"Good morning," Charis sudah ada di meja makan ketika Wanda keluar dengan rambut basah dari kamarnya.
"Eh kamu udah bangun? Aku pikir bakal lebih siang."
Charis pagi itu sudah menyeduh dua gelas teh. Tidak baik minum kopi terus. Satu untuk Wanda dan satu lainnya untuk dirinya sendiri. Semangkuk popcorn hangat ada di meja yang sama. Satu-satunya makanan yang dipandang aneh.
"Kita mau kerja kan? Bukan nonton?" kata Wanda merajuk pada popcorn yang ada di hadapannya itu sekarang.
Lelaki itu tertawa kecil, "I have no idea. Kita butuh makan. Sementara aku nggak mau nyusahin kamu buat masakin sarapan, jadi yah, yang bisa aku lakukan cuma ini. masukin jagung kering ke wadah dan ditaro di microwave. Lebih baik daripada tidak sama sekali kan?"
Charis mendorong mangkuk berisi popcorn itu ke depan Wanda. Untuk dimakan perempuan itu. Sarapan paling unik yang bisa dia buat untuk, can we say, his girlfriend? Duh memikirkannya saja, Charis tidak bisa menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya.
"Yeah, makasih aja dulu. Abis itu komplain. Mending kamu bangunin aku dibanding untuk makan popcorn aja kayak gini."
"Okay, noted. Tapi sekarang harap maklum. Masih canggung."
Sejenak Wanda tertawa mendengar kalimat yang dilontarkan Charis kepadanya. mereka seperti anak muda yang sedang kasmaran. Yang merasa canggung dengan hubungan mereka yang baru saja dimulai. Padahal seharusnya tidak perlu seperti itu.
"Kamu berapa kali pacaran sebelum menikah?" Charis tidak tahu kenapa dia mengeluarkan pertanyaan tersebut kepada Wanda.
Merasa pertanyaan tersebut sangat aneh, Wanda jadi menaikkan alis sebelah kanannya, "Atas dasar apa kamu nanya gitu ke aku?"
Tidak ada, sebenarnya. Hanya penasaran saja. Harusnya itu yang jadi kalimat jawaban bagi Charis. Sayangnya yang keluar, "Pengen tahu, seganteng apa mungkin? Lebih ganteng mereka atau aku? Supaya nggak insecure."
Wajah Wanda menjauh mendengar kalimat itu. Lalu matanya melotot, "Ya ampun, kamu Dika?"
Hah?
Charis menautkan alisnya bingung. "Gimana?" tanya Charis.
"Ini Dika atau Charis? Kenapa jayus gini? Tapi aku yakin suara ini suaranya Charis. Tapi, Charis nggak gini. Duh aku jadi bingung."
"Dika emang suka kaya gini? Ke kamu?"
Wanda mengangguk, "Dia itu 180 derajat bedanya sama kamu. Suka flirting, gombal nggak jelas. Aku nggak suka."
Tiba-tiba saja Wajah Charis berubah cemberut, "Kalau kamu nggak suka Dika gituin, sama aku juga nggak suka dong?"
Wanda sangat yakin jika saat ini dirinya sedang salah bicara. Jadi bibirnya terkatup rapat saat sedang menatap Charis sekarang. Lelaki itu melihatnya seperti seorang kelinci di mata harimau. Ada pisau tajam yang sedang dia keluarkan melalui tatapannya. Seperti siap menguliti Wanda saat itu juga.
"Kalau kamu nggak suka, aku nggak akan melakukannya kok," kalimat itu keluar bersamaan dengan suara Charis yang pelan. Seperti sedang putus harapan.
"Nggak, bukan gitu Ris," Wanda mengibaskan tangan di hadapan Charis. "Aku bisa kok bedain kamu dan Dika. Yang nggak aku suka kan Dika. Bukan kamu."
"Tapi aku dan Dika kan ada di satu tubuh Wanda," ujar Charis.
"Ya, tapi aku tahu kalian berbeda oke?"
Charis sejujurnya, merasa kecewa, karena tubuhnya ini pernah menggoda Wanda tanpa dia ketahui. Dia pikir, dia yang pertama kali menggoda perempuan yang tinggal satu rumah dengannya itu. Sayangnya bukan. Dan yang lebih menyedihkannya, Charis tidak ingat apapun yang dia katakan kepada Wanda selama Dika menguasai tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Trauma (Completed)
FanfictionCharis bertemu Wanda yang memanggilnya dengan nama Dika. Setelah bertahun-tahun akhirnya dia mengetahui siapa sosok lain yang bersemayam di tubuh yang sama itu. Kemudian, Wanda yang masih trauma dengan kepergian suaminya dihadapkan oleh dua orang b...
