Saga pikir, keadaan akan berubah ketika dia sudah meminta maaf kepada Wanda. Tidak sesuai dugaannya, pada saat dia meminta maaf, Wanda hanya mengatakan. "Aku... nggak tahu harus balas apa. Tapi, makasih. Makasih udah minta maaf."
Seharusnya setelah itu, hubungan mereka kembali menghangat. Tapi, tidak. Bahkan setelah berminggu-minggu setelahnya. Mereka tetap berhubungan seperti itu. Bahkan belakangan Wanda selalu diam-diam pergi meninggalkannya di kasur sendirian.
Termasuk pagi ini, Wanda dengan kopernya keluar dari kamar tamu. Menarik koper itu ke meja makan dan duduk di hadapan Saga. Seolah tidak terganggu dengan tatapan Wanda yang hampir menguliti.
"Kamu mau pergi?" sesuap nasi goreng masuk ke dalam rongga mulutnya. Matanya masih menatap Wanda yang kini membalas tatapannya.
"Eh, aku belum ngomong ya?" sama seperti Saga, Wanda menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya sambil menyahut pertanyaan suaminya.
Saga tidak paham, kenapa Wanda terlihat begitu tenang padahal menurutnya ada masalah terhadap apa yang sedang terjadi kepada mereka. Hubungan mereka yang dingin dan hambar. Padahal ini belum genap satu tahun pernikahan.
"Kamu merasa ada yang aneh nggak sih dari kita? Nda, sekarang kamu nggak tidur di kasur yang sama dengan aku. Kamu pergi tanpa bilang sama aku. Kamu merasa nggak sih, kita... salah."
Sendok dan garpu yang ada di dalam genggaman Wanda diletakkan. Kemudian matanya mengekor ke arah manik milik Saga. Dia bisa menemukan tatapan Saga yang penuh harapan. Dia tahu bahwa mungkin Wanda bisa menjelaskannya. Tentang apa yang terjadi.
"Aku udah merasakan ini ketika aku bangun dalam keadaan telanjang di hari pertama kita menikah Saga. Bagiku ini bukan hal yang aneh."
"Wanda aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Aku berhenti memaksa kamu untuk melayani aku. Kamu belum maafin aku?" pupus sudah, Saga tahu mungkin Wanda masih membutuhkan waktu agar bisa memaafkan kesalahannya.
"Aku selalu dengan murah hati memaafkan kamu. Tapi Saga, aku nggak tahu apakah aku bisa melupakan malam itu atau nggak."
"Kamu nggak mau berusaha untuk nyoba menerima itu Wanda?"
"Aku udah coba, sudah mencobanya berulang kali. Bahkan untuk mendengarkan deru napas kamu aja aku merasa kalau malam itu akan terus berulang. Aku butuh waktu."
"Nggak, kamu nggak butuh waktu," sela Saga. Diselanya kotoran di sekitar bibirnya. "Kamu butuh konsultasi ke psikiater atau psikolog. Kamu harus sembuh dari trauma itu."
"Aku nggak gila Saga," Wanda mengeluh menyerah. Dia merasa yakin bahwa dia belum membutuhkan hal itu. Ini bisa dia atasi. Suatu saat dia pasti akan kembali mencintai Saga. Hingga rasanya kenangan buruk itu bukan lagi apa-apa.
Walaupun mereka terlibat dalam hubungan yang dingin. Wanda merasa yakin bahwa mereka akan baik-baik saja. Asal, Saga mau bertahan dengan hubungan semacam ini. Sampai Wanda siap. Siap untuk kembali melibatkan kehangatan di tengah hubungan mereka.
Sayangnya.
"Wanda kalau kamu merasa tertekan dengan hubungan ini, kamu bisa berhenti. Aku nggak akan nahan kamu. Kalau kamu merasa terganggu dengan adanya aku di sekitar kamu, dan mungkin kamu selalu teringat sama trauma yang aku kasih ke kamu. Kamu bisa bilang ke aku kalau kamu ingin berhenti."
"Saga..." Wanda memanggil lirih saat Saga selesai dengan kalimatnya.
"Tentu aku nggak mau nyerah dengan hubungan ini," kata Saga.
Air wajah Wanda berubah. Memerah. Tidak tahu karena alasan apa. Tapi Wanda merasa bahwa saat ini napasnya tercekat. Oksigen mulai menghindarinya seperti malam bagi tumbuhan. "Maksud kamu apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Trauma (Completed)
ФанфикшнCharis bertemu Wanda yang memanggilnya dengan nama Dika. Setelah bertahun-tahun akhirnya dia mengetahui siapa sosok lain yang bersemayam di tubuh yang sama itu. Kemudian, Wanda yang masih trauma dengan kepergian suaminya dihadapkan oleh dua orang b...
