24.

15 5 0
                                        

Sevila tengah asyik-asyiknya rebahan sambil mendengarkan musik dari earphone yang tersambung ke ponselnya malam itu. Tiba-tiba saja, pintu kamarnya diketuk yang membuat Sevila menggeliat malas dan terpaksa beranjak untuk membukanya.

"Papa?" Heran Sevila. Didapatinya Nugi yang tengah menatap Sevila dari atas sampai ujung.

"Kamu kok belum tidur?" Tanya Nugi.

Sevila semakin mengernyitkan dahinya, "Papa aneh banget, masa ngetuk pintu kamar aku terus tanya aku belum tidur. Kenapa sih, Pah?"

Nugi terkekeh, "iya, Papa rencana mau minta temenin kamu beli martabak. Mau?"

"Kenapa nggak beli sendiri aja sih Pah? Atau sama Mama kek!"

"Mama kamu lagi maskeran tuh di kamarnya."

Sevila berdecak, "Sevila juga lagi me time, Pah."

"Ah kamu, belagak me time-me time. Ayok, anterin Papa beli martabak. Udah lama nggak jalan berdua malam-malam sama anak Papa."

Sevila semakin dibuat bingung dengan kelakuan Papanya yang aneh di malam ini. Dulu, sudah lama sekali, sebelum Nugi selalu sibuk dengan urusan kantor, pria dewasa itu memang suka bertingkah seperti bocah ketika di rumah. Namun sudah lama sekali, kebiasaan itu hilang dan Nugi berubah menjadi sosok Ayah yang normal seperti Ayah-Ayah lainnya. Jarang ada candaan, sekalinya terlibat obrolan, topiknya hanya seputar bisnis dan pendidikan sang anak.

Malam ini, Nugi seperti kembali pada kehidupan lamanya. Entah Sevila harus senang atau sedih. Rasanya aneh, tapi dia juga rindu. Sudah lama dia tidak bermanja-manja karena Nugi terlalu serius.

Sevila akhirnya pasrah mengikuti Nugi untuk membeli martabak kesukaannya di luar. Menaiki mobil Papanya, Sevila duduk di samping kemudi. Sepanjang perjalanan, Papanya sibuk menelepon seseorang. Sevila hanya mengesah panjang, Papanya sangat labil. Tadi merengek, sekarang kembali biasa saja.

Aneh!

Sesampainya di kedai martabak, Sevila langsung saja memesan martabak cokelat kesukaannya. Sementara Papanya memesan martabak keju kesukaan dirinya dan sang istri.

Sembari menunggu dibuatkan, Sevila duduk di salah satu bangku kayu yang tersedia. Tak lama, seorang pria paruh baya datang dan menghampiri Papanya.

Sevila hanya mendengarkan sekilas, sampai akhirnya Nugi memberi tahu,

"Sevila, kenalkan ini Om Arya, teman Papa yang anaknya diterima di Univ luar negeri itu."

Sevila tersenyum, kemudian menyalimi Om Arya dengan hormat.

"Anakku masih kelas sepuluh SMA, masih lama dia buat persiapan masuk Universitas. Tapi aku berencana mau buat dia fokus, biar keterima juga di Univ luar negeri kayak anakmu."

"Wah, bagus itu, Nug. Sevila, kamu harus fokus belajar. Mempertahankan nilai, itu penting!" Saran Om Arya. Sevila hanya manggut-manggut.

Nugi mengeluarkan selembar uang dari dompetnya, diserahkan pada Sevila.

"Papa mau ngobrol dulu sebentar sama Om Arya di warkop, kamu tungguin martabaknya ya."

"Iya, Pah."

Sepeninggal Nugi dan Arya, Sevila memilih untuk bermain ponsel. Kebetulan, kedai martabak tengah ramai di malam itu, jadi pesanannya belum dibuatkan.

Sambil menunggu, Sevila membuka akun Instagramnya. Dia melihat foto-foto unggahan teman-temannya, kemudian sampai di foto yang diunggah oleh akun Septian. Foto langit yang biru, namun separuh diujungnya terlihat mendung. Caption yang tertulis,

Tidak melulu langit ini indah, ada kalanya dia jadi pemurung karena masalah

Sevila melewatkan untuk memberi like pada foto itu. Dia sedikit tersenyum sinis. Bisa-bisanya Septian mengunggah foto di Instagram, tapi dia tak kembali memberi kabar padanya.

Padahal besok mereka akan pergi, tapi Septian seolah-olah tak merasa jika Sevila tengah menjauhinya.

Biarkan saja. Sevila tidak ingin pergi dengan lelaki seperti Septian. Lelaki yang tak mau jujur.

***

Sevila mengambil bungkusan martabak pesanannya. Setelah membayar dan menerima kembalian, dia keluar dari kedai. Dipandangnya sekitar kedai martabak, mencari warkop yang disinggahi oleh Papanya. Namun, Sevila tak melihat plang bernama warkop di sana.

Sevila mengeluarkan ponsel, hendak menelepon Papanya. Seseorang menepuk pundak Sevila, sedikit membuatnya terkejut.

"Sevila ya?"

Sevila mengernyit. Ia kira orang yang kenal, ternyata bukan. "I-iya," jawab Sevila ragu.

"Gue Lea." Ujarnya.

Sevila memicingkan mata, berusaha menelisik orang di hadapannya yang sedikit buram karena penerangan malam yang kurang.

Sevila mencoba mengingat-ngingat wajah di hadapannya. Sampai akhirnya ia menemukan wajah itu dalam ingatannya. Seorang gadis yang tempo hari bersama dengan Septian di mal.

Ya. Benar. Gadis itu yang mesra-mesraan dengan Septian di mal.

Cih. Sevila benar-benar muak melihatnya.

"Hei." Lea mengibaskan tangannya di depan wajah Sevila, gadis itu mundur selangkah.

"Sorry sebelumnya. Lo belum kenal gue ya?" Tanya Lea.

Sevila menggeleng, "bilang aja, kamu pasti pacarnya Septian." Ujar Sevila dalam hati.

Di luar perkiraan Sevila, Lea menjulurkan tangan kanannya, "gue Azalea, panggil Lea aja. Temennya Septian. Dia kalah cepet sama gue, katanya mau ngenalin lo ke gue. Eh, ternyata kita udah duluan ketemu di sini."

Sevila menautkan alis. "Maksudnya?"

"Septian baru aja cerita soal lo ke gue. Emang ya, kalau kita udah kenal seseorang, pasti gampang ketemunya." Beo Lea.

Sikap bar-barnya Lea keluar, dia menarik lengan Sevila untuk mengikutinya duduk di bangku kayu depan kedai martabak. Tidak peduli, bahkan jika Sevila sebenarnya sangat risih dengan keberadaannya.

"BTW, lo lagi ngapain malam-malam di sini?" Tanya Lea.

Sevila menaikkan bungkus martabaknya. "Abis beli ini, tadi sama Papa aku sih."

"Oh... Lo ternyata lebih cantik aslinya ya daripada di foto."

Entah kenapa, mendengar ucapan yang keluar dari mulut Lea membuat Sevila merinding.

Lea terkekeh, "tenang aja, lo nggak usah berprasangka negatif sama gue. Gue normal kok!" Seperti yang dapat membaca isi pikiran Sevila, Lea sudah meluruskan. Sevila dibuat semakin tak habis pikir. Dia bahkan baru saja mendengar kata "teman" yang keluar dari mulut Lea.

Jadi, gadis ini dan Septian hanya temenan?

Benarkah?

***

Story of September [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang