Part 40. The True Love

3.5K 600 27
                                    

UPDATE!


Ayo semua merapat! Siapa yang nunggu chapter ini? mana suaranya? 


pliss tolong ya ... persiapkan jantung anda sekalian, karena pria tampan kita, si Carden makin gombal 😝


Oke langsung aja ke cerita, semoga kalian suka dan happy reading 😁😁😁



Vote comment share

follow recommend


Love,

DyahUtamixx


BELUM DI EDIT


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Aeris POV


Mataku terpejam dengan erat dan seluruh tubuhku lemas, tapi aku masih dapat menangkap suara serta merasakan apa yang terjadi di sekelilingku. Aku juga menangkap suara Carden yang memanggil namaku dengan suara panik penuh penyesalan, bahkan aku merasakan ketika tubuhku diangkat dan didekap erat oleh pria itu. Dia mencium bibir dan keningku lalu kembali memanggil-manggil namaku. Tentu aku ingin sekali menjawab panggilannya, tapi tubuhku seperti tidak mau mendengar perintah otakku, rasanya seperti lumpuh, bahkan menggerakkan kelopak mataku saja tidak bisa.

Kemudian hal yang tidak kusangka terjadi. Carden bangkit berdiri, membawaku turut serta digendongannya, setelah itu dia meletakkanku di atas meja yang sebelumnya penuh akan darahku, entah kenapa dia melakukan itu, tapi itu tidak menjadi fokusku saat ini, karena yang menjadi fokusku adalah suara lain selain Carden yang terdengar samar olehku, namun aku dapat menangkap apa yang orang itu ucapkan. "Meja itu bukan menginginkan darah manusia, Yang Mulia. Jika kau paham dengan maksudku, yang dia inginkan hal yang bersifat abadi."

"Apa maksudnya?" Geram Carden murka. Aku tahu dia merasa bersalah melakukan ini padaku dan rasa bersalahnya itu dia lampiaskan pada orang yang menjadi lawan bicaranya. "Jika kau tahu arti dari tali biru pnuh kehidupan yang dapat mengaktifkan meja ini katakan padaku sekarang!" Kemudian aku merasakan kedua tangan besar nan dingin milik Carden menangkup wajahku, kali ini dia berbisik padaku, namun terdengar putus-putus karena keasadaranku yang sepertinya mulai menghilang. "Aeris, maafkan aku ... apa yang harus aku lakukan ... darahku ... ya..." Aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi, tapi tubuhku seketika menegang ketika Carden mencium bibirku dan sebuah cairan masuk ke dalam mulutku.

Glup glup glup.

Aku menelan cairan tersebut dan mengerang pelan. Rasanya sangat tidak asing, dan sepertinya aku pernah merasakan sensasi ketika aku menelan cairan ini. Aku terbatuk-batuk pelan, tapi walaupun begitu Carden tidak melepaskan bibirnya dariku. Dia terus menciumku, memastikan cairan yang kuminum, sudah seluruhnya mengalir di dalam tenggorokanku. Lalu ketika bibirnya terlepas dariku, setetes cairan itu keluar dari bibirku dan mengalir turun ke pipi hingga jatuh ke atas permukaan meja. "Aeris?" panggilnya dengan lembut.

AN RÍ FÍOR BELOVEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang