"Rasa cinta yang sebenarnya ada. Namun, terhalang oleh status yang bergelar musuh."
kalian pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi Humaira? gadis pintar berpipi merah dengan segala moodnya. Hidupnya tak lagi tenang semenjak gempa menerpa kehidupa...
Oke di sini nggak mau banyak basa-basi. Langsung aja keceritanya. Oh iya, jangan lupa vote and komen. Udah bela-belain loh ini up cepet. Padahal tugas lagi numpuk-numpuknya. sedikit curhat!!!
Nemu cerita Gempano Skala dari mana?
Si Gempa kalo tidur meresahkan 🗿
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
HAPPY READING!!!
"CIUMAN?"
°Gempano°
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"MAH, HUMAIRA BERANGKAT."
Humaira berteriak dengan berlari menuruni tangga. Meraih sebelah tali ranselnya, lalu berjalan menuju pintu utama.
"HUMAIRA SARAPAN DULU!"
Humaira berdecak. Waktunya memang tidak mepet. Tapi, kalau di buat jalan kaki tidak mungkin akan cepat sampai.
"HUMAIRA UDAH TERLAMBAT MAH," teriak Humaira dengan santai memakai sneaker putihnya.
"MAMA TAU KAMU BOHONG HUMAIRA. CEPET SARAPAN, NANTI MAGHKAMU KAMBUH!"
Nah loh, ketauan.
Humaira mendengus. Selesai mengikat tali sepatunya. Lalu kembali berjalan kedalam rumah. Terlihat di ruang makan, Mamanya yang tengah menyiapkan sarapan. Di temani oleh Papa Damar yang tengah tersenyum manis. Astaga, Humaira sampai lupa jika ia sekarang mempunyai Papa.
"Sarapan dulu Humaira! Biar ada tenaga untuk sekolah," ujar Damar dengan senyum manisnya.
Humaira mengangguk. Mengambil sendok dan garpu lalu menunggu Mamanya menyiapkan nasi goreng.