30 : Inseden Kolam Renang
Uwa merasa aneh pagi ini karena semenjak ia menapakkan kaki memasuki gerbang sekolah, banyak siswi yang mentapnya sinis bahkan ada yang berkumpul dan menatap tak suka padanya.
Merasa tak membuat kesalahan apapun, ia menghilangkan semua pikiran negatif yang bersarang dalam kepalanya.
"Masih punya muka ternyata?" Uwa menyerngit bingung. Ini yang di maksud Jilan dirinya?
"Kenapa gue mesti gak punya muka?" Jilan dan Laura tertawa. Cecillia hanya menatap mereka sambil meminum susu kotaknya.
"Pura-pura gak tau. Gimana rasanya jadi pelakor?" Uwa makin tak paham.
"Maksud lo apa?" Jilan tersenyum miring.
"Gak asyik kalo gue kasih tau. Lo harus usaha cari tau sendiri" Kata Jilan sebelum berlalu pergi bersama dua temannya.
Uwa mengangkat kedua bahunya acuh. Ia lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas.
Sampai di kelas ia langsung duduk. Ia menyerngit menatap bangku di sampingnya yang kosong. Ia mengedarkan pandangannya. Mentari sedang duduk bersama Violyn, jauh di depannya.
Tak tinggal diam Uwa pun menghampiri dua temannya itu.
"Hai, kalian kenapa pindah?" Dua orang yang tadinya sedang mengobrol menatapnya.
"Kita gak mau berteman sama pelakor" Kata Violyn sinis.
"Ini ada apa sih? Tadi Jilan juga ngomong soal pelakor sekarang lo. Bisa jelasin sama gue masalahnya?"
Mentari menyodorkan ponselnya pada Uwa. Uwa yang bingung pun mengambil alih ponsel Mentari itu.
Shit!
Uwa terkejut melihat gambar yang di posting dari akun Instagram sekolah. Foto ia dan Farres di atas ayunan taman yang sedang saling menatap. Ck. Yang ngambil gambar sepertinya niat sekali!
"Lo bisa lihat sendiri kan? Bukan cuma kita aja yang berpikiran begitu tapi satu sekolah ini juga" Celetuk Mentari. Uwa tak habis pikir dengan kedua temannya. Bagaimana bisa dengan mudah percaya hanya dengan sebuah gambar?!
"Itu cuma salah paham. Gue gak kaya gitu. Itu cuma perbuatan orang iseng" Terdengar decakan dari mulut Violyn.
"Udahlah jangan ngelak. Maling walau udah ke tangkap tetap aja gak mau ngaku. Kaya lo gini? Gayanya sok suci, sok tersakiti sama si Rere. Gak taunya diri sendiri yang pelakor. Terlalu banyak liat kesalahan orang lain sih" Uwa menatap gamang ke arah Violyn yang melontarkan kalimat yang menyakitinya. Apa ia seasing itu bagi Violyn sampai Violyn berkata jahat begitu padanya?
Uwa mendatarkan ekspresinya lalu kembali menatap Violyn dan Mentari bergantian.
"Gue kira kalian udah ngerti gue. Tapi ternyata gue salah" Uwa lalu pergi ke tempat duduknya.
Mengeluarkan buku dari tasnya dan membacanya. Mengalihkan pikiran sebentar saja pada novel yang ia baca.
Mentari dan Violyn pun tampak tak peduli. Mereka berdua dengan santainya kembali mengobrol dengan sesekali tertawa.
°______°
Uwa keluar kelas nya sendirian dengan menghela nafas berat. Beberapa siswi masih saja bergosip ria tentangnya.
Ia memasuki kantin dengan mood yang sebenarnya sudah hancur sedari tadi pagi.
"Eits. Mau kemana?" Naomi menghadang jalan yang ingin dilewati oleh Uwa.
"Kak. Gue beneran gak ada apa-apa sama kak Farres" Kata Uwa mencoba menjelaskan. Rasanya kini ia telah putus asa. Tidak ada lagi yang percaya padanya.
"Wa. Sebenarnya gue masih gak nyangka kalau selama ini lo adalah selingkuhan pacar gue. Tapi mau gimana lagi? Hmm... Lo ikut gue yuk!" Naomi menarik Uwa entah menuju kemana. Uwa pun hanya menurut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adik Kelas Somplak
Genç KurguAyo mampir di Story ku siapa tau aja suka:) "Jauh-jauh dari gue!"Sentak Cewek yang merupakan senior tergalak. "Gak mau"Kata Cowok di depannya dengan kekehan khasnya. "Gila ya? Lo itu masih adik kelas gue jangan banyak tingkah deh"Cowok itu tersenyum...
