"Jadi, lo sama Jian gimana?" Wella meregangkan tubuhnya, satu jam hanya duduk berdiam diri membuat pinggangnya sakit.
Harraz menatap langit malam, "Bingung gue." Jawabnya, "Gue tuh maunya, yaudah jalanin aja dulu. Gue nyaman sama Jian, Jian juga kayaknya begitu, sambil gue menata hati lagi dan nyari moment yang tepat."
Jendra memijit pelipisnya, "Bahasa lo terlalu berat."
"Lo aja yang bego." Ketus David.
Empat orang ini tengah berada di hotel ternama sejak dua jam yang lalu, acara makan malam pertemuan bisnis ini sudah berjalan sekitar dua bulan terakhir, ketika ayah Jendra dan ayah David tidak sengaja terlibat dalam satu proyek.
Isinya ada empat keluarga, keluarga Jendra, keluarga David, Keluarga Wella dan tentu saja keluarga Harraz. Karna acara intinya sudah selesai, mereka berempat sudah bisa meninggalkan meja.
Keempatnya serempak menuju balkon, dengan wajah Jendra yang selalu cemberut sejak kemarin dan wajah keruh lainnya yang tidak bisa dijelaskan.
"Oke." Jawab Wella atas pernyataan Harraz, "Gue gak bakalan nuntut lo buat lebih deket ke Jian dan sebagainya, karna yang gue liat selama ini lo nyaman-nyaman aja sama dia, kedepannya gue serahin ke lo aja." Gadis itu menoleh kearah Harraz, "Kalo lo macem-macem ke Jian, gue gorok leher lo."
Harraz menghembuskan nafas pelan, "Sahabat lo itu Jian apa gue sih?"
"Jian." Jawab gadis cantik itu tanpa berfikir, "Lo tolol soalnya, gue suka kesel."
David yang mendengarnya tertawa, lalu mendekatkan diri ke sebelah Wella, "Tapi udah lo pastiin kan, keluarga lo bakal nerima?"
Harraz mengangguk ragu, "Mama suka Jian sih."
"Then, your dad?"
Harraz menoleh pada David, "Not sure yet."
Wella mengangguk pelan, "Setidaknya keluarga lo gak kayak keluarga Jendra sih." Ucapnya, "Urusan om sama tante biar nanti gue yang bantu."
Jendra yang menutup wajahnya berdecak pelan, "Terus gue gimana?" Tanyanya, "Kalian gak niat kah bantuin gue?"
Wella mendelik, "Ya, jalan satu-satunya cuma lo harus cari pacar." Namun tiba-tiba, gadis itu seakan ingat sesuatu, "Gue punya ide."
Jendra menatap antusias pada Wella, "Apa?"
"Gimana kalo lo jadian sama kak Yasa Kumbara, kelas 12 IPA 1."
"Yasa Kumbara?" Tanya tiga lelaki itu dengan bingung.
Jendra sampai memejamkan matanya, mencoba mengingat seseorang dengan nama yang Wella sebutkan tadi, lalu wajah terkejutnya sukses membuat Wella terkekeh, "Tapi kenapa harus dia?"
Wella mengedikan bahunya, "Dicoba aja."
.
.
Siang ini Jian sedang menemani Wella duduk ditepi lapangan sambil membaca buku sejarah miliknya, sedangkan Wella sibuk memainkan ponselnya sambil sesekali tertawa.
"Jendra mana, ya?" Jian celingak-celinguk.
Wella mematikan ponselnya, lalu menoleh pada Jian, "Lagi ngerjain misi."
"Misi apa?"
Gadis itu tidak menjawab, hanya tersenyum manis sambil melipat tangannya di dada. "Nanti juga lo tau."
"Jian." Panggil seseorang dari belakang, membuat Jian dan juga Wella menoleh ke sumber suara.
"Ya, Harraz?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Not The Main Character
FanfictionHajeongwoo area. Sedang asiknya duduk disana sambil menunggu Bu Lisa, wali kelasnya, perhatian Jian teralihkan pada seseorang yang mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan itu. Jian otomatis menoleh. Harraz sedang membawa tumpukan buku paket, berja...
