Episode 16

132 17 0
                                        


"Sial, aku terjebak"


Aku mencoba untuk kabur, namun sia-sia. Satu pemuda mulai melepas jaketku. Seketika tubuhku kedinginan, karena aku hanya memakai kaos lengan pendek tipis didalamnya.

Aku berteriak sekencang mungkin, namun baru sebentar mulutku sudah dibekap oleh pemuda satu lagi.

"Tolong lepaskan aku, jebal...", Kataku memohon.

Tapi permohonan ku sungguh tak mampan bagi mereka. Tanganku kembali di sekap oleh mereka, sedangkan satu pemuda sedang mencoba melepas pakaianku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan nya, sampai aku tak sanggup lagi. Kupejamkan matamu, hingga aku mulai menangis.

"To-tolong.. hiks..."



"Brruukkk!"

Suara pukulan entah dari mana. Beberapa suara pukulan kembali terdengar, sampai terdengar suara langkah kaki yang berlari. Aku asumsi kan jika ada seseorang yang menolongku dan memukuli pemuda itu, dan karena itu ketiga pemuda tersebut berlari menjauh dari kami. Akupun masih tak berani membuka mata, sampai sebuah jaket tebal menutupi tubuh ku.

"Nayeon? Kau benar Nayeon?", Tanya si pemuda yang membuatku berani membuka mata. Begitu melihat wajahnya, tubuhku reflek memeluknya. Akupun menangis dengan kencang dalam pelukannya, sementara si pria hanya diam membalas pelukanku.


*****





*Minhyuk POV*

 Akhirnya sebagian beban menghilang. Setidaknya itulah yang kupikirkan. Akhirnya hubunganku dengan orang tuaku membaik. Aku mulai melajukan mobilku menelusuri kota. Tapi tunggu, mengapa aku menuju kemari? Bukankah ini jalan ke apartemen Nayeon? 

"Ah sial apa yang kupikirkan! Sadarlah Minhyuk, mengapa kau menuntunku kesini?", Kataku dalam hati sambil mengacak-acak rambutku. Ku hentikan mobilku di pinggir jalan, cukup sepi menurutku. Aku butuh menenangkan pikiran ku sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.


Saat aku melihat ke seberang sana, samar-samar kulihat seorang wanita sedang dibawa oleh beberapa pria. Semakin kuperhatikan, semakin membuatku curiga.

"Wanita itu ditarik paksa? Ada apa sebenarnya? Tak bisa kubiarkan!", Kataku yang langsung keluar dari mobil dan mencoba mengikuti mereka. 

Secepat kilat, wanita dan pemuda itu menghilang. 

"Kemana perginya mereka?", Kataku prustasi.

Aku kembali mencoba menelusuri jalan, semakin dalam, sampai kudengar sebuah teriakan wanita. Aku yang sigap mulai mencari dari mana asal suara itu. Beruntung aku memiliki indra pendengar yang bagus, tak sulit bagiku menemukannya. Sampailah aku disebuah gang sempit, dan kulihat mereka di ujung gang sana.

Tak berpikir panjang, aku langsung menghampiri pemuda itu dan memberikan tinjuan keras. Saat pemuda lain mencoba menyerangku, aku yang memiliki sedikit ilmu bela diri dengan cepat menghindar dan memukul pemuda lainnya. Pertengkaran tak berlangsung lama, mereka lebih memilih kabur meninggalkanku dengan wanita ini. Awalnya aku ingin mengejar mereka, tapi saat aku melihat kondisi wanita itu membuatku mengurungkan niat itu. Aku membuka jaket yang kukenakan, kubalut tubuh wanita itu. Sampai aku tersadar bahwa wanita itu adalah seseorang yang kukenal, meski ia menutup wajahnya.


"Nayeon? Kau benar Nayeon?"

Dan benar. Ia melihat kearahku, dan seketika memeluk ku. Ia mulai menangis seolah melepas kekesalan nya. 

"Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana jika aku tak datang?", Tanyaku dalam hati. Sungguh melihatnya seperti ini membuatku tambah marah sekaligus kecewa dengan diriku. Ditambah Nayeon yang semakin menangis kencang, akupun mengerti dan membalas pelukannya. Setidaknya saat ini aku bisa menjadi sandaran untuknya.


*****







---------------------------

Selamat membaca semuanya :)

Oh ya, author mau ngucapin makasih banyak yang sebesar-besarnya atas dukungan kalian, baik yang sudah ngevote dan comment cerita ini. Dan juga yang sudah menyediakan waktunya untuk membaca cerita ini :)

Sehat selalu buat para pembaca semuaaaa :*

MemoriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang