Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jungwon membuka mata setelah beberapa lama tertidur. Dia tak bisa melihat sekitar dengan jelas karena minimnya cahaya. Sekarang ini, dia masih terkurung di gudang. Bundanya sama sekali belum membuka kunci.
Jungwon memegangi perutnya. Dia lapar; sangat lapar. Dari tadi pagi, dia belum makan sama sekali.
“Heeseung hyung ...”
Jungwon memanggil kakaknya dengan suara pelan. Tak terhitung berapa kali dia memanggil Heeseung, yang jelas dia sudah sering memanggilnya selama terkurung di gudang. Tidak ada yang bisa dimintai pertolongan olehnya selain pada Heeseung. Di rumah ini, hanya Heeseung yang begitu peduli padanya. Namun, sampai saat ini, kakak tertuanya itu tak kunjung membuka pintu.
“Heeseung hyung ... tolong aku ... aku lapar.”
Jungwon kembali memanggil. Kedua kakinya semakin di tekuk. Tangan kanannya masih terasa sakit karena diinjak sang bunda tadi.
Jungwon menyandarkan kepalanya ke pintu.
“Ayah ... tak bisakah kau membantuku? Aku kesakitan.”
“Kenapa bunda selalu bersikap tak baik padaku? Aku tak mencuri sama sekali. Itu adalah uang hasil kerjaku. Lagi-lagi, Sunoo hyung membuatku dituduh bunda,” ujar Jungwon; mengadu pada ayahnya.
“Aku ingin tahu, kenapa bunda terlihat sangat membenciku? Apakah aku membuat kesalahan di masa lalu? Tapi, aku rasa selama ini aku selalu bersikap baik. Aku selalu berusaha menghindari masalah agar bunda tak marah,” lanjut Jungwon. Lagi-lagi air matanya membendung di pelupuk.
Cklek
Cklek
Jungwon segera menyingkir dari pintu setelah mendengar suara kunci yang dibuka. Tak lama setelahnya, seseorang membuka pintu.
“Jungwon-ah.”
Heeseung langsung memeluk Jungwon setelah berhasil membuka pintu. Jungwon yang sangat menantikan kedatangannya pun membalas pelukan. Dia ... menangis tanpa suara dalam dekapan kakaknya.
“Maaf. Hyung minta maaf karena tak bisa menolongmu tadi,” ucap Heeseung tanpa melepas pelukan. Dia tahu bahwa Jungwon sedang menangis. Sebab, dia merasa ada sesuatu yang membasahi bahunya.
“Hyung ... aku menantikanmu ...” ungkap Jungwon sambil menangis. “Di sini sangat menakutkan,” tambahnya lagi.
Heeseung menyudahi pelukannya, kemudian kedua tangannya bergerak menyeka air mata Jungwon.
“Hyung sudah datang, jangan menangis. Tak perlu merasa takut lagi. Kau sudah bisa keluar dari sini,” ujar Heeseung. Sesaat kemudian, dia membawa Jungwon keluar dari gudang. Mereka berdua mendatangi meja makan.
Heeseung menarik kursi, lalu menyuruh Jungwon duduk. Sesudah Jungwon duduk, dia mengambil gelas dan menuangkan air putih sebelum diberikan pada sang adik.