Tidak terasa sudah 6 bulan berlalu sejak duka ini memaksa masuk dalam pelukku,memakan perlahan seluruh tubuhku, menghabiskan bahagia dan meninggalkan hampa yang selalu beriringan dengan bayang rasa sakitnya,
"Aku tidak mungkin selamat"
kataku dalam hati saat menunggu malam berganti pagi yang keduanya tak luput dari kata sepi, dalam beberapa menit awal pada hari pertama di bulan kelahiranku ini, aku di sapa satu angin yang membawa sebuah warna lama, warna yang cukup membuat teduh di hati saat memilikinya, sebuah cinta tak sampai pada wanita yang lahir satu hari lebih cepat dari sang pemeran utama, cintaku padanya bagai sebuah pohon ketulusan yang tak pernah berbuah, karena tanah dan akarnya begitu jauh dan terjaga, hingga sulit untuk ku raih dan memupukinya, hingga akhirnya kupilih diam menatapnya dan memutuskan melukis segala tentangnya di dalam jiwa, aku memang tidak bisa memilikinya tapi itu tak menahanku untuk tidak bahagia karena kami lahir pada masa yang sama, malam ini aku berfikir dan menciptakan beberapa doa-doa harapan baru, bahwa aku selalu ingin dia sadar dan merasa bahwa ada aku yang selalu mencintainya, aku ingin namaku ada dalam kehidupannya, aku ingin berarti untuk dirinya, dan aku ingin dia.
Jakarta, 1 November, 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku, Hati dan Hidupku
PoetryBagiku Sajak dan Puisi adalah fase paling akhir dari kejujuran yang mewakili perasaan hati seseorang.
