29 : BERAKHIR?

77 20 14
                                        

29 : BERAKHIR?

"Siapa yang ngelakauin ini?" Sekali lagi Rakha bertanya. Uwa menarik tangannya dengan sedikit paksaan karena Rakha yang masih memegang tangannya. Tatapan Uwa kini sudah datar.

"Apa peduli lo? Jangan bersikap seolah lo orang yang paling pelindung gue kalo lo aja selalu gak ada di saat gue butuh. Lo dimana ha?!" Rakha menunduk. Dia benar-benar merasa bersalah sekarang.

"Maaf" Uwa tersenyum remeh.

"Gue udah gak butuh kata maaf dari lo. Gue udah capek" Rakha menggeleng.

"Kasih tau gue siapa yang lakuin ini ke lo gue bakal bales apa yang mereka perbuat sama lo"

"Buat apa? Gue bisa lakuin itu sendiri. Lo! Jagain aja sahabat lo yang Le.mah itu" Uwa hendak pergi tapi Rakha malah menahan bahu Uwa. Ia benar-benar frustasi sekarang.

"Ck. Apaan lagi sih?!" Uwa menepis tangan Rakha lalu pergi meninggalkan kediaman Rakha.

Ia melangkah cepat. Bahkan ia lupa untuk pamit kepada Tari Bunda Rakha.

°________°

Setelah pergi dari rumah Rakha Uwa tidak langsung pulang, ia menyempatkan diri membeli es krim di dekat taman kompleks rumahnya lalu duduk di ayunan taman itu.

"Ck. Kenapa gue ngerasa lega ya sekarang?" Uwa berkata lirih. Bingung dengan dirinya yang baru saja putus dengan kekasih tapi malah merasa lega bukan malah galau.

"Eh? Ketemu lagi!" Uwa mendongak menatap seseorang yang menjulang didepannya. Ck. Dia lagi!

"Apa sih?! Alay!" Mata cowok di depannya membola. Berani sekali Uwa berkata begitu. Orang yang ada di depan Uwa adalah Farres.

"Jangan jadi kacang lupa kulit lo ya!" Kata Farres  kesal.

"Lagian lo kaya jarang ketemu gue aja. Pake segala ngomong 'ih,kitimi ligi?' Alay tau gak!" Farres berdecak. Ia lalu mengambil tempat di ayunan di sebelah ayunan yang di pakai Uwa.

"Lah? Coba lo pikir-"

"Lagi males mikir" Uwa memotong perkataan Farres.

"Sialan. Jangan lo potong dulu maemunah! Coba lo pikir kita akhir-akhir ini sering ketemu. Apa kita jodoh kali ya?" Kata Farres menaik turunkan alisnya menggoda Uwa.

"Najis! Asal aja tuh mulut ngomong! Lagian emang lo siap di jadiin samsak sama Kak Naomi, hem?"

Farres bergidik ngeri. Itu sih dia juga takut. Naomi kalau sedang marah mah spek iblis. Gak punya hati banget.

"Gak deh. Gue masih sayang sama pacar gue juga"

"Udah lo mending pergi sana. Gue lagi mau sendiri" Uwa mendorong Farres yang berada di sebelahnya.

"Gak mau. Ini taman dibikin buat semua orang bukan punya lo pribadi!" Tutur Farres. Uwa diam tak menanggapi Farres lagi. Ia mulai berayun dengan pelan.

"Huh. Sebenarnya gue lagi berantem sama Naomi" Kata Farres membuka pembicaraan lagi. Uwa menoleh menatap Farres yang tengan menatap lurus ke depan.

"Kenapa?" Uwa kembali fokus ke depan.

"Biasa. Dia baperan banget" Uwa berdecak. Tak percaya dengan apa yang dikatakan Farres.

"Lo yang keterlaluan apa dia yang baperan?!" Pungkas Uwa.

"Ntahlah. Gue rasa dia akhir-akhir ini selalu ngatur. Biasanya gue jalan sama cewek lain juga dia bodo amat. Kalo sekarang mah beda. Gue gak boleh chat cewek lain lah atau apalah itu. Gimana coba gue gak bilang dia baperan?" Mendengar penjelasan Farres, Uwa jadi emosi sendiri. Udah salah! Malah gak tau diri lagi orangnya!

Adik Kelas SomplakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang