35. Between Jokes and Serious - end

652 87 14
                                        


He's Gone.

Wanda menyadari raut wajah Charis yang berubah panik saat mereka sedang bertatapan. Jadi dia ulurkan jemarinya ke arah ujung jemari milik Charis. Energi yang menggumpal di ujung tubuhnya itu dia salurkan dengan baik. Agar Charis bisa terlepas dari panik yang menyerang.

"Kenapa?" tanya Wanda pelan.

Pertemuan pertama setelah berbulan-bulan ini membuat Charis menyadari, bahwa separuh napasnya dibawa oleh Wanda. Saat ini entah kenapa rasanya sangat mudah sekali meraup oksigen di sekitarnya. Tidak seperti sebelumnya.

"He's gone," kata Charis penuh haru.

Bagaimanapun, Charis tahu kalau Dika merupakan bagian dari hidupnya. Jika separuh jiwa dan napasnya diberikan kepada Wanda. Maka separuh lainnya dia perebutkan dengan Dika.

"Siapa?" lirih Wanda, yang kini menatapnya sendu. Seperti air laut yang tenang.

"Dika," balas Charis tidak kalah pelan dan sendu.

Seharusnya, Charis tersenyum atau tertawa bahagia bukan? Seharusnya sekarang dia bisa bernafas dengan lega kan? Tapi kenapa rasanya menyedihkan? Membiarkan seseorang hilang dari hidupnya secara mendadak.

Wanda yang merasakan juga kehilangan itu menarik Charis untuk memeluknya. Membiarkan lelaki itu meluapkan emosinya yang menggantung di rongga dada. Seperti itu, Wanda menepuk-nepuk punggung Charis.

Butuh beberapa waktu, dan kini hanya sisa mereka berdua di dalam rumah. Sementara yang lain, pamit undur diri karena merasa Wanda dan Charis membutuhkan ruang privasi untuk berbicara.

Wanda tidak ingin mengomando percakapan saat itu. Dia membiarkan Charis menyampaikannya lebih dulu. Karena Wanda meyakini bahwa saat ini bukan dirinya yang membutuhkan Charis. Namun sebaliknya.

"Maafin aku," itu kalimat yang keluar dari bibir Charis pertama kalinya, saat dirinya merasa sudah sangat tenang.

Wanda mengangguk paham, lalu mengulum senyum, "Aku paham sama keadaan kamu. Kamu nggak perlu minta maaf, karena nggak ada yang salah."

"Aku harusnya cari kamu lebih cepat. Bukan nunggu waktu yang tepat. Aku.." Charis menyela kalimat Wanda meskipun dia tidak dapat menyelesaikannya dengan baik. Seperti apa yang dia inginkan.

"Aku paham Charis. Paham banget. Kamu tahu, waktu itu bukan ditunggu, tapi dikejar. Tapi butuh kesiapan yang matang. Terutama bagi kamu. Aku ngerti, mungkin kamu belum siap menghadapi apa yang terjadi," kata Wanda masih berusaha meyakini Charis.

Charis tidak ingin mendebat. Jauh-jauh dia datang kesini untuk menatap sesuatu yang sempat dia hancurkan. Jadi, dia harus segera menyepakati apapun yang Wanda inginkan termasuk pendapatnya soal situasi ini.

Tapi anehnya, Charis tidak tahu bagaimana dia memulai semua ini. menyelesaikan apa yang pernah terjadi dan menyebabkan kerenggangan antara hubungan mereka. Charis menyadari bahwa mungkin itu akan jauh lebih sulit dibandingkan apapun.

Melihat Wanda yang duduk dengan kerepotan. Membopong perutnya yang membesar membuat Charis semakin bersalah. "Pasti ada banyak momen yang nggak bisa aku lewatin bareng kamu Nda, you're amazing," kata Charis sungguh-sungguh.

Wanda tertawa kecil mendengar basa-basi Charis yang sebenarnya bukan Charis sekali. Tapi dia menghargai itu, karena tahu akan sangat sulit bagi Charis untuk memulai kembali semua ini.

"Nggak penting kan, seberat apa aku melalui ini semua. Kalau di masa depan kamu nggak akan pergi," itu kata Wanda, yang berusaha sangat tenang untuk menyampaikannya kepada Charis.

Wajah Charis yang sebelumnya menunduk kemudian terangkat, "Wanda?"

"Eh? Aku nggak salah ngira kan? Kalau kamu datang ke sini karena mau hidup bareng sama aku lagi?"

Trauma (Completed) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang