Our beloved Jeje
Setiap hal akan berubah seiring dengan berjalannya waktu. Entah itu lingkungan sekitar maupun manusia itu sendiri. Ada yang menjadi lebih baik ada pula yang sebaliknya. Tergantung bagaimana manusia menyikapi dan memposisikan dirinya.
Terhitung sudah hampir dua tahun sejak Jeffrey mulai memasuki jenjang perguruan tinggi. Terhitung hampir dua tahun terakhir rumah besar itu terasa berubah sedikit demi sedikit.
Yang tadinya ramai menjadi sedikit sunyi. Yang tadinya selalu berkumpul saat malam menonton film Cars lagi dan lagi sekarang pasti langsung masuk ke kamar masing-masing untuk segera beristirahat setelah lelah melakukan banyak aktivitas seharian.
Tak ada yang bisa diharapkan untuk bisa selalu konstan, tetap tanpa perubahan. Seharusnya semua juga tau itu dan mulai menyiapkan diri untuk setiap perubahan yang terjadi.
Hampir dua tahun dan Nathan adalah satu-satunya yang masih sama disini. Sedikit lebih dewasa memang tapi tetap saja ada bagian dari dirinya yang tak dapat berubah. Cintanya pada Jeje contohnya.
Ditinggal sibuk oleh orang tua dan kakaknya membuat Nathan mencoba tumbuh dan berkembang sendiri. Pelan-pelan mulai merangkak tanpa harus menggenggam tangan orang lain.
Karena kini Nathan sadar hanya dirinya yang dapat dia andalkan, bukan orang lain. Bukan Papa, Mama atau bahkan Jeff yang kini jarang pulang dan lebih memilih mendekam di apartemennya.
Nathan mendesah saat menyadari waktu membawa pergi masa-masa kecilnya yang indah. Kini dia enam belas tahun, sudah masuk di akhir tahun pertama sekolah menengah atas tapi tetap menginginkan bermain bebas seperti saat kecil dulu.
Kadang jika sudah begini Nathan ingin menjadi Jeje saja. Tidak perlu sekolah, tidak perlu mengerjakan tugas dan ujian-ujian, hanya menggonggong, berguling-guling dan dapat makanan. Huft.
Ah ngomong-ngomong soal Jeje kemana anak kesayangannya itu?? Sejak pulang sekolah tadi sampai malam menjelang Nathan sama sekali belum melihatnya.
Nathan melepas pulpen di tangannya dan mulai bangkit mencari sosok teman dekatnya itu.
"Jeje!! Sayang!"
Dia melangkah menuruni tangga dan sepi adalah yang dia temui. Tenang saja Nathan sekarang sudah cukup terbiasa.
Papa dan Mama sedang ke Bogor untuk apalah itu Nathan tidak peduli dan Jeff yang lagi-lagi mengurung diri di apartemennya sendiri, katanya lebih dekat dengan kampusnya.
Nathan tidak paham dulu dia senang Jeff tidak kemana-mana dan tetap berkuliah disini tapi sekarang Nathan merasa bingung, apa bedanya Jeff berkuliah disini atau di luar jika pulang ke rumah saja jarang-jarang??
Oke baiklah. Jeff sudah masuk semester empat dimana itu sedang sibuk-sibuknya belum lagi Nathan tau kakaknya itu aktif sekali mengikuti kegiatan organisasi yang apalah itu namanya. Baik, Nathan mencoba mengerti.
"Jeje"
Langkah kaki Nathan sampai pada dapur setelah tadi mengelilingi ruang keluarga dan ruang tamu.
Dia menunduk menatap pada bawah meja makan dan menemukan Jeje disana membuat senyumnya terbit.
"Ah disini rupanya. Kemari sayang" katanya dengan tangan terulur ke arah Jeje.
"Je??"
Nathan mengernyit saat Jeje hanya bergeming menatapnya kuyu tanpa mau bergerak meraih tangannya seperti biasa.
"Jeje!"
Dengan cepat Nathan menyingkirkan kursi di depannya dan turut masuk ke bawah meja makan besar itu dan menarik Jeje keluar dan masuk dalam pelukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nathaniel ✓
FanfictionBagi Nathan keluarganya itu merepotkan tapi sayang sekali dalam hatinya Nathan juga ingin mengakui bahwa dia sangat sangat menyayangi mereka. Spin-off Wirasaksena
