ABI

1.2K 117 10
                                        

Sore ini ku duduk melihat seseorang yang belum juga tersadar dari tidur panjangnya, sudah dua hari ini memang hari yang berat untuk keluarga om Yudha. Sore ini aku menggantikan Tante Azka yang juga harus istrirahat di rumah  karena menginggat kesehatanya saat ini sedang tidak setabil.

Dua hari yang mungkin cukup untuk diriku ini memikirkan jawaban dari om Yudha, ku berpikir panjang serta berdoa di sholat istiqoroh menambah kejelaskan jawabnku.

Mungkin aku tak tau seberapa abang menyayangiku sebagai adik ataukah lebih. Yah kalian pasti tahu jika aku menyayangi bang abi seperti aku menyayangi abangku sendiri. Aku tau sedari kecil aku selalu membuntutinya di setiap ia melangkah, selalu bersamanya, bermain bersamanya, hingga apapun selalu bersamanya. Namun waktu memisahkan kita hingga akhirnya di pertemukan kembali setelah itu. Aku menemukan Abangku kembali tapi tentu dengan sifat yang berbeda, yaa,,, kalian pasti tau jika seseorang yang sudah tak bertemu di waktu yang lama dan di pertemukan kembali pasti akan terasa cangung, apalagi saat ini melihat abang yang juga sudah dewasa, sama sepertiku. Jika dulu umur kami masih kecil kami sering bercanda tawa tanpa memikirkan apapun dan selalu santai satu sama lain. Namun kini tinggal ke canggungan. Apalagi mendengar pernyataan dari om Yudha waktu itu.

Aku tak tahu jawabanku ini akan menjadikan sakit atau yang sebagainya oleh kedua pihak ini. Tapi ini benar benar dari dalam hatiku tanpa paksaan siapapun.

Beralih dari itu, aku masih melihat wajah polos seorang laki laki yang masih ku anggap seperti kakak kandungku sendiri. Lama kelamaan tak tega aku melihat nya berbaring seperti ini.

"Mbak" panggil Ghefi memegang pundakku

Aku mengusap airmataku yang mulai jatuh.

"Eh, kapan dateng?" Tanyaku memaksa tersenyum

"Baru aja" kata nya singkat

Lalu hening

"Ghefi tahu apa yang ada dalam pikiran mbak sekarang. Memang pilihan yang berat buat mbak, Ghefi juga tau perasaan mbak sekarang gimana. Keluarga Papa nggak mempermasalahkan jika mbak menolak, syukur juga mbak menerima abang. Tapi kembali lagi sama pilihan mbak. Semoga pilihan itu yang terbaik buat mbak, juga abang" kata Ghefi begitu melihat bang Abi yang masih tertidur

"Terimakasih ya Fi, terimakasih atas semua yang ada di diri kamu sama abang selama ini. Mbak selalu menganggap kalian adalah saudara kandung mbak. Terimakasih sudah menerima mbak sebagai teman kamu" ucapku

"Mbak bukan teman Ghefi tapi kakak perempuan Ghefi. Ghefi juga pengen kali punya kakak perempuan, ngga resek kaya abang" "Eh" Ghefi menutup mulutnya

"Hus kamu itu, nanti kalo abangmu denger di tembak lah kau" aku fah Ghefi tertawa. Mencoba untuk tersenyum. Tapi memang begitu susah.

Abang tolong segera bangun ya.... aku ingin menyampaikan sesuatu

Azka POV

Hari ini aku kembali ke rumah  yang sudah lama tak ku singgahi. Rumah uti masih sama tertata rapi dan bersih. Menyinggahi rumah ini untuk istirahat sejenak. Selalu memohon agar Abi segera sadar dari komanya.

Lelah juga letih mengulangi hal yang sama beberapa puluh tahun silam. Mata sembab akibat selalu menangis jika berpikir hal yang negatif

"Sayang minum obatnya dulu" mas Yudha menyodorkan obat dan air di depan ku. Ku menolaknya dengan halus

"Lho ayo di minum nanti kalo kamu sakit abi siapa yang nguatin?" Aku kembali menangis

Menginggat jika aku tak ada lagi di dunia ini, siapa yang akan mengurus anak anak ku

"Dek, kamu nangis?" Tanya mas yudha jongkok di depanku dan mendongkakan wajahnya

"Kok nangis, tenang abi pasti baik baik aja, dia kan kuat" aku memeluk mas Yudha

ABIYUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang