26 : Pukulan Uwa
Gibran bergidik menatap Uwa yang dengan menyantap bakso dengan porsi penuh dan cabe sebanyak lima sendok.
Gibran menarik mangkuk bakso Uwa. Uwa langsung menatap tajam Gibran.
"Ih! Balikin!" Kata Uwa dengan mata yang berair karena memakan bakso pedas.
"Gak gak. Udah! Nanti sakit perut. Itu muka lo udah merah gitu" Uwa memanyunkan bibirnya. Lalu ia menyeruput teh es yang ada di depannya.
"Gue masih kesel tau!" Gibran menghela nafas.
"Kesel sih kesel. Tapi jangan lampiasin ke perut lo. Pikirin orang yang sayang sama lo. Gimana mereka kalo lo sakit" Uwa menunduk. Gibran benar. Ia sudah salah mengambil langkah.
"Udah jangan sedih. Ngapain mikirin cowok yang belum tentu mikirin lo" Tutur Gibran sambil mengelus puncak kepala Uwa.
"Makasih udah nemanin gue" Uwa langsung menghambur ke pelukan Gibran.
"Hm. Gue ngasih tau seminggu ke depan mungkin gue gak ada di dekat lo" Uwa memberi jarak. Lalu mendongak menatap Gibran.
"Lo pergi kemana?"
"Adik nyokap gue nikah di Yogya dan kemungkinan gue bakal sibuk"
"Ikut yah? Gue ikut lo aja!" Gibran terkekeh. Sebenarnya dia juga tidak tega meninggalkan Uwa dengan kondisi seperti ini.
"Boleh. Lo yakin?"
"Gak deh. Setelah di pikir lagi gue males pergi jauh. Bikin capek aja" Gibran berdecak kesal. Dasar plin-plan.
"Bran! Gue masih laper pesenin yang lain sana! Bakso juga lo yang ambil" Gibran mengangguk lalu pergi memesam makanan. Sepeninggalan Gibran Uwa bermain ponselnya menghilangkan kejenuhannya.
Saat sedang membuka salah satu sosmednya ia melihat Rere membuat story.
'Tap'
Uwa menekan akun Rere untuk melihat story itu.
"Hai Rakha!" Nampak Wajah Rakha yang sedang duduk di lapangan basket. Rakha tersenyum ke kamera. Lalu kamera beralih ke wajah Rere. Dan terlihat di kamera mereka hanya berdua!
"Idih caper!" Kata Uwa kesal.
"Siapa yang Caper?" Uwa mendongak spontan melihat orang yang berbicara.
"Kenapa? Gue kan gak bilang namanya? Ngerasa lo?!" Uwa menantang tiga cewek yang ada di depannya.
"Gak kok. Kalo Cecil sih sukanya Wafer bukan Cafer. Iya kan Ra?" Si polos Cecillia yang berkata.
"Oh. Berarti bukan lo" Kata Uwa menimpali.
"Jangan ngerasa hebat lo. Mentang-mentang di jagain banyak cowok. Sok berkuasa" Uwa menyerngit mendengar perkataan Jilan.
"Sok gimana?" Baru saja Jilan akan menjawab tapi nampak Gibran yang baru saja keluar dari salah satu warung dan berjalan ke arah Uwa.
"Urusan kita belum selesai!" Dengan wajah sinisnya ketiga cewek itu segera pergi takut jika Gibran memergoki mereka.
Akhirnya Gibran sampai di meja yang di tempati Uwa. Gibran mengangkat sebelah alisnya lalu bertanya.
"Ngapain tu cewek nyamperin lo?" Tanya Gibran sambil duduk dan menyodorkan makanan yang baru iya pesan.
"Tau tuh. Biarin aja. Nge-fans kali ya sama gue" Kata Uwa terkekeh.
Gibran ikut terkekeh karena perkataan Uwa barusan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adik Kelas Somplak
Ficção AdolescenteAyo mampir di Story ku siapa tau aja suka:) "Jauh-jauh dari gue!"Sentak Cewek yang merupakan senior tergalak. "Gak mau"Kata Cowok di depannya dengan kekehan khasnya. "Gila ya? Lo itu masih adik kelas gue jangan banyak tingkah deh"Cowok itu tersenyum...
