Bab 41: Utusan dari Langit.

5.6K 476 13
                                        

| Bagi tuan-tuan, nyonya-nyonya, serta para adik gemoy pembaca cerita ini. Orca kembali ingatkan untuk menekan tombol bintang terlebih dahulu sebelum membaca. Jangan segan-segan untuk meninggalkan komentar juga! |

*****

"Yang Mulia awas!"

Alex terlalu terpaku pada Snow, hingga tidak menyadari ada monster lain yang turut hadir disisi gadis itu. Seekor monster raksasa percampuran antara burung hantu dan serigala melesat menyerang sang grand duke dari utara.

KLANG!!!

Monster itu berkoak marah, seolah-olah tak terima serangannya ditangkis oleh seorang penyihir. Sang monster kembali melesat menyerang Cedric yang berdiri membelakangi Alexander, melindungi pria itu dari serangan monster bersayap. "Yang Mulia! Menjauh dari tempat ini!" seru pria muda itu kalut.

Cedric secara cepat merapalkan mantra menyebabkan tanah keras tumbuh dari bawah dan menghantam tubuh monster itu hingga terlempar. Monster burung berakhir ditangan seorang ksatria resimen yang memenggal kepalanya lalu membakar monster itu menggunakan sihir.

Alex tersadar. Pandangannya bergulir melihat sekitarnya yang dipenuhi oleh asap hitam dan para ksatria yang telah menyebar untuk melindungi dirinya. Alexander tidak lemah, ia pernah beberapa kali dikirim ke medan perang saat masih muda untuk membela kekaisarannya. Walaupun tidak sesering putra bangsawan lain, ia tetap memiliki pengalaman di medan perang.

Sang grand duke dari utara kembali berdiri tegap sambil menarik pedang kebanggaannya dari dalam sarung. Mata setajam elang itu menatap sang putri diatas sana dengan tajam. Snow tampak tertawa girang sambil terbang berputar-putar tatkala melihat kekacauan yang dirinya ciptakan.

"Hancurlah kalian semua! HANCURLAH SELURUH DUNIA INI ATAS KEHENDAK SATAN!!! AHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!"

Alex meremas pegangan pedangnya dengan erat. Memikirkan cara bagaimana menghentikan kekacauan ini tanpa harus membunuh putri sulungnya.

Seekor monster berbentuk banteng bertubuh manusia berlari kearahnya. Alex bertahan dengan menciptakan balok es yang langsung menembus tubuh monster banteng itu. Tanpa sedikit pun rasa ampun, ia menebas leher monster itu dengan sekali ayunan pedang. Detik itu juga, kepala monster tersebut teronggok diatas tanah lalu meleleh dan berubah menjadi abu berwarna hitam.

Mati satu, tumbuh seribu. Itulah pepatah yang cocok menggambarkan situasi Alexander sekarang. Satu monster berhasil ia tumbangkan, namun kini malah diserbu oleh kawanan kurcaci tanah yang memiliki gigi runcing seperti gergaji.

Kurcaci-kurcaci itu menyerang dari berbagai sisi. Dengan beringas, mereka mengincar bagian kaki dan leher sang grand duke yang tampak memiliki celah. Namun makhluk-makhluk kerdil itu sama sekali bukanlah tandingan bagi Alex. Ia dengan mudahnya menendang maupun menebas monster-monster kerdil itu.

Merasa kurcaci yang menyerangnya semakin banyak, bapak beranak dua itu langsung merapalkan mantra sambil melakukan manuver memutar. Barikade es raksasa tumbuh dari tanah yang disentuh pedang pria itu hingga terbentuk lingkaran. Paku-paku es yang mencuat menusuk setiap tubuh kurcaci yang menyerang. Hanya dalam hitungan detik, kawanan makhluk kerdil itu langsung berubah menjadi abu.

"Arghh!" pekik Alex tertahan saat merasakan kakinya digigit oleh salah satu kurcaci itu.

Pria berkepala akhir tiga puluhan itu menundukkan kepala dan mendapati seekor kurcaci menggigit kakinya. Dengan santainya kurcaci itu tersenyum dengan gigi yang masih menancap hingga menembus zirah es pria itu. Tanpa rasa bersalah, Alex kembali menumbuhkan paku es dari zirah esnya yang langsung menembus kepala kurcaci itu. Darah berwarna hitam tampak mengalir dari sela-sela paku yang tertancap di kepala kurcaci itu lalu berubah menjadi abu.

SNORETT: The Devil LadyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang