Absen dulu dong, darimana aja yang baca?
Selamat membaca! Jangan lupa vote-nya ya!
*****
Beberapa saat setelah acara haru biru kami. Suara takzim berkumandang, mengucapkan nama Tuan dan Nyonya Besar kediaman Dexter. Siapa lagi jika bukan Ayah dan Ibunda Lily.
Keduanya memasuki ruang makan dengan berdampingan. Ibunda Lily mengenakan gaun off-shoulder berwarna oranye, dengan ornamen mawar putih dan krem dibagian dadanya. Tak lupa rambut merahnya dikepang samping dengan setiap untaiannya tersemat aksesoris bunga kecil berwarna putih dan peach. Sementara Ayah mengenakan seragam bangsawan kebesarannya berwarna biru dan putih, dilehernya terpasang cravat berwarna biru pucat dan bros opal berwarna kuning.
Keduanya terlihat menawan, tetapi ada satu hal yang selama ini baru kusadari. Ibunda Lily tersenyum, namun tatapan matanya terlihat kosong. Seolah-olah dirinya enggan bersanding dengan Ayah. Selama ini aku tidak terlalu memperhatikan mereka berdua, dulu yang kulihat hanyalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Namun jika dipikir-pikir lagi, Ibunda Lily terlihat terpaksa ketika bersama Ayah.
Ayah mengambil tempat duduk tepat dikursi bagian kepala keluarga, yang berada disampingku. Sementara Ibunda Lily duduk disamping kanan Ayah, tepat didepanku. Sesuai dugaanku, Ayah menatapku tajam yang duduk tepat disampingnya. Dia pasti mengharapkan Sophie yang duduk disana.
"Putri Hailey," panggilnya padaku.
Lihatlah, memanggil namaku bahkan ia tak sudi. Terkadang aku berpikir, bagaimana aku bisa terlahir padahal dia benci setengah mati pada Ibu?
Aku agak membungkukkan badan menandakan kepatuhan sebagai seorang anak perempuan. "Ya, Yang Mulia Ayahanda?"
"Tukar tempat dengan Sophie. Sekarang," ujarnya.
"Kakak adalah anak pertama, Ayah. Sudah sewajarnya dia duduk disana sebagai penerus keluarga ini." Sophie angkat bicara.
Kulirik dari ujung mataku, kedua tangan Sophie mengepal dibawah meja makan. Wajah manisnya terlihat datar menandakan ia benar-benar marah. Nice, bencilah Ayahmu ini Sophie, dia sama sekali tidak berguna.
"Ayah tidak suka dibantah." Ayah berujar penuh penekanan.
Aura permusuhan semakin keluar dari tubuh Sophie. "Mengapa Ayah selalu pilih kasih terhadap kami? Kakak jugalah putrimu," ucap Sophie sengit.
Tulang rahang Ayah mengeras, matanya beralih menatapku sengit. Hei, hei, aku tidak pernah menghasut Sophie untuk membencimu. Kau saja yang tak berotak. Astaga, bersoda eh— berdosa sekali diriku.
Kulihat Ibunda Lily yang berada didepanku. Dia tidak berniat melerai Sophie dan Ayah sama sekali, ia malah tersenyum bangga. Dari dulu dia selalu setuju jika Sophie membangkang terhadap Ayah dalam segala hal. Ternyata kau memiliki banyak musuh disekitarmu Ayah, bahkan istri kesayanganmu juga salah satunya.
"Ini demi kebaikanmu." Pfftt— aku tertawa miris dalam hati.
Kebaikan? "Kebaikan atas apa, Yang Mulia Ayahanda? Demi kebaikan Sophie atau demi kebaikanmu?" Akhirnya aku angkat bicara. Aku sudah benar-benar muak akan sifatnya.
"Aku tidak menyuruhmu untuk berbicara, putri Hailey," desisnya.
Aku kembali mengatupkan bibirku. Baiklah, baiklah, kupatuhi perintahmu. Aku selalu mematuhi perintahmu Ayah, asal kau tahu itu.
Wajah Sophie terlihat memerah karena menahan amarahnya. Kedua tangannya mengepal dengan erat dibawah meja makan. Hingga akhirnya ...
GEBRAK!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
SNORETT: The Devil Lady
Fantasy[Warn: 17+ | Harsh Word | Blood Scene] [Judul awal "Freedom for The Evil Lady"] Freedom series #1 Snorett McDeux of Dexter, seorang nona muda dari keluarga Grand Duke of Dexter yang sangat terpandang. Namun sayangnya hidup sebagai putri seorang Gran...
