Sejak bertemu Jingga didepan ruang OSIS seminggu yang lalu, hari-hari Jian terasa kembali monoton seperti sedia kala ketika ia belum berteman dengan Harraz.
Datang sekolah kepagian, membawa bekal supaya tidak ke kantin, menghindari pergi ke ruang guru atau perpus, dan pulang sekolah agak terlambat, menunggu sekolah sepi dulu.
Teman Harraz yang tempo hari mengantarnya pulang itu, yang ia tau ternyata namanya Dwiki. Walau lelaki itu pernah bilang untuk tidak terlalu memikirkan ucapan Jingga, nyatanya otak Jian malah berkhianat. Bisa-bisanya seminggu full ia terus memikirkan kata demi kata yang gadis itu keluarkan.
Jian frustasi, bahkan kadang sampai menjambak rambutnya sendiri mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran negatif dari kepalanya. Seperti sekarang ini, dua telinganya sengaja di sumpal dengan headset yang memutarkan lagu-lagu kesukaannya, matanya membaca buku paket bahasa Indonesia yang nanti setelah istirahat akan mengadakan ulangan harian.
"Jangan terlalu keras sama diri sendiri." Ucap Jendra, tapi tentu saja Jian tidak mendengarnya karna ia memakai headset dengan suara yang lumayan kencang. Sampai ia tersentak ketika headset di sebelah kirinya dicabut paksa oleh Jendra. "Kata gue tadi jangan terlalu keras sama diri sendiri."
Jian mendengus pelan, "Jangan ganggu, saya lagi belajar."
"Lo kenapa sih?"
"Saya lagi belajar."
Jendra pasrah, lalu menyumpal telinga kiri Jian dengan headset yang ia ambil secara paksa tadi. "Orang aneh." Katanya, sebelum keluar dari kelas.
Jendra menuju kantin, bermaksud menjernihkan pikirannya sebelum nanti ulangan bahasa Indonesia, Jendra ini penganut paham, 'santai ajalah kan orang Indonesia.' makanya ia agak malas untuk belajar.
Tapi, matanya justru terfokus pada Wella dan Dwiki, teman sekelas Harraz kalau ia tak salah tebak. Langsung saja ia mendekat, karna dari raut wajah Wella terlihat seperti sedang membicarakan hal serius.
"Berduaan aja." Kata Jendra, membuat dua orang ini melihat kearahnya.
Wella menarik tangan lelaki itu agar duduk didekatnya. "Lo harus tau ternyata Jingga udah labrak Jian." Katanya dengan pekikan tertahan.
"Hah, kapan?"
"Seminggu yang lalu, Dwiki saksinya." Tunjuk Wella pada Dwiki.
"Aih, pantesan aja kalo gitu. Si Jian sensitif banget busetdah, ngalahin pantat bayi. Dia sekalinya overthinking tuh ngeri." Jendra mendekatkan kepalanya ke tengah, bermaksud ingin berbicara pelan, agar dua orang ini juga mendengarnya, "Si Harraz tau?"
Dwiki mengangguk, "Tau." Jawabnya, "Baru tadi pagi taunya, itu juga gue gak sengaja bilang."
Wella mengangguk-anggukan kepalanya, "Nyariin Jian pasti, ya?" dan Dwiki mengangguk sebagai jawaban.
"Kaget pasti si Harraz, pacarnya ketemu Jian." Gumam Jendra.
Wella sudah menggeram di tempatnya, "Liat aja pulang sekolah, gue jambak itu nenek lampir."
.
.
Jendra, Wella dan Jian berjalan bersama menuju depan sekolah. Sebenarnya Wella dan Jendra sudah menawari ingin mengantar lelaki manis itu pulang, tapi ditolaknya mentah-mentah dengan alasan sudah memesan ojol.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not The Main Character
FanfictionHajeongwoo area. Sedang asiknya duduk disana sambil menunggu Bu Lisa, wali kelasnya, perhatian Jian teralihkan pada seseorang yang mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan itu. Jian otomatis menoleh. Harraz sedang membawa tumpukan buku paket, berja...
