30. Kecewa?

10 0 0
                                        

"Nggak usah, kak, gue dianter sama papi." Ucap Thara dengan seseorang yang berada di telepon. Seseorang yang tidak lain adalah Bumi itu berencana menjemput dirinya dan mengantarnya ke sekolah. Namun, karena papi sudah lebih dulu mengatakan bahwa akan mengantar dirinya pagi ini, Thara tentu menolak tawaran baik dari Bumi.

Tentunya Bumi tidak akan memaksa, ia biarkan Thara berangkat bersama ayahnya dan dirinya akan berangkat ke sekolah sendirian nanti. Hari ini adalah hari pertama classmeeting, Bumi memang diminta datang ke sekolah untuk menjadi wasit dalam pertandingan futsal antar kelas nanti. Dengan senang hati Bumi menyetujuinya, lagipula jika ia datang ke sekolah akan bertemu dengan Thara. Itu yang menjadi alasan utamanya sekarang ini.

"Siapa, Tha?" Tanya papi ketika Thara telah selesai berbincang melalui telepon. Mereka tengah sarapan bersama di meja makan. Tidak seperti pagi hari pada biasanya, pagi ini Thara sengaja membuat sarapan untuk dirinya dan papi. Memang sarapan yang ia buat tidaklah istimewa, tetapi papi telah memberinya apresiasi. Sempat papi mengatakan padanya untuk menghentikan kegiatannya membuat sandwich itu dan meminta ART di rumahnya untuk melanjutkan, tapi Thara menolak. Ia katakan pada sang papi jika ia harus memanfaatkan kesempatan selagi papi masih libur. Baru setelah itu papi mengizinkannya meskipun dengan sedikit berat hati.

"Kak Bumi, pi. Mau ngajak berangkat bareng, tapi aku bilang mau berangkat sama papi aja." Jawab Thara sembari memakan sandwich buatannya tadi.

"Nanti pulangnya sama dia juga nggak apa-apa." Kata papi memberi saran yang kemudian mendapat tolakan dari Thara. Siang nanti Bumi pasti akan pulang lebih cepat dari dirinya. Apalagi siang nanti adalah hari terakhir dirinya untuk berlatih bersama Samuel sebelum besok akan menampilkan bakatnya.

"Papi nanti nggak sibuk, kan? Aku mau dijemput sama papi aja, sekalian jalan sore bareng."

Dengan senyum yang lebar, papi mengangguk menyetujui permintaan sang anak. Andai saja semua ini bisa papi lakukan setiap hari, pasti papi akan melakukannya untuk anak perempuannya itu. Namun mau bagaimana lagi, kesibukan yang selalu menghantui papi hingga menjadi penghalang semuanya.

"Dengan senang hati, tuan puteri." Balas papi hingga membuat Thara tertawa geli. Dengan perlakuan yang dilakukan papi sejak kemarin, ia menjadi lupa dengan kekecewaannya pada papi beberapa hari yang lalu. Bahkan rencananya untuk membahas perihal El seketika lupa begitu saja.

"Oh iya, papi sampai lupa mau tanya. Gimana sama ulangannya kemarin? Susah nggak?"

"Susah, tapi Thara udah usaha sih, semoga aja nilainya bagus." Jawab Thara penuh harap.

"Kalau masuk 3 besar lagi, nanti papi kasih hadiah. Dan kalau bisa dapet peringkat pertama, papi janji akan turutin semua kemauan kamu, tanpa terkecuali." Ujar papi dengan yakin. Mendengar ucapan seperti itu membuat wajah Thara semakin terlihat berseri-seri. Dijanjikan hal seperti itu oleh sang ayah tentu membuat semangat Thara semakin tinggi. Tapi tunggu sebentar,

"Kalo buat peringkat pertama Thara agak nggak yakin, secara saingannya berat banget."

"Memang siapa yang biasanya di peringkat pertama?" Tanya papi lantaran tidak tahu. Beberapa kali mengambil hasil nilai milik Thara, beliau tidaklah tahu siapakah yang duduk di peringkat pertama di kelas Thara. Bahkan terkadang beliau tidak bertanya berada di nomor berapakah nilai Thara kecuali jika memang Thara sendiri yang memberi tahu.

"Kak Bara."

Jawaban yang keluar dari mulut Thara itu sukses membuat papi terdiam begitu saja. Raut wajahnya terlihat sangat berbeda dengan tadi sebelum Thara menjawab pertanyaannya. Papi sendiri tidak menyangka bahwa yang berada di peringkat pertama itu adalah Bara. Papi mengenal Bara? Tentu saja.

ELBITHARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang