Saat ini, Minhyuk dan Nayeon sudah berada di tempat tinggal Nayeon.
"Maafkan aku, karena aku, kau... Tanganmu jadi terluka", kata Nayeon yang sedang mengobati tangan kanan Minhyuk yang terluka akibat baku hantam dengan pemuda tadi.
"Jangan pikirkan aku. Pikirkan dirimu. Apa kau baik-baik saja?", Tanya Minhyuk.
"Aku tak apa-apa", elak Nayeon.
Minhyuk melihat tangannya yang sudah diobati. Setelahnya ia melihat kearah Nayeon. Wanita itu masih tertunduk, sesekali meremas bajunya seolah mengingat kejadian tadi.
"Sepertinya kau butuh istirahat", kata Minhyuk.
Nayeon menjawab seadanya.
"Ah, i-iya"
"Baiklah aku pergi sekarang, jaga dirimu", kata Minhyuk yang berpamitan namun tak kunjung beranjak dari posisinya. Entah kenapa rasanya berat meninggalkan wanita disampingnya ini. Tapi disisi lain ia sungkan jika berlama-lama berdua saja.
Tak ada jawaban dari Nayeon. Tak tahan dengan hal itu, Minhyuk pun berinisiatif menemani Nayeon di apartemen nya.
"Untuk malam ini, bisakah aku tetap tinggal? Untuk berjaga-jaga saja jika kau butuh sesu......"
Nayeon kembali memeluk Minhyuk dengan erat. Air matanya kembali terjatuh.
"Jangan pergi... Hiks... Aku mohon... Hiks..."
Minhyuk yang mengerti pun berusaha menenangkan nya dengan mengelus lembut kepala Nayeon.
"Gwaenchanh, aku disini. Aku tak akan kemana-mana"
Pagi harinya, Nayeon terbangun dari tempat tidur kamarnya. Kejadian semalam masih membuatnya syok, tapi saat ini dirinya sudah lebih baik. Mungkin karena semalam Minhyuk menemani nya dan membiarkan dirinya meluapkan segala emosinya.
"Oh iya, Minhyuk...!". Kata Nayeon yang segera melompat dari atas kasur. Ia membuka pintu kamarnya, tercium bau masakan yang lezat. Dilihat kearah dapur, terlihat seorang pria menggunakan celemek merah muda miliknya. Nayeon tersenyum dan menghampiri pria itu. Seketika Nayeon memeluk pria itu dari belakang. Pria yang dipeluk terkejut dan langsung berbalik kearahnya.
"Apa aku membangunkanmu?", Tanya Minhyuk.
Nayeon merespon dengan menggeleng dan masih posisi memeluk. Meski Minhyuk sedikit kesulitan memasak dengan posisi ini, tapi ia memilih membiarkan nya mengingat kejadian semalam. Minhyuk menganggap hal ini dapat menenangkan hati Nayeon.
Minhyuk memberi semangkuk ramen yang sudah dimasak. Ia membelinya tadi pagi di toserba dekat apartemen Nayeon.
"Maaf hanya ini yang bisa kusiapkan".
"kamsahamnida".
Merekapun makan berdua dengan diam, sampai selesai.
"Biar aku yang mencuci piringnya, kau sudah memasak untukku", kata Nayeon yang segera mengambil alih cucian yang sedang dikerjakan Minhyuk. Si pria hanya mengangguk setuju dan membiarkan nya.
Setelah dilihat Nayeon selesai mencuci piring, Minhyuk menghampiri nya dengan bermaksud akan berpamitan.
"Jadi, aku pamit dulu. Kau tak apa-apa jika kutinggal sendiri?"
Nayeon tak merespon. Ia hanya menarik pelan baju Minhyuk. Sadar akan tindakan tak biasa Nayeon, membuat Minhyuk khawatir.
"Nayeon, lihat aku"
Yang dipanggil pun melihat kearah Minhyuk.
"Jangan hawatir. Aku pastikan kejadian semalam tidak terulang lagi. Mulai saat ini, aku Lee Minhyuk akan menjagamu. Aku tak ingin atau mendengar kau pergi malam-malam lagi. Jika ada yang kau butuhkan, hubungi aku. Jika aku tak bisa dihubungi, kau bisa menghubungi Sanha atau Soobin, mereka akan menyampaikan nya padaku. Kau mengerti?"
"Apa maksudmu? Mengapa kau harus menjagaku?", Tanya Nayeon.
Minhyuk menggoyangkan badan Nayeon. "Apa kau tidak mengerti?"
Yang ditanya masih melihat Minhyuk dengan wajah polosnya, dan yang dilihat masih memasang wajah serius.
"Apa kau tidak mengerti jika aku tak ingin terjadi sesuatu pada wanita yang kusayangi...!", Kata Minhyuk dengan keras.
Mata Nayeon membelalak mendengar perkataan Minhyuk barusan.
"Aku tau saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Karena sudah terlanjur, aku akan mengakuinya sekarang. Entah sejak kapan, aku mulai menyukaimu. Kau selalu ada dalam benakku. Aku tak peduli setelah ini kau akan membenciku, tapi setidaknya biarkan aku menjagamu..."
Minhyuk menghela nafas panjang dan berkata,
"Nayeon, saranghamnida..."
Tak bisa dipungkiri, Nayeon pun memiliki perasaan yang sama. Ditambah kejadian semalam membuat Nayeon semakin yakin akan perasaannya.
Perlahan Nayeon melingkarkan kedua tangannya di leher Minhyuk, dan mulai mencium bibirnya. Yang dicium pun tak menolak, Minhyuk justru membalas ciuman wanitanya. Melalui ciuman itu, mereka menyampaikan rasa sayangnya satu sama lain. Lembut, romantis, dan sedikit memanas sampai Nayeon harus bersandar di dinding pintu tanpa melepas ciumannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Memories
Fanfiction"Jika raga bisa pergi, bisakah sebuah kenangan itu tetap ada?" Cast: _Soobin TXT _Sanha ASTRO _Minhyuk BTOB _Nayeon Twice ------------------- Note: Cerita ini hanya karangan author saja. Tujuan dibuat cerita ini adalah author ingin melampiaskan keha...
