EKHEM... TES... HALLO SEMUANYA...
GIMANA KABAR KALIAN? NY KEMBALI DENGAN CERITA LAMA HAHA... YUK DI BACA, BUAT YANG BELUM HAPUS GEMPA DARI PERPUSTAKAANNYA THANKS YA...
SEGERA AKAN KU TAMATKAN CERITA INI...
Happy reading!
"Terasa Aneh,"
•Gempano•
"Gimana? Nggak nyesel 'kan Lo ikut Gue," ucap Gempa dengan senyuman tengilnya. Walaupun gadis di belakangnya tidak bisa melihat ekspresinya karena sedang berada di atas motor.
Humaira memutar bola matanya, namun tidak bisa di pungkiri ia memang tidak menyesal. "Hmm..." Jawab Humaira dengan tersenyum samar.
Jam sudah menunjukan pukul 7 malam, Humaira harus segera pulang karena Mamanya akan Khawatir jika ia terlalu lama di luar.
Gempa memasukkan motornya ke garasi rumahnya. Humaira menyerangit, akan tetapi ia segera turun dan menyerahkan Helmnya.
"Gue, pulang dulu." Ucap Hara melangkah meninggalkan Gempa.
Namun, Gempa dengan cepat mencekal tangannya. "Tunggu," katanya dengan tersenyum tengil.
"Apa lagi?" Tanya Hara dengan helaan napas panjang.
"Rumah gue lagi kosong, lo nggak mau mampir?" Tanya Gempa membuat Humaira tampak bingung.
"Ngapain?" Tanya Humaira.
"Main," jawab Gempa dengan enteng.
Humaira menghela napas panjang, ia melepas tangan Gempa dari lengannya. "Udah malem, nanti gerebek warga." Jawab Hara kini berjalan keluar dari rumah Gempa.
Gempa mengejar Humaira dengan sesekali bersiul. "Hum," panggil Gempa.
"Jangan pulang dulu kek," ujar Gempa dengan terus mengikuti langkah Humaira.
Humaira berdecak. "Tch, Gue capek Gempa." Ujar Hara dengan terus berjalan.
Gempa melirik ke sekitar, Damar telah mewanti-wanti Gempa untuk pulang agak terlambat sedikit karena katanya Damar sedang ingin berduaan dengan istrinya.
Gempa dengan mengertipun dengan sepenuh hati menuruti. Namun, saat di danau tadi Humaira terus saja merengek meminta pulang.
"Istirahat di kamar gue aja," ucap Gempa dengan pelan.
Humaira menatap Gempa dengan heran. "Nggak mau lah, Lo pikir Gue cewek apaan?" Ujar Humaira sedikit ngegas.
Gempa tersenyum jahil. "Lho kenapa sayang? Bukannya udah biasa?" Balas Gempa dengan menarik tangan Humaira agar berhenti.
"Gue tonjok Lo Gem lama-lama," ucap Hara dengan pipinya yang sudah memerah semakin merah bak tomat.
Gempa menghela napas panjang, melirik ke sekitar berpikir panjang untuk mencari alasan agar Humaira tidak pulang.
"Es Krim lima, jajan sepuas Lo." Tawar Gempa.
"Dil," jawab Humaira dengan cepat menarik Gempa menuju Indomey yang dekat dari rumahnya.
Gempa terkekeh, walaupun Humaira kehilangan ingatannya. Ia tidak pernah berubah, selalu menerima tawaran tanpa di tanya dua kali.
Humaira berjalan riang menuju Indomey terdekat, ia sesekali melirik Gempa yang terus menerus menatap wajahnya. Ada senyum samar di bibirnya kala melihat Gempa yang terlihat baik-baik saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
GEMPANO SKALA
Teen Fiction"Rasa cinta yang sebenarnya ada. Namun, terhalang oleh status yang bergelar musuh." kalian pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi Humaira? gadis pintar berpipi merah dengan segala moodnya. Hidupnya tak lagi tenang semenjak gempa menerpa kehidupa...
