Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jungwon masuk ke kelasnya dengan lesu. Hari ini, dia merasa tak enak badan. Semalam, dia menggigil karena kedinginan.
Tadinya, Heeseung melarang untuk pergi sekolah. Tapi karena takut dimarahi sang bunda, jadinya Jungwon memaksakan diri.
Sesampainya di tempat duduk, Jungwon menidurkan kepala. Entah mengapa rasanya begitu berat, ditambah terasa pusing.
Jungwon itu tipe orang yang jarang sakit, tapi sekalinya sakit terasa parah. Namun, Jungwon tidak mau terlihat lemah. Dia akan berusaha menahan sakitnya.
Setelah mengangkat kembali kepalanya, Jungwon melihat sekeliling. Teman-teman kelasnya sedang asik bercengkerama, dan hanya dia saja yang terdiam.
“Andai saja Riki sekelas denganku, aku mungkin tak akan merasa kesepian seperti ini,” batin Jungwon. Beberapa saat kemudian, kepalanya menoleh ke luar kelas, dan di luar sana Riki melambaikan tangan sambil tersenyum.
Jungwon beranjak dari kursi, lalu pergi menemui Riki secepatnya.
“Ayo ikut denganku.”
“Kemana?”
“Ikut saja.” Riki berjalan lebih dulu, dan Jungwon mengikutinya dari belakang. Saat Jungwon hendak bertanya, Riki segera melarangnya.
Setelah beberapa menit mengikuti kemana Riki pergi, Jungwon menekuk alisnya karena temannya itu membawa dia ke ruang kesehatan.
“Kenapa ke sini?” tanya Jungwon.
“Kau sakit, 'kan?”
“Bagaimana kau tahu?”
Riki menunjuk wajah Jungwon.
“Wajahmu yang memberitahu. Sebaiknya segera minum obat agar tidak semakin parah. Ayo masuk.” Riki membuka pintu ruang kesehatan, lalu mereka berdua masuk ke dalam.
“Keluhanmu apa saja?” tanya Riki seraya mendekati lemari obat.
“Semalam, aku menggigil kedinginan. Kepalaku juga pusing, dan tubuhku rasanya lemas sekali,” ungkap Jungwon yang berdiri di tengah ruangan sambil memperhatikan Riki.
“Ah, oke.” Riki mengambil satu obat. “Ini, minumlah obat ini.” Riki menghampiri Jungwon, kemudian menyodorkan sebuah obat.
“Kau yakin ini obat yang benar?” tanya Jungwon; merasa ragu.
“Tentu. Kenapa? Takut salah? Tenang saja, aku sudah ahli dalam obat-obatan. Ibuku seorang apoteker.”
“Benarkah?”
Riki mengangguk.
“Sudah sarapan belum?” tanya Riki kemudian.
“Sudah.”
“Kalo begitu minumlah obat ini sekarang. Semoga cepat sembuh, Jungwon-ah.”