31 : Tentang Trauma

94 18 24
                                        

31 : Tentang Trauma

Langkah kaki Rakha makin cepat menuju ke tempat Uwa yang terkapar bersama gadis yang bajunya juga sudah basah kuyup. Bahkan badan Uwa belum terangkat semua ke atas karena si gadis yang tak sanggup membawa Uwa.

Gadis itu terus menepuk nepuk pipi Uwa agar sadar.

"Minggir biar gue kasih pertolongan" Kata Rakha.

Gadis itu mengangguk dan memberikan ruang untuk Rakha.

Sebelum Rakha memberikan pertolongan pada Uwa, ia mengangkat tubuh Uwa ke atasterlebih dahulu.

"Cill. Lo pakai jaket gue nih. Baju lo ngejiplak" Kata Cowok berkacamata. Benar. Yang menolong Uwa adalah Cecillia si gadis polos.

"Makasih..." Kata Cecillia menerima jaket dari si cowok.

"Daniel. Nama gue Daniel"

"Iya. Makasih Daniel"

Kembali ke Uwa. Rakha sepertinya kesusahan melakukan pertolongan dengan menekan bagian dada Uwa agar air keluar dan Uwa sadar. Belum ada tanda-tanda Uwa akan sadar.

"Kasih napas buatan aja Kha" Kata Violyn yang kepalang panik.

"Iya. Gue tadi juga udah coba bangunin tapi susah" Kata Cecillia menyahut.

Rakha mengangguk. Ia mulai menutup hidung Uwa dengan tangannya lalu mulai mendekatkan wajah mereka. Rakha menyatukan mulutnya dengan Uwa dan mulai memberikan napas buatan.

"Uhuk... Uhuk..." Uwa mengeluarkan air dari mulutnya tapi matanya tetap tak terbuka.

"Uwa..." Lirih Rakha. Ia makin panik saat Uwa bukannya sadar malah menangis.

"Hiks... Hiks... Yah tolong" Uwa mengigau dengan memanggil sang Ayah. Rakha pangsung mengangkat tubuh Uwa.

"Gue bawa Uwa ke rumah sakit sekarang. Mentari, Violyn nanti kalian nyusul aja. Tolong bawain tas Uwa" Violyn dan Mentari mengangguk.

Uwa langsung dibawa Rakha menuju ke rumah sakit terdekat.

"Wa.. Maafin aku" Gumam Rakha dengan sesekali mencium pucuk kepala Uwa.

°________°

'Bught'

Satu pukulan keras melayang tepat di wajah Rakha. Rakha mendongak melihat sang pelaku ingin membalas tapi ia urungkan setelah tau siapa yang berani memukulnya.

"Bangsat lo! Bukannya jagain Uwa malah bikin dia sakit. Emang gak ada otak lo ya" Umpat sepupu Uwa yang tak lain adalah Gibran.

Ia baru saja kembali dari luar kota dan malah mendapat telepon dari Mentari tentang keadaan Uwa.

"Udah. Jangan emosi dulu. Mending kita tunggu kabar Uwa" Kata Raja menenangkan Gibran. Uwa masih berada di IGD.

"Gue gak bisa tenang. Si bangsat ini gak tau apa kalo Uwa gak bisa berenang karena trauma?" Rakha menunduk menerima segala cacian dan umpatan yang di berikan oleh Gibran meskipun yang terjadi pada Uwa bukan salahnya sepenuhnya. Ia juga merasa bodoh karena tak mengetahui tentang trauma Uwa.

"Raja! Cari tau siapa yang udah berani celakain Uwa. Bawa ke gue! Gue gak peduli dia cewek atau cowok bakal gue kasih pelajaran" Raja mengangguk.

"Gue bakal cari orangnya kalau gitu" Raja pergi meninggalkan rumah sakit.

Gibran mengambil tempat di kursi tunggu. Ia sungguh emosi mendengar kabar Uwa tenggelam.

Adik Kelas SomplakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang