"Akhirnya datang juga kau, anak sialan!"
Wow, penyambutan yang sangat bagus. Setelah putri sulungmu ini menghilang selama seharian penuh; melewatkan makan siang dan makan malam, bahkan aku tidak sempat minum saat baru datang tadi. Dan kau malah mengatainya "anak sialan"?
Woah, contoh-contoh ayah yang sangat berbakti sekali ya, kawan-kawan. Kupastikan pelayan yang melahirkanmu itu sangat bangga. Tentu saja dia bangga, kau mengikuti jejak ayahmu yang selalu membeda-bedakan darah dagingnya sendiri. Memang ya, buah itu jatuh tak jauh dari pohonnya. Untung saja aku mengikuti jejak ibu bukan kau.
"Segala keagungan untuk Yang Mulia Ayahanda," ujarku penuh hormat dengan membungkukkan badan dan tangan mengangkat ujung gaunku.
"Kenapa kau tidak mati saja diluar sana, hah?!!" satu umpatan kembali terdengar dari congor iblis itu.
Aku yakin mataku mulai berkaca-kaca. Man, this is hurting my heart so much. Jujur, melupakan cintaku terhadap Adrien lebih mudah daripada melupakan harapanku terhadap Ayah.
"Ada apa Yang Mulia Ayahanda memanggil saya?" ucapku setenang mungkin, menutupi rasa sesak akibat umpatannya.
Okay, mungkin terdengar bodoh saat aku mengharapkan sesuatu yang sudah pasti tidak bisa aku dapatkan. But ... hear me out, bayangkan saja kalian seorang gadis kecil yang ingin merasakan kasih sayang seorang ayah, tetapi ayah kalian malah seperti ... you know-lah. Bukankah itu membuat kalian sakit hati?
Tetapi entah mengapa hal itu tidak membuatku benci padanya. Aku malah terkesan mencoba abai tetapi masih berharap, mengerti tidak?
Apa ... apa aku salah jika mengharapkan kasih sayang dari ayahku sendiri? Aku tahu dia takkan pernah membuka hatinya padaku, hanya saja salahkah jika aku sedikit berharap?
Kenapa aku dibedakan dengan Sophie, aku jugalah putrinya. Aku juga darah dagingnya. Kami berbagi DNA yang sama. Tetapi mengapa aku selalu dibedakan? Apa itu memang tradisi dalam keluarga ini? Dadaku terasa sesak setiap kali memikirkan hal ini. Like, why?!
Terkadang aku ingin seperti gadis lain, dimana ayah mereka adalah cinta pertama mereka. Tetapi dengan ayah yang seperti ini bisakah aku mendapatkan hal itu? Aku merasa pepatah "darah lebih kental daripada air" itu sangatlah salah. Kalau memang benar, mengapa saat aku dieksekusi dulu ayah tidak membantuku malah memberatkan hukumanku?
"Semua kesialanku memang berasal dari kau!"
Oh, great! Kau menyalahkan seorang anak kecil yang bahkan tak mengerti apapun. Bagus, bagus, sungguh sifat seorang pria dewasa. Lagipula kau menyalahkanku kesialan atas apa, hah?! Eh, sebentar!
Setelah kutelisik lebih lanjut dengan penampilan Ayah. Emm ... ada benjolan berwarna ungu yang cukup besar didahi sebelah kiri ayah dan sebuah memar kemerahan dipipi sebelah kanannya. Apa dia baru saja diseruduk banteng?
"Karena anak sialan sepertimu! Aku harus dipukuli oleh Lily lagi!" kali ini Ayah menaikkan suaranya, bahkan hidungnya kembang kempis menahan amarah.
Aku mengulum bibirku saat mendengar umpatan yang satu itu. I see ... dia baru saja berbaku hantam dengan Ibunda Lily. Aish, sudah dua kali aku melewatkan pertempuran epik semacam ini. Kapan lagi coba? Bisa melihat wanita anggun seperti Ibunda Lily menyerang seseorang dengan brutal. Apalagi targetnya itu pria dihadapanku ini.
Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya ini bukan pertama kali aku melihat Ayah dalam keadaan lebam-lebam, kecuali untuk yang kemarin. Dulu, atau beberapa bulan yang lalu atau mungkin setiap aku menangis karena Ayah. Ayah selalu berakhir dengan kepala diperban atau wajah membiru. Aku selalu melihatnya seperti itu saat berada dimeja makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SNORETT: The Devil Lady
Fantasía[Warn: 17+ | Harsh Word | Blood Scene] [Judul awal "Freedom for The Evil Lady"] Freedom series #1 Snorett McDeux of Dexter, seorang nona muda dari keluarga Grand Duke of Dexter yang sangat terpandang. Namun sayangnya hidup sebagai putri seorang Gran...
