Pertengahan bulan September, tepatnya di hari Sabtu, waktu ekskul di SMA Gerhana Bulan. Seperti biasa, Septian akan pergi untuk mengikuti ekskul Karatenya. Seperti de javu, setelah kembali dari toilet untuk ganti pakaian, Septian melihat di pinggir lapang tengah berkumpul anak-anak Bahasa.
Rasanya seperti sudah mengenal berbulan-bulan, tapi kenyataannya baru sekitar 2 minggu dia mengenal Sevila. Dan, gadis itu sudah berhasil memporak-porandakan hatinya habis-habisan.
Katakanlah Septian pengecut karena belum juga memulai komunikasi kembali dengan Sevila. Dia mendiamkan gadis itu beberapa hari ini. Tepatnya, melihat situasi. Jika Sevila memberikan kode lagi, Septian akan maju. Tapi jika terlihat Sevila diam saja, mungkin memang bukan dirinya yang dimaksud dalam Snap WhatsApp tempo hari.
Namun, semalam, Sevila mengunggah quotes di Instastorynya,
I'll wait for u, until I get an answer
Septian menebak-nebak. Sekali lagi dia memposisikan diri sebagai si percaya diri. Quotes itu untuknya. Sevila tengah menunggu kelanjutan mereka. Septian yakin itu.
Siangnya, setelah selesai Karate, Septian buru-buru ganti baju. Ketika melewati lapang, anak-anak Bahasa sudah tidak nampak.
Apa Sevila sudah pulang?
***
Sevila tengah bersama Naira di sebuah kafe dekat sekolah. Mumpung lagi berdua, Sevila menerima ajakan Naira untuk hang out bersama. Jarang-jarang juga dia bisa pergi bersama teman hanya berdua. Biasanya, Femi dan Renata akan banyak alasan untuk susah pergi karena mereka sama-sama punya adik bayi.
Sevila menyedot susu vanilanya. Sementara Naira memesan satu kopi kapucino. Di tengah mereka, ada dua porsi roti bakar dan satu porsi spageti pesanan Naira. Meski terlihat body goal, ternyata Naira banyak makan.
"Kabar kedekatan lo sama Septian gimana sekarang?" Tanya Naira tiba-tiba.
Sevila tersedak susu vanilanya. Dia menatap Naira ragu. "Aku nggak dekat sama Kak Septian, kok."
"Sev," Naira menepuk tangan Sevila, menatapnya dalam, "gue pernah bilang kan mau bantuin. Lo percaya aja, bilang sama gue lo butuh apa? Gue usahain."
Sevila menggeleng. Dia sudah hampir putus asa dengan Septian. Pasalnya, mereka baru beberapa hari kenal, chatting sebentar, kemudian diam-diamannya lama.
"Lo tapi ada rasa nggak sama dia?"
"Mungkin." Jawab Sevila ragu.
Naira tersenyum. "Lo lucu banget. Baru pertama kali jatuh cinta ya?"
"Kakak jangan gitu deh. Aku nggak jatuh cinta sama Kak Septian."
"Tapi gue tuh lagi usaha. Gue sengaja ceng-cengin lo. Soalnya kalau keseringan dicie-ciein bakal naksir sendiri. Ya kan?"
"Kenapa gitu?"
"Karena ... Gue suka aja sama orang yang kasmaran. Lucu. Lagian dari awal lo nanyain soal Septian aja, gue udah langsung setuju banget. Cocok kalian tuh!" Ujar Naira menggebu-gebu.
Sevila hanya tersenyum kikuk. Benarkah cocok? Sevila juga masih ada sisa harapan. Tapi tergantung bagaimana sikap Septian kedepannya. Jika cowok itu kembali, Sevila akan mengikuti alur. Tapi jika Septian hanya tetap menjadikannya penonton Story di WhatsApp, Sevila akan cosplay tukang parkir.
Mundur alon-alon.
***
Setelah selesai dari kafe, Sevila dan Naira berniat untuk langsung pulang. Tadinya Sevila berharap Naira masih bisa menemaninya untuk sekedar pergi hang out ke mal. Tapi katanya, Naira ada les. Sevila juga dipaksa untuk mengerti. Karena Naira sedang memperjuangkan kehidupannya, dia sedang mengejar SBMPTN untuk masuk kampus favoritnya.
Setelah Naira pergi dengan ojek onlinenya, Sevila memilih untuk duduk sebentar di depan kafe. Sevila men-scroll kontak di ponselnya, barangkali ada yang bisa ia harapkan untuk menjemput di sekolah. Selain Papa, sepertinya tak ada lagi harapan bagi Sevila. Tapi jika meminta Papanya menjemput di jam kerja seperti ini, tidak mungkin juga.
Sevila memilih untuk membuka aplikasi pesan ojek online, namun belum juga terbuka, sebuah pesan masuk dari WhatsAppnya.
Kak Septian : lo dmn?
Sevila menahan senyumnya. Benarkah? Ini Septian kembali memberi pesan padanya. Tanpa basa-basi pula, langsung menanyakan keberadaan Sevila.
Tapi, tunggu sebentar. Kenapa tiba-tiba? Apakah ada hal yang teramat penting?
Di depan kafe Persik Kak
Knp?
Sm siapa?
Sendiri
Gue ke sana ya, mau bicara
Ok.
Sevila membiarkan saja pesannya terbaca tanpa dibalas lagi oleh Septian. Sepertinya cowok itu tengah menuju kemari. Sevila heran, kenapa Septian tiba-tiba ingin menemuinya. Mau bicara katanya? Haha, lucu sekali gaya bicaranya.
Tapi, Sevila teringat, dia kan belum pernah berbincang dengan Septian lagi secara langsung selain yang waktu pertemuan pertama mereka.
Arrgghh. Kira-kira bakalan canggung tidak ya?
Sevila memilin jari-jarinya. Harap-harap cemas dengan kedatangan Septian. Sevila takut gugup dan nanti salah bicara. Aduh, Sevila harus berbuat apa?
Terlihat, sebuah motor memasuki kawasan parkir kafe Persik. Sevila refleks berdiri. Saat pengemudi tersebut membuka helmnya, napas Sevila terasa direnggut paksa.
Oh, tidaaak!
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Story of September [end]
Teen FictionSeptian lahir pada awal bulan September, begitupun dengan Sevila. Keduanya memiliki nama yang hampir sama. Septian dan Sevila sama-sama bodoh dalam dunia per-bucinan. Keduanya bertemu tanpa sengaja, menjalin ikatan batin dan mengulas hari dengan pen...
![Story of September [end]](https://img.wattpad.com/cover/284202700-64-k878423.jpg)