Hyunsuk rupanya tidak pernah belajar. Dia tidak jera meski Jihoon sudah memperingatinya puluhan kali, ribuan kali dengan ancaman sepele sampai mengerikan.
Pria kecil itu terus saja mempublikasikan hak milik Jihoon, mengumbarnya pada seluruh penjuru dunia seolah itu hal wajar untuk dilihat.
Ini sudah benar-benar kelewatan.
Jihoon tidak akan memberi ampun bahkan posisinya sekalipun yang menjadi penghalang.
Karena itu Jihoon kini mengikat Hyunsuk pada dinding kamarnya, memaksa Hyunsuk menghadap pada tembok dengan tangan terikat pada masing-masing pegangan yang sudah Jihoon siapakan.
Dengan netra cantik miliknya tertutup rapat.
"Kau benar-benar menguji kesabaranku." Jihoon mengeluarkan satu cambuk berwarna merah. Ia mengusapkan cambuk itu pada punggung telanjang milik kekasihnya seolah mengatakan bahwa benda itu akan segera menyapanya.
"Jihoon, maafkan aku." tutur Hyunsuk dengan suara bergetar.
"Tidak ada maaf untuk pembangkang sepertimu." kemudian satu pecutan keras mendarat pada bokong polos Hyunsuk, menimbulkan satu guratan merah kontras dengan kulit si cantik.
"Akhh! H-hiks... Maafkan aku." mohon Hyunsuk putus asa.
Sungguh ia tidak berniat membuat Jihoon marah, ia hanya lupa tentang peringatan yang diberikan pria itu.
"Kau menyesal?" Jihoon melempar benda di tangannya, ia kemudian berjongkok dan mengacak-acak kotak kesayangannya.
Mencari benda mana yang selanjutnya akan ia kenakan pada tubuh cantik Hyunsuk.
"Y-ya, aku mohon maafkan aku."
"Aku pernah mendengar kalimat seperti itu sebelumnya." Jihoon mengambil penjepit puting, terkekeh sekilas lalu mengambil ponsel dan menghubungkan remot kontrol benda itu.
"Kupikir kau akan jera atau setidaknya lebih berhati-hati, tapi ternyata tidak sama sekali. Kau sengaja melakukan itu untuk menggodaku atau kau tidak mendengarkanku lagi?"
Jihoon meremas dada Hyunsuk kencang, memijatnya sensual hingga erangan merdu teralun.
"Nghh... Aku tidak—fuck jangan benda itu!" tolak Hyunsuk saat Jihoon memasangkan penjepit puting pada kedua putingnya.
"Nghh... Aku tidak—fuck jangan benda itu!—Ya, katakan itu pada postinganmu." Jihoon menolak peduli,
Ia mengambil ponselnya dan menekan tombol maksimal pada pengaturan remote kontrol untuk penjepit puting, membuat Hyunsuk menjerit sakit bercampur nikmat.
"Akh! A-aw hhh Jihoon ssh!"
Hyunsuk membenturkan kepalanya pelan saat benda sialan itu bergetar semakin cepat di atas dadanya.
"Jihoon aku mohon hhh..."
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" panik Hyunsuk berusaha menjauhkan bokongnya kala ia merasakan sensasi dingin menyapa kerutan lubang analnya.
Itu terasa seperti besi, dengan ujung mirip seperti kepala penis.
"Sst, pelankan suaramu atau salah satu anak kita akan mendengarnya."
"Jihoon, tidak! Aku tidak akan melakukannya lagi, aku mohon jangan benda itu—ahh hu h-hiks!"
"Pembohong tidak dapat ampun." Jihoon langsung mendorong vibrator berukuran sedang itu pada anal Hyunsuk, menanamkan benda itu sampai Hyunsuk berteriak kesakitan.
Wajar saja, ia tidak melakukan peregangan apapun untuk bayi kecilnya.
Lagi-lagi Jihoon terkekeh, ia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, menekan tombol pada ponselnya yang terhubung dengan benda yang masuk pada tubuh Hyunsuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Everything
RandomOneshoot collection of Jihoon x Hyunsuk ↺BxB || Homo || Gay || Yaoi
