34. Alter's Goodbye

498 88 12
                                        

Teya berpikir bahwa rencananya akan sangat mudah dilakukan. Sayangnya, sekarang dia terpaksa menunggu seseorang yang sama sekali tidak dia kenal ini di luar gedung megah dan dingin.

Untungnya di lobi, ada sebuah kafe kopi yang bisa dijadikan Teya sebagai tempat untuk menunggu. Benar-benar menunggu sampai sosok Charis muncul dari lift VIP dan keluar dari pintu utama.

Dia ingin menemui lelaki yang bertanggung jawab atas kehamilan salah satu pasiennya. Memang, ini terlihat berlebihan. Tapi setidaknya, dia tidak bertanya-tanya mengenai hubungan antara dua orang ini.

Sebab Teya curiga, kalau Wanda menyembunyikan kehamilannya dari sosok bernama Charis ini. Sebab dari apa yang diceritakan Wanda dalam beberapa kali pertemuannya, Charis bukan sosok yang bisa meninggalkan pasangannya setelah dia tahu bahwa perempuan ini hamil. Charis adalah orang yang bertanggung jawab.

Sebenarnya kantor ini tidak terlalu asing bagi Teya. Calon suaminya bekerja di sini. Menjabat salah satu jabatan penting. Tapi karena ini urusannya, tidak baik jika Teya meminta bantuak Bekti.

Sudah dua gelas dia memesan kopi dan mojito tanpa alkohol di sini. Kalau dua jam lagi sosok Charis tidak keluar, maka mungkin dia akan menyerah dan kembali esok hari. Tapi untungnya, sekitar 20 menit dari tekadnya itu, pintu lift VIP terbuka.

Charis muncul lebih awal, kemudian di belakangnya mengekor Bekti yang terlihat begitu kelelahan. Berjalan mengikuti Charis ke arah pintu keluar. Di sana mobil sedan hitam bersinar sudah menunggu. Lelaki itu akan pergi memenuhi agenda lain.

Teya yang melihat bahwa ini mungkin kesempatan satu-satunya segera berlari meninggalkan minuman ketiga yang dia pesan. Mengarah kepada Charis yang kini mengalihkan tatapannya kepada ponsel yang ada di dalam genggamannya.

Saat Teya sudah hampir tiba, Bekti menangkap bayangannya. "Hey, sayang? Kok kamu ada di sini?"

Teya tidak menggubris sapaan dari kekasihnya, yang dia lakukan adalah menepuk bahu Charis agar lelaki itu bisa menghadap ke arahnya. Melihat keberadaannya. Yang tentunya membuat Bekti kebingungan.

Charis membalikkan tubuhnya, kemudian menatap bingung ke arah Bekti dan Teya bergantian. "Kenapa?" katanya.

Teya yang kehabisan napas meraba jantungnya yang berdetak lebih kencang. "Sebentar," katanya sambil berusaha mengatur napas.

"Saya buru-buru. Kalau ada kepentingan tinggal bilang ke—"

"Wanda hamil, anak kamu," katanya menyela kalimat yang diberikan oleh Charis sebagai cara menghindarinya.

Bekti yang ada di belakang Teya tercengang. Begitu juga Charis yang saat itu tiba-tiba saja mematung. Seseorang yang ada di seberangnya menyapanya berkali-kali demi memastikan bahwa Charis masih di sana untuk mendengarkan.

Tapi, semua fungsi di tubuhnya tiba-tiba berhenti. Dia juga untuk sesaat merasa kesulitan bernapas. Apa tadi dia bilang? Wanda hamil. Anak siapa? Anaknya? Lalu?

"Kamu nggak bercanda? Gimana bisa saya percaya kamu?"

Charis bukan meragukan Wanda. Dia tahu Wanda akan jujur padanya. Tapi masalahnya, orang ini tiba-tiba saja muncul dan menjelaskan bahwa Wanda sedang mengandung anaknya. Dimana dirinya bahkan tidak pernah sekalipun bertemu Wanda setelah berbulan-bulan lamanya.

Di tengah pertanyaan yang meragukan, Bekti muncul mendadak di hadapannya, lalu memandang kesal ke arah Charis. "Dia dokter kandungan, calon istri yang sering gue bicarakan."

"Lo tahu Wanda hamil berarti?" Charis segera menuduh Bekti.

Mendengar kalimat penuh diskriminasi itu, Bekti melengos, lalu menoleh ke arah Teya yang jadi kesal dengan seluruh tanggapan yang Charis berikan. "Kamu lihat kan sekarang gimana nyebelinnya atasan aku beb?"

Trauma (Completed) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang