Setelah Bumi mengantarkannya dan mengobrol dengan papi tadi, Thara segera bergegas ke kamar. Ia sangat kesal dengan Bumi karena berbicara pada papinya yabg tidak-tidak. Thara juga kesal dengan papinya, jika biasanya papi melarang keras Thara berhubungan dengan laki-laki lain, mengapa dengan Bumi tidak?
Thara menaruh tas selempang yang ia bawa tadi ke tempat semula. Ia akan mandi dan setelah itu belajar. Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin dia akan membereskan kamarnya lebih dulu. Supaya ia nyaman saat belajar nanti. Rumah Thara memang ada pembantu, tapi untuk kebersihan kamarnya, Thara lebih memilih membersihkannya sendiri, ia rasa, kamarnya adalah privasinya.
Sembari bersih-bersih, Thara sesekali melirik halaman rumah melalui balkon di kamarnya. Ia berdecak sebal kala melihat Bumi masih asyik mengobrol dengan papi. Mereka terlihat sangat akrab dari yang Thara bayangkan. Ingin rasanya Thara melemparkan sepatu miliknya pada wajah Bumi. Tanpa diduga, Bumi tiba-tiba mengalihkan pandangannya, sehingga mata keduanya bertemu. Bumi tersenyum sumringah, dia melambai-lambaikan tangannya kepada Thara. Thara menggerakkan bibirnya seolah mengucapkan kata 'fuck you' kepada Bumi.
Bumi tertawa pelan, cowok itu malah melayangkan kiss bye nya kepada Thara. Thara menggeleng tak habis pikir, jika papi tidak di rumah, mungkin saja Thara akan memaki lelaki bernama Bumi Abisaka itu. Thara menarik nafas dalam-dalam, daripada meladeni Bumi, lebih baik ia segera beres-beres kamarnya.
Dimulai dari membereskan buku-bukunya, Thara menaruh kembali bukunya di tempat semula, agar terlihat rapi. Selesai dengan buku, ia kini membersihkan tempat tidurnya. Hari ini Thara akan mengganti seprainya, agar saat tidur nanti, dia merasa lebih nyaman. Pada saat yang bersamaan, pintu kamar Thara terbuka dari luar.
"Lagi apa kamu, Tha?" Papi bertanya kepada anak bontotnya itu. Melihat kedatangan papinya, Thara menghentikan sejenak kegiatannya. Dia merubah posisinya menjadi berhadapan dengan papi.
"Beresin kasur, pi. Papi sendiri? Tumben kok ke kamar Thara?" Thara terheran. Papi memang jarang masuk ke kamarnya, beliau masuk ke kamarnya jika ada hal penting yang ingin dibicarakan saja. Itupun sangat jarang.
"Papi setuju kalau kamu sama Bumi." Celetuk papi tiba-tiba. Thara ingin mengatakan sesuatu, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
"Papi apa sih, kita sebenernya nggak begitu kenal, Pi." Bantah Thara sembari terkekeh garing. Thara sudah mengira, jika Bumi tadi pasti sudah bilang yang tidak-tidak kepada papinya.
"Makanya kenalan. Papi lebih suka sama dia ketimbang temen-temen cowok kamu itu. Bumi sudah jelas orangnya, dia baik sama papi."
"Baik sama papi, tapi kan belum tentu kalau sama Thara. Lagian temen-temen Thara jelas semua kok, Pi, mereka baik-baik juga."
Mendengar penuturan sang anak, papi tiba-tiba hendak pergi meninggalkan Thara. "Tadi Bumi bilang, dia mau jemput kamu besok, dan satu lagi, papi sudah kasih nomor handphone kamu sama dia." Papi pergi setelah mengatakan itu. Thara mendesah pelan. Dia tidak suka jika hidupnya diatur-atur.
"Nggak usah dipikirin, Tha, lakuin apapun yang bisa buat lo seneng." Ujar Thara meyakinkan dirinya sendiri.
Thara kembali melanjutkan kegiatannya. Ia berniat membersihkan diri dan dilanjutkan belajar setelah selesai membersihkan kamarnya nanti. Oleh karena itu, Thara ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya ini agar selesai belajar tidak sampai larut malam.
Selesai dengan apa yang ia kerjakan sebelumnya, Thara pun akhirnya mandi. Tidak lama, karena ia tidak membasuh rambutnya. Selesai mandi, Thara melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Ia keluar dari kamarnya hendak mengambil makan malamnya. Untuk malam ini, sepertinya Thara akan makan di dalam kamar saja. Ia masih sedikit bad mood karena masalah Bumi tadi.
Sesampainya di ruang makan, Thara langsung mengambil piring beserta nasi dan lauknya. Papi belum turun, mungkin sebentar lagi, pikir Thara.
"Nggak makan disini, Non?" Tanya art yang bekerja di rumah Thara. Thara yang tadinya sudah berjalan pun, akhirnya berbalik. Dia menggeleng pelan, "Nggak mbak, nanti kalo papi nyari, bilang aja Thara makan di kamar, ya." Kata Thara berpesan.
"Siap!"
Thara kembali berjalan, ia sedikit kesulitan memegang kenop pintu. Salah satu tangannya ia gunakan untuk membawa piring, dan satunya lagi membawa gelas. Mau tak mau, Thara menaruh gelas berisi minumnya itu di bawah.
Pintu kamar terbuka, Thara kembali mengambil gelasnya dan segera masuk ke dalam kamar. Setelah menaruh makanannya di nakas, Thara berjalan ke arah pintu dan menutupnya kembali. Tidak lupa, Thara jug menguncinya.
Sebelum memakan makanannya, Thara lebih dulu mengambil remote tv miliknya. Ia akan makan dengan ditemani televisi.
Ponsel Thara berdering. Cewek itu berdecak sebal, ia baru saja memakan makanannya satu suap. Thara mengerutkan keningnya, ia mendapat panggilan video dari nomor yang tidak ia kenali. Malas menjawabnya, Thara kembali menaruh ponselnya di nakas. Ia yakin, jika orang yang menelpon itu tidaklah penting.
Baru beberapa sendok Thara memasukkan makanannya ke dalam mulut, ponselnya kembali berdering. Thara kesal, dengan terpaksa ia menjawabnya. Thara terkejut kala melihat wajah Bumi di layar ponselnya. Refleks, dia melotot sembari membuka mulutnya.
Di sebrang sana, Bumi tertawa kecil melihat ekspresi wajah Thara. Menurutnya, Thara sangat lucu. "Kaget liat muka orang ganteng, ya?" Tanyanya bergurau.
"Najis." Sarkas Thara lalu mematikan sambungan teleponnya. Thara menggeram marah. Seketika mood makannya menjadi hilang, padahal ia tadi sangat lapar.
"Bumi sialan." Umpatnya pelan.
822 kata.
Secuil jejak anda, seribu semangat saya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELBITHARA
Teen Fiction"Tha, kata temen-temen gue kita sedikit mirip tau. Katanya kalo pasangan terus mirip itu bakalan jodoh sih." "Mukanya emang mirip, agamanya aja yang enggak." 🌺🌺🌺 "Gue udah lupa, gue udah nyaman jalanin hari-hari tanpa dia. Jadi, nggak perlu lagi...
