"Diam bukan berarti tak peduli, mata dan telingaku masih berfungsi dengan baik. Aku hanya sedang mengamatimu, memberikan kasih sayang tanpa suara." —Aleo Kingby Aldinata
Tepat pukul 02.30 malam, Aleo terbangun persis seperti adiknya. Benar dugaannya, mati lampu.
Ia bergegas merogoh ponsel yang sengaja di letakkan di bawah bantal, menyalakan senter dan keluar menuju kamar sang adik. Tumben sekali, biasanya Aileen akan berteriak menggemparkan seisi rumah karena ketakutannya terhadap gelap, mengapa kali ini tidak.
Hal tersebut memancing rasa penasarannya, ia harus memastikan keajaiban apa yang telah menimpa adiknya itu hingga tidak menghebohkan seisi rumah akibat mati lampu.
Pasalnya, refleks gadis itu terhadap kegelapan sangat kuat. Sepulas apapun tidurnya, jika tiba-tiba gelap maka akan langsung bangun. Terkadang Aleo pun heran sendiri mengingatnya.
Ia membuka pintu kamar Aileen dengan sangat perlahan, berusaha tak menimbulkan suara sedikitpun. Takut-takut bahwa adiknya masih tertidur.
Dan benar saja, saat pintu terbuka sempurna nampak Aileen yang tertidur dengan dengkuran halusnya. Tidak lupa ponsel yang masih menyala di samping surai legamnya, dan dua senter yang menghadap ke atas di meja belajar motif barbie nya.
Aleo tertawa kecil, ternyata gadis itu sempat terbangun.
Pria bertubuh bongsor itu mendekat, bersimpuh di samping kasur berukuran sedang milik Aileen, tidak seperti miliknya yang justru kasur King size. Kemudian tangan kekarnya bergerak untuk mengelus rambut selembut sutra milik Aileen, dan berujar lirih.
“Adik Abang udah gede ya ... gak teriak lagi kalau mati lampu.”
Shit, Aleo tidak tahu saja bahwa Aileen seperti ini karena bantuan Alven.
Tangannya turun pada pipi tembam Aileen, mengusapnya penuh kasih sayang. “Se dingin apapun gue, gak mungkin gak peduli sama lo.”
“Diam bukan berarti gak peduli, mata dan telinga gue masih berfungsi dengan baik. Gue cuma lagi mengamati lo, memberikan kasih sayang tanpa suara.”
“Gue punya cara tersendiri untuk menunjukkan kasih sayang gue ke lo. Adik gue satu-satunya.”
“Dan kalau mikir gue benci sama lo, semua itu salah. Gak ada orang yang gak sayang sama saudaranya sendiri.”
“Terus ... gue udah paham ucapan lo tadi sore. Jangan benci gue karena Mama Papa lebih sayang sama gue, Dek.”
Aleo tersenyum sendu, tak peduli jika kalimat panjang lebarnya tak akan di dengar oleh sang empu. Yang terpenting, ia sudah mengungkapkannya ... walaupun tidak secara langsung.
Sejurus kemudian pria dengan mata hazel yang sama persis dengan Aileen itu mendaratkan kecupan hangat di kening sang gadis. Singkat, namun terasa sangat bermakna. Selanjutnya ia bergegas pergi ke kamarnya untuk kembali tertidur. Sebelum Aileen menyadari kehadirannya.
Aleo salah, Aileen yang masih setengah tersadar itu sedikit tersentak saat merasakan elusan, usapan dan kecupan dari sang Kakak. Kemudian ... menangis dalam diam.
Entah sudah berapa tahun ia tak mendapatkan hal itu dari Aleo. Tidak mendengar kalimat yang sangat panjang dari suara berat yang sudah menjadinya candu. Kakaknya mendadak jadi orang yang dingin sejak menduduki bangku SMP.
Aileen merindukan kejahilan demi kejahilan Aleo yang kini sudah lenyap di telan waktu.
“Bang Leo— hiks ....”
***
“Dek, gak sarapan?”
Suara Alan menginterupsi langkah Aileen yang sudah lengkap dengan seragam sekolahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUKAN Friendzone!
Fiksyen Remaja"Alven! Aileen suka sama Alven!" "Aku gak mau pacaran, Aileen. Kita masih kecil." *** "Kita udah beda SMA. Tunggu aku tiga tahun, ya?" "Emang penantian Aileen selama ini belum cukup, ya?" "Belum. Kita masih harus berjuang agar bisa benar-benar bersa...
