[JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
____
Cuplikan:
"Bu, apakah tuhan tidak mencintaiku?" Untuk kedua kali dalam hidupnya ia bertanya hal aneh kepada seorang wanita yang paling berjasa dalam hidupnya, wanita paruh baya yang sudah mempertaruhkan nyaw...
~Aku selamat menyebrangi lautan, namun aku tenggelam dimataindahmu~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading ✨
Seperti orang pada umumnya, Lintang juga mengalami jet lag akibat dari perbedaan zona waktu Mesir dan Indonesia, namun tak serta merta membuatnya meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslim, ia tetap mengikuti sholat subuh berjamaah dan tadarus
Setelah menyelesaikan darusannya, Lintang berniat berjalan-jalan sekitar pesantren, itung-itung sambil menghirup udara pagi
Lintang bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari masjid, saat dipintu masjid ia tak sengaja berpapasan dengan wanita yang memakai mukena hitam
Kedua mata mereka tak sengaja bertemu, sempat terpaku beberapa detik namun keduanya langsung mengalihkan pandangan
"Astaghfirullah" batin mereka berdua
Lintang bergegas meninggalkan musholla, ia berniat mengunjungi tempat favoritnya, yaitu taman belakang pesantren, tempat menyejukkan
Kakinya berjalan menyusuri tempat itu, mencari bangku taman untuk ia duduki, suasana sepi, ia hanya ditemani oleh kicauan burung. Pohon yang berjejer teratur membuat tempat ini terlihat indah
Hah... Lintang menghirup udara pagi yang segar, udara Mesir dan Indonesia itu berbeda, setiap di Mesir, ia akan selalu merindukan aroma embun pagi yang khas seperti ini
"Langit"
Lintang mendengar suara wanita memanggil nama langit, apakah yang dimaksud adalah langit keponakannya? Anak mbak Mentari? Fikir Lintang
Lintang berinisiatif membantu wanita yang sedang resah dan bingung
"Assalamualaikum" ucap Lintang
"Waalaikumsalam" sontak wanita itu menoleh, mata mereka bersitatap untuk kedua kalinya, lagi-lagi Lintang terpaku dengan mata secoklat madu milik wanita bercadar itu, namun sebelum Lintang menyelam lebih dalam pada mata itu, sang pemilik dengan cepat mengalihkan pandangannya
"Ternyata wanita tadi" batin Lintang
"Ukhti sedang mencari Langit? Anak mbak Mentari?" Tanya Lintang
"Iya Gus"
"Dari tadi saya tidak melihat Langit disini, mungkin ukhti salah tempat"
"Kalau begitu, saya permisi, Assalamualaikum" pamit wanita itu dengan buru-buru
"Baru kali ini saya menemukan wanita yang menghindari saya, sungguh langkah" Lintang terkekeh melihat wanita tadi yang tidak nyaman berdekatan dengannya
"Shut.. om.. om.." Lintang mendengar suara anak kecil memanggilnya, padahal disini ia sedang sendirian, sepi dan sunyi... Buru-buru Lintang melafalkan ayat qursi
"Cepet langit, disamping kamu ada ulet tuh" Lintang menakuti Langit agar bocah itu berani turun
"Eh mana om... Mana? huaaaaa..bunda Langit takut" Langit sudah menangis sesenggukan
"Cepet turun Langit" Lintang sudah greget dengan Langit, bukannya lompat malah nangis diatas, yah mau tidak mau, ia harus memanjat
"Kamu ngapain bisa diatas"
"Tadi langit dipaksa bunda sama mbak Sarah mandi" Langit mengadu kepada Lintang, namun bukannya rasa kasihan yang didapat tapi Omelan dari Lintang
"Kamu ini udah gede kok masih takut mandi pagi"
"Dingin om" rengek Langit
"Alesan aja, sekarang om yang bakal mandiin kamu"
"Hua.. gak mau" Langit menangis dalam gendongan Lintang
Para santri dan santriwati melihat kearah Lintang yang sedang berjalan dengan Langit digendongannya
"Masyaallah Gus Lintang bagaikan bintang yang paling bersinar diantara bintang-bintang lainnya"
"Bismillah calon suami"
Sudah menjadi rahasia umum jika semua santriwati disini mengagumi sosok Gus Lintang, selain parasnya yang tampan, Gus Lintang juga adalah seorang hafidz dan pemuda yang berpendidikan
---
Sarah dan Mentari sudah keteteran mencari Langit, bocah satu itu memang susah untuk mandi pagi, Sarah sering membantu Mentari jika wanita itu kesulitan menghadapi drama pagi dari putranya
"Sarah sudah ketemu?" Tanya Mentari
"Belum mbak, sepertinya Gus langit bersembunyi ditempat berbeda kali ini" jawab Sarah, sejujurnya ia sudah capek mengelilingi pondok pesantren untuk mencari Langit
"Bundaaaa" teriak bocah kecil yang sedang meronta-ronta dalam gendongan lelaki dewasa
"Eh itu suara langit, Sar" ucap Mentari, mereka buru-buru keluar ndalem dan yang mereka dapati adalah Lintang yang sedang membopong Langit layaknya karung beras
"Astagfirullah Lintang, anak mbak kamu apain?" Teriak Mentari, jaraknya dengan Lintang lumayan jauh
"Hua... bunda tolongin Langit" teriak Langit
"Bocah nakal ini harus diberi hukuman, biar Lintang yang mandiin Langit"
"Terserah kamu deh" jawab Mentari dan melangkahkan kakinya masuk ndalem, Mentari juga sebenarnya kesal dengan anaknya itu, akhirnya ya... Ia serahkan ke Lintang ajalah, palingan juga Langit cuma diceburin di bak mandi
"Loh bunda.... Kok gitu sama Langit"
"Mbak Sarah tolongin Langit" Langit yang sudah tidak melihat tanda-tanda sang ibunda menolong akhirnya ia beralih meminta tolong kepada Sarah
Lintang melihat wanita yang dipanggil mbak Sarah oleh keponakannya ternyata wanita pemilik netra secoklat madu yang ia temui tadi
"Gus Langit setelah mandi langsung sarapan ya" Sarah berujar dengan lembut
"Mbak Sarah, hilang sudah harapan langit" lirih Langit, ia kira mbak Sarahnya yang baik mau menolong, nyatanya sama saja dengan bundanya, Langit sedih ya Allah.. kenapa semua orang memaksa Langit mandi padahal air sangat dingin batin Langit
"Sudah sekarang ikut om ke kamar mandi" Lintang yang sudah kesal langsung membawa langit ke kamar mandi
"Hua.. om Lintang" jerit Langit
-Tbc-
Terimakasihsudah membaca cerita yang acak-acakan ini Sending love from author💌