Jian mengetuk-ngetuk meja menggunakan pulpen ditangannya, pagi ini mendadak galau, padahal hari-hari sebelumnya sangatlah berwarna apalagi sekarang ia sudah mulai dekat dengan Harraz.
Oh iya, ngomong-ngomong soal Harraz, entah kenapa Jian merasa moment keduanya beberapa hari terakhir sungguh di luar ekspektasi awalnya. Dulu mungkin ia hanya berandai-andai bisa berteman dengan Harraz, tapi sekarang mereka menjadi teman. Bahkan pulang sekolah dan berangkat sekolah bersama pun yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya, sekarang malah kejadian.
Ini sungguh membingungkan.
Semesta sebaik ini padanya, dengan mendekatkan orang yang ia kagumi, tapi tetap saja Jian merasa aneh dengan ini semua.
Merasa seperti... terlalu lancar untuknya?
Bukankah yang seperti ini tidak seharusnya terjadi, maksudnya bagian ketika mereka pulang dan berangkat bersama. Bukankah seharusnya Jian menjaga jarak? Iya, tentu saja seharusnya begitu.
Jian hanya takut, rasanya pada Harraz akan semakin besar dan menuntut untuk dibalas. Sedangkan lelaki itu sudah memiliki tambatan hati. Pusing sekali Jian memikirkannya.
"Mikirin apa, brader?" Jendra baru datang dari kantin, menyodorkan susu kotak titipan Jian.
Jian tersadar dari lamunannya, tersenyum singkat sembari mengucapkan terima kasih.
"Yasudah kalo gak mau cerita." Lanjut Jendra, baru saja hendak pergi, namun tangannya di tarik oleh Jian. "Aish, plin-plan banget."
"Saya cuma ngerasa gak enak." Jawab Jian atas pertanyaan Jendra tadi.
"Gak enak?"
Jian menganggukkan kepalanya, "Gak enak sama Jingga." Oh, Jendra mengerti pembahasan ini akan kemana, "Rasanya, akhir-akhir ini saya terlalu deket sama Harraz. Kalo menurutmu, Jingga bakal marah gak, ya?"
"Menurut lo gimana?"
Jian mendengus, "Malah balik bertanya, saya kan nanya kamu."
"Iya, ini gue nanya pendapat lo dulu, menurut lo bakal marah gak?"
Makin melamunlah sobat galau kita ini.
"Saya rasa akan." Dengan raut wajah sendu, lelaki manis ini menjawab. "Saya ngerasa bersalah, kayak gak mikirin perasaannya."
Jendra menjadi sedih juga dibuatnya. "Kan lo sama Harraz cuma temenan, lo gak kepikiran buat ngerebut Harraz, kan?" Yang ditanyai hanya menggeleng lucu, "Nah yasudah, berarti gak masalah."
"Saya cuma takut."
"Ish, mikirin hal yang gak pasti mah emang nakutin diri sendiri, gimana kalo Jingga malah fine fine aja lo deket sama Harraz, ya karna emang cuma temen." Jendra menepuk pundak Jian yang lesu itu, "Sudahlah pejuang, gak usah khawatir."
"Kamu nyebelin."
.
.
Baru saja tadi merenung bersama Jendra di kelas, sekarang Jian sudah berdiri di depan pintu kelas bersama Harraz. Tiba-tiba lelaki ini datang ke kelasnya, dan tak sengaja bertemu dengan Jian yang baru saja mau menuju kantin.
"Jian, ada Wella gak?"
Jian melihat kedalam kelasnya lagi, tapi gadis itu tidak juga terlihat batang hidungnya. "Gak ada, Raz."
Bibirnya mengerucut, "Kemana tuh bocil, ya?" tanyanya lebih ke dirinya sendiri.
"Ke perpus, mungkin?" Jian juga menjawab dengan tidak yakin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not The Main Character
FanfictionHajeongwoo area. Sedang asiknya duduk disana sambil menunggu Bu Lisa, wali kelasnya, perhatian Jian teralihkan pada seseorang yang mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan itu. Jian otomatis menoleh. Harraz sedang membawa tumpukan buku paket, berja...
