Don't get sick, Harraz

3.1K 529 44
                                        

"Jadi bener, udah putus dari Jingga?" Wella menyandarkan punggungnya pada kasur milik Harraz, tangannya mengambil jajanan di dua plastik besar yang ia bawa tadi. "Kabarnya udah nyebar."

Harraz tertawa, "Orang-orang kenapa gercep banget dah."

"Ya namanya juga pasangan populer. Nih ya, kalo lo gak dikenal sama sekali, jangankan lo putus, lo jatoh aja kaga ada yang peduli." Ucap Jendra yang duduk disebelah Wella, lelaki itu tidak pernah berhenti mengunyah jajanan yang mereka beli tadi.

Harraz mengangguk-angguk membenarkan, ya Harraz sadar dirinya cukup populer, dikalangan siswa maupun guru-guru. "Jadi, kalian kesini karna tau gue udah putus?" Tanyanya.

"Exactly." Jawab Jendra dan Wella serempak, "Kalo belum putus mah, ngapain susah-susah kesini." Sambung gadis cantik itu.

Sedangkan Jian hanya berdiam diri, tidak tau harus bereaksi seperti apa mengenai kandasnya hubungan Harraz ini. Haruskah ia dengan terang-terangan menyunggingkan senyum seperti Jendra dan Wella, atau merasa sedih karna mungkin dirinya ini cukup mengganggu dihubungan mereka?

Wella memegang perutnya, "Gue laper deh, tante masak gak, ya?" Tante yang dimaksud itu adalah ibu Harraz.

Jendra juga mengerang memegang perutnya, "Kita ke bawah deh, nyari makan."

Lalu dua orang itu beranjak, entahlah sengaja atau tidak, tapi keduanya meninggalkan Jian dan Harraz dalam keheningan. Jian yang tak kunjung membuka suara, dan Harraz yang merasa canggung, karna mengetahui perasaan Jian dari Jingga kemarin malam.

Benarkah begitu? apa gadis yang sekarang berstatus sebagai mantannya itu hanya membual? pasalnya Jian tidak menunjukkan gelagat aneh seperti orang yang menyukainya. Lelaki ini cenderung cuek, bahkan sering menolak ajakan Harraz beberapakali.

Asik dengan pikirannya, Harraz sedikit tersentak ketika tiba-tiba Jian membuka suara, "Tadi Wella bohong." Katanya, Harraz masih mendengarkan, "Kami datang kesini, karna kata David kamu sakit."

Harraz tertawa, David melebih-lebihkan.

"Harraz, baik-baik aja?" Tanya lelaki itu, matanya menunjukkan binar khawatir yang bisa Harraz tangkap dengan mudah, kepalanya miring sedikit, ah lelaki ini lucu sekali.

Harraz tersenyum kecil, "Gak ada orang yang baik-baik aja setelah putus, Ji."

"Ah, maaf."

Kemudian hening lagi, Jian yang takut bersuara dan Harraz yang menunggu Jian berbicara lagi.

"Harraz sakit?" Tanya Jian lagi, Harraz memusatkan atensi pada lelaki yang sepertinya tidak begitu puas dengan jawaban Harraz tadi. "Ah, maksud saya demam, flu atau sebagainya?"

Harraz menggeleng.

"Harraz pucet soalnya, sudah makan?" Kalian harus liat Jian yang banyak bertanya seperti ini sangat menggemaskan.

Harraz menggeleng lagi.

"Harus makan Harraz, nanti jadi sakit." Katanya merespon gelengan kepala Harraz, "Waktu David bilang Harraz sakit, saya sebenernya mau belikan buah-buahan untuk Harraz, tapi di tolak sama Wella."

Mata Harraz menoleh pada dua plastik besar snack yang tiga orang tadi bawa ke kamarnya, "Gapapa, Ji, gue gak sakit, kok."

Ya, sakit hati sedikit.

"Syukurlah kalau begitu." Jawabnya, "Saya mau pulang dulu, Raz. Sudah sore."

"Ji." panggil Harraz ketika melihat Jian hendak bangkit, dan Jian diam terpaku menatap Harraz dengan sebelah alisnya naik pertanda menunggu Harraz berbicara lagi, mengutarakan maksudnya. "Pinjem pelukan bentar, boleh?"

Not The Main CharacterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang