End

18.8K 2.1K 227
                                        

Crushh

Ayesha memeras sebuah handuk putih dari sebuah baskom yang ia pinjam dari rumah sakit, air hangat yang ada di dalam nya ia gunakan untuk membersihkan tubuh si bungsu. Dengan kelembutan dan kasih sayang, Ayesha membersihkan tubuh Langit dengan telaten.

"Anak Bunda yang ganteng, jangan terus-terusan bohong ya, bunda gak suka" ucap sang bunda dengan nada lemah, sebuah syal panjang menutupi bagian bahu sang ibu.

Mata yang sedikit terbuka dari Langit mengeluarkan air mata yang cukup deras.

"Bun da? Bunda ma marah ? Kenha pa sunyi?" pertanyaan dari Langit menbuat Ayesha menunduk, bahu nya bergetar setelah mendengar ucapan sang anak. Dengan cepat ia mengusap rambut Langit penuh sayang.

Ayesha mengusap air mata nya dengan kasar, ia terus menenangkan Langit dengan usapan usapan sayang.

Srett

Saka memeluk sang bunda dari belakang, ia ikut serta menenangkan sang bunda yang terus-terusan menahan isak nya.

Grepp

Ayesha memeluk Saka dengan erat, isakan tangis nya mulai terdengar dalam dekapan sang putra.

Saka menatap Langit yang ikut menangis karna kepanikan,

"Bunda sabar ya, Bunda pasti kuat" ucap saka pada sang ibu dengan nada lembut.

Saka berharap kematian saja yang Langit alami, dari pada tuhan terus-terusan menyakiti Langit dengan perlahan seperti ini. Itu akan lebih baik,

"Bun dha?" mendengar panggilan samar dari langit, Ayesha langsung mengusap wajah langit dengan perlahan sebagai pertanda ia ada di sisi nyasaat ini.

"Bunda, jan jangan nang is" lirihan dengan suara yang tersenggal di balik alat bantu pernafasan itu membuat Ayesha semakin terisak.

Semua saudara Langit selain Saka kini masih ada di luar ruangan, mereka memilih untuk menunggu di luar dari pada merasa tersiksa saat menatap adik kesayangan nya dalam keadaan seperti itu.

"K-kata bap hak harus ba bahagia ter us" lanjut langit pelan. Saka nenunduk, ia menangis sambil terus mengusap bahu sang bunda yang bergetar.

Pendengaran serta penglihatan langit telah rusak, entah bagaimana cara nya mereka bisa berkomunikasi.

"Ba dhan Lan Langit sha kit" ucap Langit dengan air mata yang terus terjun dari kedua mata nya, meski begitu senyuman itu masih bisa terbit di wajah nya.

Mendengar suara yang di selingi rintihan itu langsung membuat Saka menekan sebuah tombol untuk bisa memanggil dokter agar segera datang ke ruangan Langit.

"Tunggu ya nak, tahan sebentar lagi" ucap Ayesha memeluk tubuh Langit dengan perlahan.

Tak lama setelahnya Apk Rafa muncul drngan jas putih yang menjadi abdian nya. Pak Rafa langsung meminta Saka dan sang ibu keluar terlebih dahulu sesuai dengan prosedur.

"Langit tahan sebentar" ucap pak Rafa dengan mengusap rambut Langit dengan perlahan sebelum ia mulai melakukan cek terhadap kondisi Langit.

"Pak Rafha?" panggil Langit pelan saat ia menerima sebuah suntikan cairan dari lengan nya membuat nya langsung mengetahui sosok yang ada di samping nya. Karna selama ini, Pak Rafa lah yang menangani dirinya langsung.

melihat pergerakan bibir Langit yang samar, Pak Rafa mendekatkan telingan di dekat wajah Langit untuk mengetahui apa yang akan Langit katakan padanya.

"Te rima kas kasih" ucap Langit begitu lirih, Pak Rafa menunduk. Ia langsung melepaskan jas putih milik nya dengan memori-memori disaat Langit masih ada di rumah nya. Bersama dengan Mingyu dan Langit yang seperti saudara sendiri, membuat Pak Rafa sangat berterimakasih pada Langit yang begitu banyak memberikan pelajaran hidup pada keluarganya.

LANGIT DAN SEMESTA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang