Setelah El sudah menghilang dari pandangannya, Thara segera masuk ke dalam rumah. Ia edarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat tinggal dirinya sejak kecil itu. Rumah sebesar itu hanya ditinggali oleh dirinya dan papi, atau mungkin bisa dibilang hanya dirinya sendiri? Papi sangat sering pergi ke luar kota untuk bekerja, kalaupun tidak, papi selalu berangkat bekerja pagi hari dan pulang saat sudah larut malam. Terkadang Thara bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, mengapa ia bisa tahan dengan kesepian itu. Padahal dulunya saat ia masih kecil, rumah sangat ramai dengan suara kakak-kakaknya yang berisik.
"Lo udah keren bertahan sampe sekarang." Gumam Thara untuk dirinya sendiri. Kakinya kembali melangkah menuju ruang tengah, yang dimana tempat itu menjadi tempat keluarganya berkumpul. Rencananya, dari pagi sampai sore ini ia akan menghabiskan waktunya untuk bersantai, sebelum nanti malam akan ia gunakan waktunya untuk belajar. Thara lebih suka belajar di malam hari dan pagi-pagi buta, karena menurutnya waktu itulah yang sepi dan membuat dirinya fokus.
Ketika hendak menyalakan televisi, suara bel rumah berbunyi. Thara kemudian berjalan ke depan untuk membuka pintunya karena memang mba Ami sedang berbelanja ke pasar. Sedikit Thara mengintip dari jendela samping pintu untuk melihat siapakah yang datang. Dan setelah melihat orang itu, Thara pun membuka pintunya dengan lebar. "Kok tumben kesini pagi-pagi, kak?" Tanya cewek itu tanpa mempersilakan Bumi untuk masuk. Iya, laki-laki itu datang pagi-pagi seperti ini dengan kedua tangannya yang menentang banyak bawaan.
"Bokap lo bilang kalo lo di rumah sendiri, jadinya gue temenin lah." Jawab Bumi sembari menunjukkan tangannya yang penuh dengan plastik makanan. Alis Thara mengernyit bingung, dengan banyaknya makanan yang dibawa Bumi itu membuat Thara sedikit terkekeh.
"Ngapain bawa banyak makanan kaya gini?" Kembali Thara bertanya disela-sela tawanya. Bumi tidak menjawab dengan suara, melainkan tatapan mata dan senyumannya yang membuat Thara paham seketika. Segera cewek itu mempersilakan untuk Bumi masuk ke dalam. Langkah kakinya membawa mereka menuju ruang tengah yang terlihat sangat nyaman untuk bersantai.
"Mau nonton?" Kata Thara menawari cowok itu. Tentu saja tanpa berpikir panjang ia langsung mengangguk mengiyakan. Bumi siap melakukan hal apapun jika bersama Thara. Tanpa sadar Thara kembali tersenyum, bahkan ia sendiri tidak sadar telah membuka dengan lebar kesempatan untuk Bumi.
"Semalem kakak gue pulang, jadi kita begadang sambil nonton bareng deh." Gadis itu memulai topik pembicaraannya. Bumi yang sedang sibuk mengeluarkan makanan yang dibawanya pun menghentikan kegiatannya dan menoleh pada sang gadis. Sepertinya Thara tengah berbahagia, terdengar dari nada bicaranya yang sangat antusias.
"Oh, yaa? Nonton apa itu?" Tanya Bumi menyambung topik yang dimulai Thara. Bumi melanjutkan kegiatannya dengan sesekali menoleh ke arah Thara yang bercerita dengannya.
"Film action, soalnya dia suka banget film kaya gitu." Jawab Thara sembari memperhatikan Bumi yang sibuk dengan kegiatannya. Terlihat Bumi yang mengangguk-angguk, tanda bahwa dirinya mendengarkan.
"Terus kok lo di rumah sendiri?" Pertanyaan yang diucapkan Bumi seketika membuat Thara menghela nafasnya. Bumi menoleh, wajah Thara terlihat masam setelah mendengar pertanyaan darinya. Ia sedikit panik lantaran takut menyinggung perasaan Thara.
"Udah pulang, katanya mau kerja." Bibir Thara yang mengerucut setelah menjawab pertanyaan Bumi membuat laki-laki itu gemas. Perasaan panik yang baru saja menyelimuti hatinya seketika sirna begitu saja dan digantikan dengan tawa kecil. Thara yang melihat Bumi tertawa seketika kebingungan, padahal menurutnya tidak ada yang lucu disini.
"Nggak usah sambil manyun juga kali, Tha." Ujarnya sambil menggoyangkan kepala Thara dengan tangannya yang berada di dagu gadis itu. Thara berdecak lalu ikut tertawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELBITHARA
Roman pour Adolescents"Tha, kata temen-temen gue kita sedikit mirip tau. Katanya kalo pasangan terus mirip itu bakalan jodoh sih." "Mukanya emang mirip, agamanya aja yang enggak." 🌺🌺🌺 "Gue udah lupa, gue udah nyaman jalanin hari-hari tanpa dia. Jadi, nggak perlu lagi...
