Andra—pacar Naira, menghentikan mobilnya di depan pom bensin. Sevila sedikit mengernyit ketika mobilnya tak kunjung masuk untuk mengisi bensin. Lantas, untuk apa dia berhenti?
Tokk.. tokk...
Sevila sedikit terkejut ketika kaca jendela di sampingnya diketuk seseorang. Saat melihat wajah Septian, Sevila tersenyum.
Kebetulan, Septian juga baru sampai di tempat itu. Tadi sebelum pergi, dia sempat menjadi budak Febriana terlebih dahulu.
Biasa, derita seorang adik.
"Turun gih, bareng sama cowok lo aja." Usir Andra. Sevila tahu dia hanya bercanda, tapi rasanya tak enak juga.
Sevila mengangguk, kemudian membuka pintu dan turun dari mobilnya. Naira membuka jendela, dilongokan kepalanya keluar. "Have fun ya kalian. Gue sama Andra beda mal, sih. Nanti kabar-kabarin aja kalau butuh sesuatu."
"Ok. Thank ya, Nai." Seru Septian.
"Sip!" Naira menutup jendela, kemudian mobil itu melaju meninggalkan pelataran pom bensin.
Sevila dibuat gugup berduaan dengan Septian di sana.
"Gue pake motor, gapapa?" Tanya Septian.
"Gapapa lah, Kak. Lagipula aku juga pakai jeans."
"Kenapa emang kalau pakai jeans?"
"Kalau pakai dress, baru aku keberatan. Nanti terbang-terbang." Jawaban lucu dari Sevila membuat Septian gemas sendiri. Dia refleks mencubit kedua pipi Sevila.
"Yuk."
Mereka berjalan menuju motor ninja Septian diparkir. Tak lama, keduanya sudah berada di atas motor dan Septian segera menarik gasnya.
***
Setelah sampai di mal dan sudah membeli pop corn serta soda khas orang nonton bioskop, keduanya menunggu di luar studio.
"Gue cupu banget ya." Ucap Septian.
Entah kenapa, mendengarnya Sevila tidak suka. Meskipun kenyataannya memang iya.
"Seharusnya gue gentle aja sih langsung datangin bokap lo."
"Gapapa kok, Kak. Ini kan aku yang mau."
"Iya, sih. Kapan-kapan biar gue datang langsung ya."
"Lihat situasi aja, Kak. Aku cuma takutnya Papa bener-bener ngelarang sampai kita disuruh jauhan."
"Percaya sama gue, nggak akan!" Tegas Septian meyakinkan.
Sevila dibuat tenang. Dia mengangguk, kemudian tersenyum. Lama-lama bersama Septian ternyata menyenangkan. Sevila kadang dibuat gugup, tapi dia dengan mudah bisa menyesuaikan. Seperti bersama dengan orang yang melihat kita apa adanya.
Septian benar-benar cowok yang baik. Jika cowok lain yang dari awal sudah tidak mendapat lampu hijau, pasti akan langsung mundur. Tapi Septian benar-benar punya tekad untuk serius.
Tak lama, suara pemberitahuan jika studio sudah dibuka menggema. Berbondong-bondong penonton masuk. Septian menggenggam tangan Sevila, mengajaknya untuk masuk dan berdiri di belakangnya agar tak tersenggol orang lain.
Setelah menemukan tempat duduknya, Sevila mulai merasa tegang. Padahal mereka tidak sedang akan menonton film horor, tapi rasanya tetap menegangkan. Perlahan, lampu studio mulai dimatikan. Dan ini jadi pengalaman pertama Sevila nonton bioskop berdua dengan teman cowoknya. Biasanya, dia menonton bersama dengan Mama Papa, atau dengan teman satu gengnya waktu di SMP yang berjumlah hingga 7 orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Story of September [end]
Teen FictionSeptian lahir pada awal bulan September, begitupun dengan Sevila. Keduanya memiliki nama yang hampir sama. Septian dan Sevila sama-sama bodoh dalam dunia per-bucinan. Keduanya bertemu tanpa sengaja, menjalin ikatan batin dan mengulas hari dengan pen...
![Story of September [end]](https://img.wattpad.com/cover/284202700-64-k878423.jpg)