17 : Mulai Tak Pentingkah?
Rakha duduk gelisah di teras rumah Uwa. Dari tadi, Rakha menunggu Uwa setelah mengantar Rere tentunya. Rakha sempat bertanya pada asisten rumah tangga di rumah Uwa tapi katanya dari tadi Uwa belum pulang. Kemana sebenarnya gadis itu. Rakha bahkan sudah dua kali ke sekolah untuk memastikan apakah memang Uwa tak ada lagi di sekolah. Benar saja Uwa tak ada di sekolah.
"Rakha?" Rakha mendongak menatap orang yang sedari tadi ia tunggu.
Tanpa menunggu lama ia langsung berdiri dan memeluk Uwa.
"Maafin gue. Please, jangan menghilang lagi" Uwa mendorong Rakha agar terlepas dari pelukan Rakha.
"Siapa yang hilang sih?! Gue cuma pergi ke Rumah Sakit buat jenguk nyokapnya Mentari" Rakha menghela nafas lega. Tapi tetap saja ia masih merasa khawatir.
"Aku kira kamu marah karena tadi aku sempat lupa bawa kamu pulang. Maaf..." Rakha melirih di akhir kalimat. Rakha menggenggam kedua tangan Uwa.
"Gue mulai gak penting ya? Sampai lo lupa sama gue" Uwa tersenyum miring.
"Bukan gitu... Tadi Rere sakit, aku panik. Sekali lagi maaf" Uwa menepis tangan Rakha.
"Jangan minta maaf kalo lo gak bisa berubah. Jujur aja Kha... Gue capek diawal hubungan kita aja udah banyak masalah apalagi ke depannya. Gue berfikir apa kita udahan aja?" Rahang Rakha mengeras ia tak suka dengan apa yang dikatakan Uwa.
"GAK! ITU GAK BOLEH TERJADI!" Teriak Rakha.
"Terserah lo gue capek. Kalo emang lo mau berubah tunjukin" Setelah berkata begitu Uwa masuk ke rumahnya. Ia tak berbohong saat mengatakan ia lelah. Hubungan mereka baru saja di mulai tapi lihat! Rakha terlalu menganggapnya sepele.
"Arrrgth! Sialan!" Rakha mengumpat kesal. Sepertinya ia harus mengikat Uwa agar mereka tak merenggang.
•_______•
Kini Rakha berada di rumah Raja. Salah satu sahabatnya. Tanpa pamit terlebih dahulu ia langsung masuk ke kamar Raja begitu saja. Raja tampak biasa saja. Karena memang Rakha sudah biasa melakukan hal-hal semaunya.
"Lo ada masalah?" Tebak Raja.
Terdengar dengusan kasar dari Rakha.
"Berat banget ya?" Rakha menoleh kepada Raja dengan tatapan tajam.
"Lo mau bantu ringanin gak?" Raja mengangguk.
"Kalau masih bisa gue lakuin kenapa enggak? Asal jangan rusak properti rumah ini aja. Kan lo tau sendiri ini rumah paling di jaga si tua bangka itu"
"Mau gue tonjok?!" Raja langsung menggeleng cepat.
"Ampun bang"
"Gue pusing tau gak. Dua-dua cewek itu selalu aja kekanakan. Gue bingung. Dua-dua nya orang yang gue sayang" Raja duduk di samping Takha. Meniliti wajah sahabatnya itu.
"Lo jauhin aja dua-duanya biar pro" Rakha berdecak. Raja ini memang orangnya mau yang mudah saja. Kalau bikin ribut buang aja! Kalau bikin pusing jauhin! Kalau jadi parasit tinggalin! Seperti itu lah pemikiran hidupnya.
"Gak bisa. Gue butuh mereka"
"Kalau menurut gue sih. Maaf aja ya Rak kalo kita beda pemikiran nih sebelumnya. Menurut gue bagusan lo jangan terlalu prioritasin yang udah jadi masa lalu. Lo harus liat yang sekang lagi lo usahakan buat bahagia. Apalagi nih jadi 'parasit' di hubungan lo. Mending lo hindari deh. Sekarang ada hati yang harus lo jaga bro" Rakha mendengarkan kata-kata Raja. Ia mulai setuhu dengan Raja. Apakah selama ini Uwa sakit hati?
KAMU SEDANG MEMBACA
Adik Kelas Somplak
Teen FictionAyo mampir di Story ku siapa tau aja suka:) "Jauh-jauh dari gue!"Sentak Cewek yang merupakan senior tergalak. "Gak mau"Kata Cowok di depannya dengan kekehan khasnya. "Gila ya? Lo itu masih adik kelas gue jangan banyak tingkah deh"Cowok itu tersenyum...
