Thara melupakan sesuatu! Iya, dia belum sempat memberikan kado yang telah dibelinya dengan El kepada papi. Banyak hal yang membuat dirinya sibuk sampai-sampai ia melupakan hal itu. Bukan hanya itu, karena papi ada pekerjaan di luar kota tepat saat hari ulang tahunnya, Thara pun hanya bisa memberi ucapan lewat chat saja. Bukan hal yang tidak biasa lagi, karena memang setiap papi berulang tahun, beliau selalu tidak ada di rumah. Dulu, saat mami masih ada, keluarga Thara selalu merayakan ulang tahun bersama tiap tahunnya, tanpa terlewatkan satupun. Namun semua itu berubah semenjak mami pergi.
Thara segera mengambil kado itu dari laci meja belajarnya. Papi masih ada di rumah, dan kebetulan tengah bersantai di belakang rumah. Ia begitu tidak sabar melihat reaksi papi nanti, meskipun kado itu bukan dibeli dengan uangnya. Kali ini Thara akan berbohong, ia tidak akan bilang bahwa yang membelikan kado itu adalah El, karena ia takut akan ditolak oleh papi. Kalau-kalau nantinya El bertanya, ia akan menjawab dengan kebohongan juga. Thara tidak mau membuat kakaknya itu sakit hati.
"Papi?" Panggil Thara ketika melihat sang ayah yang tengah duduk bersantai sembari mengopi dan memakan cemilan. Papi menoleh ketika Thara memanggilnya, beliau tersenyum ketika melihatnya tengah berlari kecil.
Thara menyembunyikan tangannya yang membawa kado untuk papi itu. Senyumnya ia buat dengan riang seolah-olah meminta papi untuk menebak sesuatu yang dibawanya. Terlihat mata papi yang memicing ketika Thara telah berdiri di hadapannya. "Bawa apa itu?" Papi bertanya dengan nada penasaran.
"Kado buat papi!" Ujar Thara sembari menunjukkan kado yang dibawanya. Papi tersenyum senang, ia terima pemberian dari Thara dan meminta gadis itu untuk ikut duduk bersama. Tidak lupa papi mengucapkan terimakasih dan juga memberikan kecupan manis pada kening Thara.
"Papi buka sekarang, boleh?"
Dengan anggukan semangat Thara menjawab pertanyaan sang ayah. Ia tampak begitu memperhatikan papi yang tengah membuka kadonya itu. Sesaat setelah bungkus kado dibuka, papi kemudian kembali menoleh ke arahnya dan tersenyum hangat. Tangan papi tergerak untuk mengusap rambut Thara dengan begitu perhatian.
"Nggak mahal kaya jam tangan papi yang lain sih, tapi semoga papi suka, ya?" Kata Thara saat papi tengah mengusap rambutnya.
"Suka bangett pastinya, ini bakalan jadi jam tangan favorit papi sih." Ujar papi sembari tersenyum lebar melihat pemberian anak gadisnya itu. Tidak sabar ingin mencoba, papi melepas jam tangan lamanya kemudian segera memakai jam tangan baru pemberian Thara. Baik papi maupun Thara saling bertatapan dan menyunggingkan senyumnya. Thara merasa sangat bahagia melihat papi yang menyukai jam tangannya.
"Cocok banget!" Ucap Thara dengan girang.
"Kayaknya mau papi bawa tidur juga deh, soalnya ini terlalu berharga." Kalimat yang dilontarkan oleh papi membuat Thara tertawa. Ia menggelengkan kepalanya pelan lalu menghambur ke dalam pelukan sang ayah.
"Thara sayaaanggg banget sama papi."
"Kalo udah jadi pacarnya Bumi sayangnya jadi terbagi dong?" Tanya papi dengan raut wajahnya yang dibuat seolah-olah sangat sedih. Dalam pelukan hangat papi, Thara menggeleng dengan cepat. Tentu ia tidak setuju dengan pertanyaan papi itu.
"Nggak dong! Papi tetep nomor satu di hati aku. Lagian, siapa juga yang pacaran sama Bumi."
"Loh, barusan papi dikasih tau kalo kalian udah pacaran." Papi tidak bohong mengatakan itu, karena memang tadi Bumi sempat memberi pesan kepada papi. Cowok itu mengatakan bahwa ia dan Thara sudah memiliki hubungan.
Thara berdecak pelan, selalu saja Bumi mengatakan apa yang sebenarnya tidak terjadi. Mereka belum pacaran saja Bumi sudah mengaku pacaran, apalagi kalau suatu saat mereka benar-benar berpacaran? Bisa jadi laki-laki itu mengaku sebagai calon suami Thara.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELBITHARA
Teen Fiction"Tha, kata temen-temen gue kita sedikit mirip tau. Katanya kalo pasangan terus mirip itu bakalan jodoh sih." "Mukanya emang mirip, agamanya aja yang enggak." 🌺🌺🌺 "Gue udah lupa, gue udah nyaman jalanin hari-hari tanpa dia. Jadi, nggak perlu lagi...
