.
.
"Herin?"- seruku saat melihat Herin baru saja keluar dari ruang Jeno. Aku baru balik dari apartemenku untuk mandi dan berganti pakaian setelah kemarin seharian dirumah sakit tanpa mandi.
Herin tersenyum menampilkan bolongan dipipinya, "Hei.."- balasnya.
"Sendirian?"- tanyaku. Tapi, sebelum Herin menjawab, aku sudah lebih tau duluan jawabannya. Mataku tidak sengaja menangkap sosok perempuan yang berada didalam ruangan Jeno. Aku menggenggam erat paper-bag yang kubawa. Aku tau itu jika perempuan yang didalam sana—yang sedang memeluk Jeno itu adalah Hina.
Herin sepertinya sadar akan arah mataku. Dia buru-buru menutup pintu ruangan Jeno yang tadinya belum tertutup dengan rapat.
"Aku sama Hina. Kebetulan dia mau ngomong bentar sama Jeno. Aku juga nggak tahan sama bau obat-obatan, jadi aku keluar deh,"- jelas Herin.
"Oh gitu ya,"- balasku sebiasa mungkin. Walau sebenarnya hatiku kacau sekali. Aku tau, aku nggak berhak buat cemburu atau semacamnya. Terlebih, Jeno lebih dulu mengenal Hina daripada aku. Tapi ya mau gimana, aku nggak bisa kan ngekontrolin hati aku untuk nggak cemburu?
Herin ngajak aku untuk duduk dikursi yang ada didekat koridor.
"Denger-denger, katanya pas Jeno kecelakaan kamu disana juga ya Ra?"- tanya Herin.
Aku mengangguk, "Iya, kebetulan waktu itu aku lagi diluar ke minimarket sekitar situ."-
"Jadi, kok bisa Jeno kecelakaan?"- tanya Herin lagi.
"Oh itu kare—"- aku terdiam. Sadar kalau aku hampir saja keceplosan. Manager Yoon sudah bilang kalau nggak ada yang boleh tau penyebab sebenarnya Jeno kecelakaan. Herin menatapku, seakan menunggu jawabanku yang tiba-tiba menggantung.
"Ra? Kamu kenapa?"-
Aku memutar otakku secepat mungkin. Bagaimana ya cara aku menjawab pertanyaan Herin ini?
"Eungh—itu.."- aku berusaha berkilah. Ayo dong otak, ayo muter!! Gimana cara jawabnya ini!!
"Kamu kenapa? Kenapa kayak orang kebingungan gitu sih?"-
"itu.."- aku berusaha mengalihkan tatapanku dari Herin. "Aku kayaknya lupa matiin kompor deh di apartemen aku,"- ujarku asal. Hanya itu satu-satunya kalimat yang terlintas diotakku untuk bisa menghindari pertanyaan Herin.
"What?"- pekik Herin, "Kamu teledor banget sih Ra!"-
"Hahaha iya nih. Kalau gitu aku balik dulu ya Rin, Bye Bye Bye!"- kataku lalu pergi meninggalkan Herin. Aku mendengar Herin setengah berteriak berkata 'hati-hati' padaku. Tapi aku hanya terus berlari. Ya, lebih baik kabur daripada aku keceplosan.
Aku keluar dari gedung rumah sakit. Udara diluar sebenarnya dingin sekali. Tapi aku tidak punya pilihan lain selain keluar dari sini. Selain ingin menghindari pertanyaan Herin, aku juga ingin menghindari Hina. Aku takut nanti hatiku sakit kalau ngeliat Hina secara langsung.
Bayangan tadi saat aku tidak sengaja melihat Hina memeluk Jeno, kembali terulang diotakku. Rasanya kesal, pengen marah, mau nangis, tapi emangnya aku siapa?
Dasar hati! Suka tidak tau diri!
Aku mendengus sebal sendiri, lalu memilih berjalan menuju area belakang rumah sakit. Masalah kompor yang lupa aku matiin, itu semua bohong. Jadi, aku tidak benar pulang ke apartemen karena lumayan jauh. Aku memilih untuk menunggu sebentar di taman belakang rumah sakit saja. Lagipula, aku harus memberikan titipan Jeno yang ada didalam paper bag ini. Kalau tidak, aku benar-benar akan pulang saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Rencard | Jeno Lee
RomanceLulus kuliah, apa yang harus kalian lakukan? Tentunya mencari pekerjaan, bukan? Ini kisahku, Na Yoora, sang freshgraduate yang sedang mencari pekerjaan di bidang PR Manager, tapi malah berakhir menjadi Asisten Idol. Daripada menjadi pengangguran, b...
