Gempano 44

31 2 3
                                        

BELLO...

GIMANA KABAR KALIAN? KALO BAIK AYOK BACA DULU, KITA NGGAK TAU GIMANA NASIB HUMAIRA KEDEPANNYA INI...

Happy Reading!

"Kembali,"

°Gempano°

Gempa kini menatap Humaira yang tertidur di ranjang dengan lelap, tangannya yang terbalut perban membuat Gempa benar-benar khawatir. Gempa meraih tangan Humaira, ia duduk di samping ranjang dan membawa tangan yang terbalut perban itu ke pipinya.

Setelah kehilangan ingatannya, sikap Humaira menjadi lebih pendiam dan dingin. Gempa tidak pernah melihat Humaira bersikap sedingin itu dengan orangtuanya. Apalagi dengan Papa Damar, yang telah menghilang selama 18 tahun. Perasaan kemarin Humaira fine-fine aja.

"Gempa... gue takut," gumam Humaira namun matanya masih tertutup. Ia mengigau dengan menyebut nama Gempa.

Gempa tersenyum, mengecup pelan tangan Humaira. "Nggak papa Gue di sini," ucap Gempa.

Humaira bergerak gelisah dalam tidurnya, keningnya mengkerut. "Gue cinta..." gumam Humaira lagi dengan posisi tidur memeluk guling.

"Kangkung tumis," lanjut Humaira menginggau.

Gempa menahan tawanya, ia mengerutkan keningnya mendengar Humaira mengigau. Humaira cinta kangkung tumis? Apa Gempa tidak salah dengar. Gempa menghela napas pelan, ia mengusap kepala Humaira dengan lembut.

"Stt... Nanti kita masak." Ucap Gempa.

Tok tok tok...

Gempa menoleh kala terdengar suara ketukan pintu, Gempa segera meletakkan tangan Humaira dengan posisi nyaman. Ia membuka pintu dengan pelan.

"Gempa, Humaira mana?" Tanya Papa Damar yang kini membawa segelas susu hangat.

Gempa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tidur Om," jawab Gempa membuat tatapan Papa Damar menajam menatap Gempa.

"Terus kenapa kamu masih di sini?" Tanya Papa Damar dengan menatap jengkel Gempa. "Kamu nggak ngapa-ngapain Anak saya kan?" lanjut Papa Damar.

Gempa terkekeh pelan. "Cium tangannya dikit tadi," jawab Gempa dengan jujur.

Papa Damar menghela napas. "Saya nyuruh kamu jagain anak saya. Bukan nyium anak saya sembarangan."

Gempa menyengir tanpa rasa bersalah. Tersadar akan sesuatu, ekspresi Gempa berubah serius. "Om Bisa ngobrol sebentar?" tanya Gempa.

Papa Damar nampak mengerutkan keningnya. Mengangguk pelan, Papa Damar mengajak Gempa menuju ruang keluarga. Pria paruh baya itu menaruh susu hangat di dapur, lalu menemui Gempa.

"Kenapa?" Tanya Papa Damar.

"Azhar, bunuh diri." Jawab Gempa to the point.

Damar nampak menghela napas, ia mengangguk pelan. "Om sudah tahu," jawab Papa Damar.

Gempa mengerutkan keningnya. Menatap Papa Damar yang kini terlihat menerawang sesuatu. "Saat di penjara, dia bunuh diri dengan sebuah silet yang dia temukan di saku bajunya." Lanjut Papa Damar membuat Gempa terdiam.

GEMPANO SKALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang