“Wah, Upin Ipin!”
Aileen duduk di sofa, mepet kepada sang Kakak. Wajah bahagianya terpancar jelas saat menonton kartun si botak kembar itu.
Jangan heran, Aileen dan Aleo memang 11 12. Mencintai beragam kartun, termasuk Upin Ipin ini.
Keluarganya tengah berkumpul di ruang tengah. Dengan Aileen dan Aleo yang sedang menonton kartun di sofa, Alan membaca koran dan Andini yang sedang menyeterika pakaian mereka.
Hal sederhana seperti ini selalu di sukai Aileen. Quality time keluarga yang terasa hangat.
“Dek, udah gede gak usah heboh kayak gitu deh. Lihat Abangmu,” ujar Andini masih fokus dengan kegiatannya.
Abang, Abang dan Abang. Aileen capek mendengarnya.
Walaupun ia sayang kepada Aleo, tapi ia juga benci karena selalu di bandingkan seperti ini. Ya walaupun tidak sering, tetap saja hatinya sakit.
“Jauh-jauh sana. Geli gue deket-deket lo,” usir Aleo saat televisi yang mereka tonton menampilkan iklan. Ah, Aleo kesal sekali.
Aileen mencebik, bibir tipisnya mengerucut lucu. “Jahat!” semprotnya. Namun tak juga berpindah posisi.
“Mending bantuin Mama kamu, Dek. Kasihan tangannya pegal.”
“Oke,” ujar Aileen cepat menyahuti saran sang Ayah.
Aileen turun dari sofa, duduk lesehan di bawah mendekati Ibunya. Berniat membantu, tentu saja.
“Sini, Ma, biar sama Adek. Mama istirahat aja, pasti capek kerja terus dari pagi,” riang Aileen memamerkan deretan gigi putih rapinya.
Baru saja ingin mengambil alih benda elektronik yang menghasilkan panas tersebut, tangannya lebih dulu di tepis oleh Andini.
“Gak usah, kalau kamu yang bantu makin hancur nantinya. Udah ngerjainnya lama, gak rapi lagi.” Andini memang berkata dengan nada lembut, namun kalimatnya menusuk hati Aileen.
Seketika wajah semringah Aileen berubah murung.
Y-yaa iya tahu memang kurang becus dalam hal seperti ini. Andini sering menyuruhnya belajar untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, namun tak pernah memberikannya kesempatan karena semua pekerjaan selalu di babat habis olehnya. Jika seperti ini, kapan Aileen bisanya?
“Yaudah, Aileen ke kamar aja,” putus gadis itu hendak bangkit dari duduknya.
“Nahkan, pikiran kamu emang gak pernah terbuka. Kalau Mama bilang gitu, coba kerjain yang lain kek.”
“Sapu, pel, cuci piring, cuci baju, semuanya udah selesai sama Mama. Adek harus ngerjain apalagi? Sapu aspal? Pel tanah?” dengus Aileen jengah. Ia tahu ini tidak sopan, t-tapi ... ah kalian tahu sendiri.
“Karena dari siang kerjaan kamu cuma di kamar,” serobot Andini cepat.
“Mama gak tahu apa yang Adek alami di sekolah, kan? Ah, di rumah pun gak tahu. Yang Mama tahu cuma nilai-nilai Aileen.”
“Hust! Ngapain sih, berantem? Gak enak. Dek, masuk kamar,” potong sang kepala keluarga, merasa terganggu dengan perdebatan ibu dan anak itu.
“Dari tadi juga Adek mau ke kamar.”
Aileen menaiki tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua, menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Aleo.
Aleo hanya diam, memperhatikan punggung sempit itu yang sebenarnya rapuh namun selalu terlihat baik-baik saja. Sebagai seorang anak, ia mengerti perasaan adiknya. Namun tak bisa berbuat apapun untuk membantunya.
Aileen membanting keras tubuhnya ke atas kasur mini size yang terbalut sprei polkadotnya. Mata jernihnya menerawang ke langit-langit putih kamar dengan sendu.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUKAN Friendzone!
Teen Fiction"Alven! Aileen suka sama Alven!" "Aku gak mau pacaran, Aileen. Kita masih kecil." *** "Kita udah beda SMA. Tunggu aku tiga tahun, ya?" "Emang penantian Aileen selama ini belum cukup, ya?" "Belum. Kita masih harus berjuang agar bisa benar-benar bersa...
