Gempano 43

23 2 1
                                        

BELLO...

GIMANA KABAR KALIAN? BAIK DONG PASTI, AYO VOTE!!! CEPAT!!!

NY SEDANG RAJIN BUKAN WP, JADI UPDATENYA SEKARANG TIAP HARI... KALO KALIAN LUPA ALUR CERITANYA, YUK BACA DARI ATAS... SEMANGAT YA...

OH YA, NY MAU NGUCAPIN TERIMAKASIH BUAT YANG BELUM HAPUS GEMPA DARI PERPUSNYA...

Happy reading!

"Bunuh diri."

°Gempano°

Humaira menghela napas lega kala sampai meja kantin dengan makanan yang aman. Tidak di ganggu oleh si setan Gempa yang sedari tadi pagi terus membuntutinya. Dan sekarang, entah kemana dia pergi.

"Hai, Humaira." Sapa seseorang membuat Humaira tersenyum.

"Hai," jawab Humaira dengan kening mengkerut. Humaira tampak bingung melihat cowok di depannya ini. Humaira melirik Amanda yang kini juga menatap Humaira dengan senyum kecil.

"Itu Emandra ketua osis," jelas Amanda membuat Humaira mengangguk pelan.

Eman tampak kecewa, namun ia berusaha untuk tersenyum. Humaira, juga melupakan dirinya?

"Lo, udah baikan?" Tanya Eman yang di angguki eh Humaira.

"Udah," jawab Humaira dengan ragu.

"Bagus deh," ucap Eman dengan mengelus pelan kepala Humaira.

Humaira sontak terkejut, ia menatap Eman dengan tatapan kaget. "Maaf? Kayaknya itu berlebihan deh." Ucapnya dengan menepis tangan Eman dari tangannya.

"IYA BERLEBIHAN BANGET MALAH," Tegas seseorang memasuki kantin dengan berjalan cepat. Gempa dengan kasar mendorong Eman menjauh dari Humaira.

Humaira yang melihat itu sontak kaget. "GEMPA!" Teriak Humaira menahan tubuh Gempa.

Eman hanya terkekeh pelan, ia mundur dan menatap Humaira yang kini tengah menatap Gempa dengan membelakangi Eman. Mereka tampak serasi, rasanya Eman tidak akan pernah bisa masuk dalam hidup Humaira. Apalagi saat ini Humaira telah melupakan segala tentangnya, Tentang Eman.

Gempa menatap Eman datar, beralih menatap Humaira yang kini terlihat kesal. "Kenapa? Gue pacar Lo? Dan dia tau itu." Ucap Gempa membuat seisi kantin menoleh kearah mereka.

Humaira menelan Salivanya paksa, ia hanya menghela napas dengan pelan. Kenapa Gempa semakin bertambah Possesif dari sebelumnya. Humaira menatap Gempa dengan bersedekap. "Tapi Gue yang nggak tau." Jawab Humaira.

"Gue nggak pernah ngerasa kalo Gue punya pacar, dan Gue nggak ngerasa Suka ataupun Cinta sama Lo." Lanjut Humaira membuat seisi kantin hening. Bahkan suara jangkrik pun tak ada.

Gempa mengepalkan tangannya, rasa kecewanya semakin bertambah. Humaira boleh melupakannya, tapi Dia tidak boleh mengabaikan cintanya. Cinta Gempa itu nyata, rasanya selama tiga tahun ini nyata. Dan kalian semualah saksi cintanya.

Gempa mencengkram bahu Humaira, tangannya gemetar dengan rahang yang mengeras. "Maksudnya gimana sayang?" Tanya Gempa dengan mengeratkan cengkramannya.

GEMPANO SKALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang