Setelah adegan berpelukan tadi, Bumi memutuskan untuk mengajak Thara keluar dan mencari tempat untuk menikmati waktu berdua. Keduanya berjalan beriringan keluar dari lobby dengan tangan Thara yang digandeng dengan erat oleh Bumi. Laki-laki itu tak henti-hentinya tersenyum lantaran hatinya yang terlampau bahagia. Hal itu tidak jauh berbeda dengan Thara yang sejak tadi menahan senyumannya.
"Pak Bumi ternyata pacarnya selama ini disembunyikan, ya?" Tanya seorang resepsionis yang tadi bertemu dengan Thara. Wanita yang terlihat sedikit lebih tua dari Bumi itu tersenyum menggoda ke arah Bumi dan juga Thara.
"Maksudnya?" Tanya Bumi dengan wajah bingung. Ia melihat ke arah Thara yang ternyata menghindari bertatapan dengan resepsionis itu.
"Tadi mbanya ini bilang kalo dia pac-"
"Kak, gue keburu pengen keluar nih, hehe, haus juga gue." Belum sempat sang resepsionis selesai berbicara, Thara buru-buru menyerobotnya. Ia malu kalau sampai Bumi tahu bahwa dirinya tadi mengatakan jika ia adalah pacar lelaki itu.
Bumi tersenyum menggoda ke arah Thara, wajahnya ia buat seolah menjahili cewek itu. Wajah Thara kini memerah seperti tomat, ia mengalihkan pandangannya agar Bumi tidak melihatnya. Ya Tuhan! Kenapa resepsionis itu malah membongkar rahasianya? Thara malu bukan main sekarang.
"Ya sudah, saya sama pacar saya pergi dulu." Pamit Bumi kepada resepsionis itu dengan menekan kata pacar dan melihat Thara yang masih memalingkan wajahnya. Thara berjalan lebih dulu menghindari Bumi yang akan menggoda dirinya. Sial, ia menyesal telah berbohong tadi.
Sembari tertawa pelan, Bumi mulai menyamakan langkahnya dengan langkah kaki Thara. Cowok itu masih setia tersenyum jahil dengen sesekali menyenggol pelan bahu Thara. Sebisa mungkin Thara mengabaikannya karena rasa malunya yang sudah di ujung tanduk itu. Namun bukan Bumi jika mau berhenti begitu saja. Laki-laki itu kini memaksa Thara untuk menolehlan kepala ke arahnya. Dilihatnya wajah memerah itu yang begitu lucu di matanya.
"Lo se-pengen itu buat jadi pacar gue ya, Tha?" Tanyanya dengan jahil. Bumi rasanya ingin tertawa kencang karena ekspresi wajah Thara yang begitu tertekan.
Thara menepis tangan Bumi yang berada di dagunya. Ingin rasanya ia menutupi wajah tengil Bumi dengan karung sekarang juga.
"Biar bisa ketemu aja sama lo, kalo nggak bilang gitu kebanyakan tanya dia, ogah gue." Elaknya berusaha membela diri.
"Berarti udah ngebet banget ketemu gue, ya?" Lagi-lagi Bumi menggoda gadis itu.
"Kak, lo kalo kaya gini gue beneran balik sendiri nih." Ancam Thara tidak main-main. Ia malu, benar-benar malu apalagi Bumi yang terus menggoda dan menjahilinya ini. Thara begitu geram hingga membuatnya ingin mencakar wajah menyebalkan Bumi itu.
Bumi memilih tidak melanjutkan aksi jahilnya itu, walaupun sebenarnya ia sangat menyukai wajah Thara yang terlihat salah tingkah. Mengalah, Bumi menggenggam tangan Thara dan membawanya menuju motornya yang terparkir. Keduanya sama-sama diam sampai akhirnya Bumi menyadari sesuatu. Ia hanya membawa satu helm lantaran hari ini ia tidak menjemput dan mengantar Thara sesuai permintaan gadis itu.
"Gue cuma bawa helm satu lagi, Tha." Ucap Bumi.
"Gue nggak usah pake aja kak, lagian gue ngebonceng." Balas gadis itu dengan santai. Tentu hal itu tidak disetujui oleh Bumi. Keselamatan Thara adalah yang paling penting, jadi bagaimanapun caranya ia harus tetap mengenakan helm. Sejenak Bumi berpikir, ia ingat bahwa di dekat kantornya ada penjual helm yang dikenalnya. Ia memutuskan untuk mengajak Thara untuk membeli helm terlebih dahulu sebelum mengajak gadis itu pergi ke suatu tempat.
"Di depan ada toko helm, kita beli dulu, ya?" Ajak Bumi pada gadis itu.
"Helm lo nanti jadi numpuk banyak kak, sayang kalo nggak kepake."
KAMU SEDANG MEMBACA
ELBITHARA
Teen Fiction"Tha, kata temen-temen gue kita sedikit mirip tau. Katanya kalo pasangan terus mirip itu bakalan jodoh sih." "Mukanya emang mirip, agamanya aja yang enggak." 🌺🌺🌺 "Gue udah lupa, gue udah nyaman jalanin hari-hari tanpa dia. Jadi, nggak perlu lagi...
