mengatur nafas dan senyumannya tidak luntur sama sekali.
Malah makin melebar disaat melihat Lucy turun dari rumah pohon itu.
"Lucy!" Teriaknya sambil mengangkat tangan kanan dan melambai, ia terkekeh kecil disaat melihat Lucy hampir terpleset di anak tangga terakhir.
Lucy segera menoleh kesana dan membalas senyuman Minji, ia melompat kecil ke tanah dan melangkah cepat menuju Minji sebelum anak itu kesini dan naik keatas, sangat bahaya kalau Minji tau dia sudah mempunyai anak.
"Bagaimana luka di lengan dan kakimu?" Tanyanya setiba dihadapan Minji.
"Luka? Perasaan tidak ada deh." Lucy mendengus kecil mendengar ucapan Minji, ia mengangkat tangan kiri menuju lengan kiri Minji, memegang ujung bajunya lalu menarik sampai ke siku dan menunjukkan luka sayatan panjang yang sudah dijahit kembali ternyata.
"Ini apa kalau bukan luka."
"Eoh itu sebagai pengingat."
"Pengingat?" Kernyitan dahi muncul seketika mendengar ucapan itu, Lucy menurunkan lengan itu tapi tidak melepasnya.
"Yap pengingat. Pengingat untuk selalu mengingatmu disaat menatap luka ini." Ucapnya dan ucapan itu berhasil membuat Lucy diam dengan kedua pipinya memanas.
"Btw pulang sekolah nanti bareng denganku ya?"
.
.
.
.
.
.
.
"Tu wajah sudah jelek, makin jelek lu manyun-manyun gitu." Ucap Alex yang duduk didepannya sambil meletakkan makanan di meja, Minji menarik bibir manyunnya dan memandang kesal Alex.
"Apa? Mau bakwan?" Alex yang tidak menangkap tatapan tajam itu malah mengalihkannya ke bakwan buatan Rachel yang berada di pinggir piring.
"Gak." Jawabnya ketus dan menopang pipi kanan lalu kembali memanyungkan bibir, Alex yang melihat itu terkekeh geli dan mengambil bakwan lalu memakannya khidmat.
Sangat khidmat karena ini buatan orang yang disukainya.
Ia memandang Minji lagi sambil mengunyah bakwan.
"Ada apa?" Tanyanya setelah menelan makanan, Minji menaikkan alis kirinya sebagai jawaban Alex, sebenarnya anak itu bingung karena Alex tiba-tiba duduk didepannya dan mengajaknya berbicara, padahal bisa dilihat seluruh murid tidak ada yang ingin duduk semeja dengannya.
"Gua bertanya, kenapa tidak dijawab?" Kembali mengigit ujung bakwan dan mengunyahnya pelan, Minji menarik wajahnya dari topangan tangan dan menggeleng lagi sebagai jawaban, tapi Alex tidak puas dengan gelengan itu, ia melempar bekas bakwan dan mengenai ujung kacamata Minji.
Anak itu langsung melotot marah dan melepas kacamatanya, tentu perbuatannya itu membuat Alex diam memandang lekat mata coklat Minji.
"Kek pernah lihat."
"Apanya?" Tanya Minji yang terlihat fokus membersihkan kacamatanya.
"Mata coklat itu, mirip dengan cowok yang kemarin." Ucap Alex yang membuat kedua tangan itu berhenti, Minji menghela nafas karena sadar dengan perbuatannya sendiri, Alex ternyata ada di tempat kejadian kemarin disaat Minji menghajar telak Razka.
"Co-cowok yang mana?" Tanyanya sebagai pengalihan dan memasang cepat kacamata lalu memasang wajah konyol.
Alex sontak merasakan geli memandang wajah Minji, ia meraih es teh dan meminumnya dulu sebelum menjawab pertanyaan Minji.
"Cowok yang itu.. yang ngehajar Razka, dia keren menurut gua." Ucapnya dan Minji tersenyum menang dalam hati, kalau saja dia tidak sedang melakukan penyamaran mungkin dia sudah bersorak senang sambil berselebriti konyol.
Namun itu hanya bisa dilakukan dalam benaknya dan mengangguk dengan bibir membentuk huruf O.
"Ooooo."
"Dih, trus kenapa tu bibir manyun-manyun." Alex kembali ke pertanyaan awalnya.
"Itu karena Lucy tidak mau pulang bareng denganku."
"Uhuk!"
"Bwuahahaha mampus keselek es teh." Bukannya menolong Alex ia malah menertawai anak itu sambil menunjuk, Alex hanya diam dan mengusap bibirnya.
"Gimana gak nolak, orang dia tinggal didalam sekolah, lebih tepatnya rumah pohon." Batin Alex dan memandang Minji yang masih menertawainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Young Mother ✅
De Todo"Cupu." "Sampah." "Mencemarkan pandangan woi!" Ya setidaknya itulah setiap kata yang kuterima semenjak merubah penampilan menjadi cupu. "Cocok lah disandingkan sama dia, sama-sama sampah." Aku hanya terkekeh sinis dalam hati dan memandang sosok...
