Gita menyenggol lengang Wanda saat dia duduk bersampingan dan berhadapan dengan sosok laki-laki yang muncul tiba-tiba di antara mereka. "Siapa?" suara Gita pelan, tapi cukup mampu didengar oleh Charis dan Wanda saat itu.
"Orang gila," kata Wanda tidak kalah pelan. Tapi kali ini dia sengaja, berbisik dengan suara yang dibuat terdengar oleh Charis.
Alis lelaki itu menukik, "Kamu bilang saya orang gila?"
Sebenarnya, Charis tidak perlu marah dengan julukan yang diberikan oleh Wanda. Secara garis besar dia memiliki gangguan terhadap kejiwaannya. Orang-orang menganggap bahwa siapapun yang memiliki gangguan terhadap kejiwaan bisa dikatakan gila.
Tapi Charis bukan orang lain. Dia tidak ingin dipanggil gila. Dia hanya memiliki sedikit gangguan di dalam dirinya. Dan orang-orang pintar mengatakan bahwa dirinya mengidap disosiatif disorder. Orang-orang daerah memanggilnya kerasukan. Dan orang biasa menganggapnya memiliki kepribadian ganda. Dan orang sisanya, orang yang tidak punya hati seperti perempuan yang ada di hadapannya ini, memanggilnya gila.
"Sederhananya gitu. Kalau lengkapnya, mungkin kamu punya kepribadian ganda atau apa gitu yang berhubungan dengan kejiwaan kamu. Sehingga kamu nggak ingat sama saya. Padahal beberapa waktu lalu kita sempat kenalan."
Tidak ada yang salah. Wanda hampir menyebutkan semuanya dengan benar. Dugaannya, mengenai kepribadian ganda yang dimiliki Charis. Satu-satunya yang menjadi pertanyaannya. Bagaimana bisa, perempuan ini menyebutkan nama lain.
Orang lain yang ada di dalam tubuhnya akan selalu menggunakan namanya. Bahkan dengan dirinya sendiri. Jadi kenapa tiba-tiba ada nama lain yang kini disebutkan oleh perempuan ini?
"Saya cuma mau memastikan sesuatu," kata Charis sambil melepaskan kancing kemejanya. Merasa gugup karena mungkin, dia perlu membahas orientasi kejiwaannya yang bermasalah.
"Memastikan apa? Tadi kamu yang usir saya jauh-jauh. Terus sekarang kamu juga yang coba kejar-kejar saya untuk memastikan sesuatu. Aneh deh."
Wanda meneguk minumannya dengan sabar. Tidak suka sekali melihat sosok ini di hadapannya. Belum lagi garis wajahnya yang pias seolah benar-benar perlu menyelesaikan masalah ini.
Padahal, mereka tidak punya masalah segenting itu.
"Kamu panggil apa saya tadi?"
"Heh?" Wanda dan Gita kompak. Mereka saling berhadapan.
"Kamu panggil saya apa tadi. Itu yang mau saya tahu."
Wanda tidak memahami apa yang dimaksud laki-laki di hadapannya ini. Tapi kemudian dia menjawab, "Mas?"
Charis memejamkan matanya jengah, "Bukan yang itu, tadi pas kamu tegur saya di samping jalan. Kamu panggil apa saya?"
Kali ini giliran Wanda yang menukikkan alisnya. Heran dengan orang yang ada di sampingnya. "Dika?" kata Wanda menimbang.
"Dika? Tahu darimana kamu, tentang nama itu?"
Raut wajah Wanda sudah tidak bisa menopang perasaannya yang berubah menjadi penasaran. Pasti ada sesuatu. Sebab lelaki di hadapannya ini seperti tidak pernah mendengar nama Dika.
Padahal, "Kan kamu yang bilang ke saya, nama kamu di Dika."
"Saya Charis," kata Charis disambut tatapan bingung dari Wanda dan Gita.
"Wah, terus Dika siapa?"
"Itu yang mau saya tanya ke kamu. Dika, seperti apa yang kamu kenal."
Wana semakin tidak paham mengenai apa yang sedang mereka bicarakan. Lelaki yang dia hadapi saat ini seperti orang lain, orang yang berbeda dengan orang yang dia temui beberapa waktu lalu di klinik milik Viona.
KAMU SEDANG MEMBACA
Trauma (Completed)
Fiksi PenggemarCharis bertemu Wanda yang memanggilnya dengan nama Dika. Setelah bertahun-tahun akhirnya dia mengetahui siapa sosok lain yang bersemayam di tubuh yang sama itu. Kemudian, Wanda yang masih trauma dengan kepergian suaminya dihadapkan oleh dua orang b...
