Voment juttaeyoooo xixi
"Namanya Saga," itu kalimat yang Wanda mulai untuk menceritakan sosok di balik gelar suaminya.
Charis terdiam, menyimak apa saja yang dikatakan perempuan itu. Soal suaminya. Sosok yang ternyata sudah meninggalkannya beberapa waktu lalu. Sosok yang Charis kira sampai saat ini masih ada di muka bumi ini.
"Kamu pasti cinta banget sama dia, sampai sekarang masih belum bisa melupakan sosok dia."
Wanda menundukkan pandangannya. Cangkir coklat ada di dalam genggamannya. "Aku, minta pisah beberapa saat sebelum dia meninggal," kalimat itu menggantung di ujung bibir Wanda. Membuat Charis mendelikkan matanya.
"Maksudnya?"
Wanda tahu tidak mudah untuk mengatakan ini. Tapi seperti apa yang dikatakan oleh Gita kepadanya. Apa yang dia rasakan harus dia katakan. Dan Charis adalah salah satu orang yang dipilihnya untuk mendengar ini semua.
"Aku punya pengalaman buruk. Soal hubungan kami. Ada yang salah. Hmm," Wanda masih belum bisa menjelaskan secara frontal menjelaskan tentang apa yang terjadi di dalam hidupnya. Terutama pada saat dia sudah menikah.
Charis menyadari kalau Wanda merasa terganggu dengan situasi ini. Jadi dia meletakkan cangkir coklatnya, mengulurkan tangan ke arah bahu Wanda. "Nggak apa-apa. Kalau kamu, emang belum siap, saya bilang saya bakal tunggu. Lagian saya kan baru bilang tadi. Nggak mungkin kamu harus cerita sekarang juga."
Wanda setuju, tapi kalimat Gita terdengar sangat keras sekarang. Gimana kalau pada saat menunggu Charis juga pergi? Bukankah Wanda sudah pernah menyesal? Penyesalan itu kan yang membuat Wanda merasa bersalah sampai saat ini? jadi tunggu apa lagi?
"Tapi saya mau cerita semuanya. Biar saya nggak nyesal."
Charis dapat melihat ketetapan yang berusaha Wanda sampaikan. Jadi dia mengangguk, "Pelan-pelan aja, saya nggak punya urusan apa-apa hari ini. saya bisa dengerin kamu kapan aja."
Wanda tidak tahu bagaimana rasanya menceritakan ini kepada orang baru. Jadi ini pertama kalinya. Dan dia khawatir jika Charis bisa menerima apa yang terjadi. Padahal, seharusnya Wanda tidak perlu merasakan ini. mengingat Charis bukan siapa-siapa.
"Saya punya krisis kepercayaan. Nggak gampang buat saya percaya setelah apa yang terjadi sama saya di awal pernikahan," Wanda berusaha menata bahasanya agar lebih mudah diserap oleh Charis.
Charis mengangguk, sebuah aba-aba dimana Wanda bisa melanjutkan ceritanya.
"Secara teknis saya bersetubuh dengan Saga," suara Wanda jadi canggung lagi. Ini soal privasi dan kehidupan seksualnya. Dia merasa kalau apa yang akan dia sampaikan kali ini, terlalu eksplisit. Tapi Charis sama sekali tidak mencemooh atau menatapnya aneh. Sebaliknya, Wanda semakin khawatir bahwa Charis menyimpan rasa anehnya di dalam hati.
"Kamu tahu sisi lain dari saya Wanda. Saya bisa jadi orang yang sangat buruk tanpa saya ketahui. Dan saya tahu itu semua nggak mudah. Karena itu, kalau kamu belum bisa menerima semua masa lalu kamu untuk saya ketahui, saya nggak paksa. Oke?"
Sekali lagi Wanda merasa tersentil mendengar argumen dari Charis. "Saya nggak pernah ditanya apa saya siap berhubungan atau tidak. Bahkan di malam pertama, ketika saya bangun di pagi hari, saya tiba-tiba saja sudah berstatus tidak perawan. Saat itu saya merasa marah. Saya merasa kalau pendapat saya tidak bernilai di mata suami saya."
Suara Wanda bergetar, pasti ini sulit bagi Wanda. Karena masa lalunya sangat kelam. Jadi Charis mengulurkan tangannya lagi. Menepuk punggung Wanda. "Saya nggak akan menilai kamu dengan buruk. Nggak apa-apa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Trauma (Completed)
Fiksyen PeminatCharis bertemu Wanda yang memanggilnya dengan nama Dika. Setelah bertahun-tahun akhirnya dia mengetahui siapa sosok lain yang bersemayam di tubuh yang sama itu. Kemudian, Wanda yang masih trauma dengan kepergian suaminya dihadapkan oleh dua orang b...
