Malam harinya, Thara disuguhkan dengan buku-buku yang akan ia pelajari kembali untuk mempersiapkan ulangan yang hanya tinggal besok lusa. Banyak mata pelajaran yang ia rangkum kembali dengan tujuan agar ia bisa lebih paham kembali dan ia bisa menghafalkannya besok. Memang seperti itu cara belajar Thara, menurutnya cukup efektif dan mudah diingat.
Sejak tadi ia memang matikan ponselnya, dengan tujuan agar tidak terkecoh saat dirinya tengah belajar. Ia masih belum sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, dan ia telah memulai belajarnya sejak pukul tujuh tadi. Jam yang sudah ia setting akhirnya berbunyi, Thara bisa bernafas lega lantaran cukup banyak yang telah ia pelajari malam ini.
Cukup dengan waktu belajarnya malam ini, Thara segera membereskan buku-bukunya kemudian bergegas merebahkan tubuhnya di kasur. Rasanya nyaman sekali, apalagi ia telah duduk berjam-jam tanpa beristirahat. Hal seperti itu bukan lagi hal yang tidak biasa untuk Thara, karena sedari kecil ia telah diajarkan papi untuk mengatur waktu belajarnya. Semakin besar Thara tidak memberontak, karena memang ia tau papi mau yang terbaik untuk dirinya. Saat masuk SMA dulu, Thara ditawari oleh papi untuk mengikuti les di luar, namun ia lebih suka belajar sendiri dan menambah waktu belajarnya saja. Papi setuju, asal Thara tetap bersungguh-sungguh.
Thara menyalakan ponselnya kembali. Pada saat itu pula, banyak sekali pesan yang masuk. Ada pesan yang dikirim oleh papi, kak Aksa dan yang paling banyak adalah pesan dari Bumi. Cowok itu mengirimnya sepuluh bubble chat dengan dua kali panggilan tak terjawab. Thara cepat-cepat membuka karena ia pikir itu penting. Namun ternyata salah, cowok itu hanya menanyakan dirinya yang tidak mengaktifkan ponselnya.
Baru saja Thara mengetikkan beberapa huruf disana, Bumi sudah menelpon. Thara tidak suka mengobrol saat sudah hampir larut malam seperti ini. Selain karena sudah lelah, ia rasa sangat berisik menelpon malam-malam. Thara memutuskan untuk menolak pangggilan, lalu dengan cepat ia mengetikkan beberapa pesan disana.
Thara: gue nggak mau call kak, capek
Bumi: Lo darimana? Ngilang lama banget
Thara: belajar
Bumi: Lain kali kalo mau belajar dan matiin ponselnya, jangan lupa kabarin gue dulu
Thara: dih? emang lo siapa?
Bumi: Calon pacar thaa
Thara: gue mau tidur, udah ngantuk
Lalu setelah itu ia tinggalkan room chat Bumi. Thara beralih membaca chat yang dikirim oleh kak Aksa. Kak Aksa ternyata menawari dirinya untuk ikut pemotretan bersama dengan kak Luna saat liburan semester nanti. Thara sangat excited akan hal itu tentu langsung mengiyakan tawaran kak Aksa. Dan yang lebih membuat Thara senang lagi adalah, kak Aksa telah mengizinkannya kepada papi dan papi setuju, asal tidak mengganggu belajar Thara.
Tapi tunggu sebentar, mengapa tumben sekali papi dengan mudah memberi izin? Padahal sedari dulu, papi paling tidak suka jika Thara mengikuti pemotretan. Namun Thara tidak mau memikirkan, karena yang terpenting papi sudah mengizinkan jadi ia lebih tenang.
"Apa jangan-jangan papi udah mulai luluh, ya?" Gumamnya sambil memandang langit-langit kamar dengan wajah penuh tanya. Tapi baru beberapa detik ia berkata seperti itu, ia langsung menepis pikirannya. Tidak mungkin papi mengizinkan dirinya menggeluti dunia model, pasti karena beliau tau Thara akan bosan jika di rumah saja. Karena setiap liburan semester pun jarang sekali ia liburan. Papi dan semua kakaknya yang sibuk bekerja tentu sangat jarang mengajak dirinya untuk berlibur.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELBITHARA
Teen Fiction"Tha, kata temen-temen gue kita sedikit mirip tau. Katanya kalo pasangan terus mirip itu bakalan jodoh sih." "Mukanya emang mirip, agamanya aja yang enggak." 🌺🌺🌺 "Gue udah lupa, gue udah nyaman jalanin hari-hari tanpa dia. Jadi, nggak perlu lagi...
