Past and future

3K 484 32
                                        

Kata maaf tak henti-hentinya Harraz kirimkan pada Jian melalui pesan singkat, jujur saja lelaki itu sangat takut Jian menganggapnya aneh, atau melabelinya sebagai lelaki mesum.

Tapi untungnya, pikiran anehnya itu segera hilang ketika Jian merespon pesannya dengan biasa saja, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Setidaknya itu lebih baik.

Pagi ini, Harraz sudah siap dengan seragam batik sekolahnya, memasang sepatu dan menjemput si manis yang akhir-akhir ini sering bersamanya, siapa lagi kalau bukan Jian. Harraz sudah berjanji akan mengajak Jian sarapan di tempat bubur langganannya, walau Harraz juga kurang tau sih, Jian suka bubur apa nggak.

Menaiki motor matic kebanggaannya, membelah jalanan ibu kota yang sangat ramai walau matahari baru saja terlihat. Sepuluh menit perjalanan sungguh tak terasa, Harraz sudah memarkirkan motornya di halaman rumah Jian yang selalu sepi ini.

Jian keluar dan mengunci pintu rumahnya, lalu tersenyum pada Harraz yang senyumnya bahkan sudah merekah sejak di persimpangan jalan ke rumah Jian. "Pagi, Ji."

Senyum dibibir Jian semakin terlihat, walau tingkah lelaki itu terkesan malu-malu, "Pagi juga, Harraz."

Jian naik dan motor melaju dengan kecepatan sedang, menikmati udara pagi yang lumayan dingin. Harraz senang, Jian sudah tidak malu lagi memegang pinggangnya ketika dibonceng. Biasanya Harraz lah yang akan meraih tangan Jian dan melingkarkan pada pinggangnya, namun kali ini atas inisiatif lelaki itu sendiri.

Harraz menepikan motornya tak jauh dari tempat bubur ayam yang lumayan ramai, bahkan beberapa meja diisi oleh anak sekolahan seperti mereka. Untungnya masih ada meja kosong di pojok, setelah menyebutkan pesanannya, keduanya duduk dengan tenang sambil terus menyunggingkan senyum satu sama lain.

Canggung.

Tidak bohong, potongan kejadian ketika di rumah Jian itu seringkali terputar dikepala Harraz, membuat lelaki itu memejamkan matanya dan menunduk menahan malu.

"Ji." Panggil Harraz pelan, ketika sudah lama berdiam diri. Bahkan Jian ikut-ikutan mendiamkannya.

"Hmm?" Respon yang lebih muda, ia sedang melihat grup kelas yang ada diponselnya.

"Lo suka bubur kan?" Tanya Harraz, "Kalo gak suka jangan maksain, nanti kita cari sarapan lain."

Jian tersenyum, tangannya bergerak menyimpan ponselnya pada saku celana, "Suka, Harraz. Saya gak masalah mau makan apa juga, gak ada pantangan." Jawabnya.

Harraz tersenyum lalu mengangguk, bersamaan dengan Mas bubur yang datang mengantarkan pesanan keduanya. Sempat ada keheningan di meja mereka untuk beberapa saat, sebelum Harraz yang melihat Jian sangat antusias menyantap bubur miliknya, "Enak kan?"

Jian mengangguk ribut, "Enak banget, kayaknya ini bubur terenak yang pernah saya coba."

Harraz tertawa, tingkah si manis selalu sukses mengundang tawanya. "Nanti lain kali kita sarapan disini lagi ya, Ji."

Anggukan lagi yang Harraz dapatkan, "Siap."

Jian ini seperti energi baru bagi Harraz, ia pernah mencintai dan kehilangan, kehadiran Jian itu bagai semangat baru untuknya. Tak menafikan kalau ia memang nyaman bersama Jian, bahkan mungkin perasaan itu ada ketika dirinya masih bersama Jingga.

Seringkali dirinya dibuat bingung, disatu sisi mencintai Jingga, namun disisi lain juga tidak mau berjauhan dengan Jian. Bersama keduanya memberikan efek yang berbeda. Jika bersama Jingga, Harraz merasa senang, menyalurkan semua perhatiannya pada gadis itu dan menciptakan senyum manis yang bahkan tak bisa Harraz lupakan. Kalau bersama Jian, Harraz merasa nyaman. Jian itu manis, dari wajah, tutur katanya hingga perilakunya, Jian sangat manis, apalagi kala pipi gembulnya itu bersemu merah dan mata bak serigala itu menyipit, belum lagi ketika dirinya merasa bingung, Jian akan terdiam dengan mata yang berkedip beberapa kali. Harraz suka itu, Harraz suka Jian. Tapi ia juga suka Jingga.

Not The Main CharacterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang