19.

17 5 0
                                        

Sevila hampir saja memekik saat mendapati seseorang menjegalnya di ambang pintu. Sevila baru selesai piket kelas sendirian karena tadi teman-temannya sudah duluan dan Sevila pergi ke toilet sebentar.

Sevila membuka mata perlahan. Dia hampir memekik kedua kali sebelum menutup mulutnya sendiri. Septian berdiri di hadapannya dengan senyuman lebar.

"Kakak ngapain di sini?" Tanya Sevila.

Septian tidak langsung menjawab. Dia merogoh saku bajunya, kemudian menyerahkan dua lembar tiket nonton di hadapan Sevila.

"Gue mau ngajak lo nonton. Mau?"

Sevila menganga tidak percaya. Ini pertama kalinya dia diajak nonton oleh laki-laki selain Papanya.

"Kapan?"

"Malam Minggu ini."

Sevila menimang-nimang, dia memang tidak ada janji dengan siapa pun untuk pergi di malam Minggu ini. Tapi ... Masalahnya adalah, malam Minggu. Sevila tidak pernah keluar malam-malam bersama cowok. Biasanya dia pergi malam juga karena darurat, saat kerja kelompok misalnya. Itu pun ramean.

"Aku mau sih, Kak. Tapi ...,"

"Nanti gue yang izin ke orang tua lo, deh."

"Eh, jangan-jangan, Kak!"

Septian menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? Bukannya lebih baik gitu, ya. Kan gue yang ngajak lo pergi. Gue harus gentle minta izin ke orang tua lo."

"Tapi ... Sebenernya aku nggak dibolehin dulu pacaran sama Papa." Lirih Sevila.

Septian terkekeh. "Ini kan cuma nonton, bukan pacaran, Sevila." Gemas Septian.

"Sama aja, Kak. Jalan bareng cowok aja udah menunjukkan kalau mau ke arah pacaran!"

Septian terdiam. Dia tidak menyangka ternyata masih ada hambatan lain dari hubungannya dengan Sevila. Ia kira Sevila oke saja di ajak jalan berdua.

"Jadi, nggak bisa?"

Sevila mengesah. Dia jadi tidak enak sendiri. Bukan maksud menolak. Tapi dia juga bingung. Dia hanya tidak mau Septian kena wejangan panjang lebar dari Papanya saat meminta izin malam Minggu nanti. Bisa-bisa bukannya jadi pergi, mereka malah batal pergi dan kemungkinan Septian jadi urung mendekati Sevila lagi.

Arghhh. Jangan sampai.

"Gimana kalau aku pikirin dulu. Nanti malam aku kasih Kakak jawabannya?"

Septian mengangguk dan tersenyum tipis. "Oke. Tapi tiketnya disimpen di lo dulu aja."

Septian menyerahkan tiketnya, kemudian diambil oleh Sevila. "Kakak berdoa aja supaya kita bisa nonton."

Septian terkekeh. Dia mengacak pelan puncak rambut Sevila. "Santai aja kali. Kalau pun nggak bisa Minggu ini, masih banyak hari lain. Gue respek banget sama bokap lo yang ngelarang lo buat pacaran dulu."

Sevila menaikkan sebelah alisnya. Dia bingung dengan cara berpikir Septian. Apa sebenarnya cowok itu sudah tak mau lagi pacaran dengan Sevila. Dan pasti dia sedang ingin mengincar cewek lain. Pasti.

Biasa, pikiran buruk cewek!

"Soalnya, pacaran itu kan nggak penting. Yang penting itu belajar kalo buat anak sekolah."

Tuh, kan. Septian saja mengatakan hal itu. Dia pasti sudah tak ingin lagi dengan Sevila.

Septian menyunggingkan senyum lebar. "Dan buat gue, yang terpenting itu komitmen. Nggak perlu status, kalau hati lo udah pasti ada di gue."

Sevila tersenyum malu-malu. Ahh, ternyata dia salah berprasangka. Sepertinya Septian masih mau dengannya.

Sevila memang labil. Padahal belum juga hubungan mereka jauh.

Story of September [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang